Ahli Gizi Bantu Monitoring Pelaksanaan PMBA (Pemberian Makanan Bayi & Anak) di Pengungsian Semeru

LUMAJANG - analisapost.com | Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Ahli Gizi (DPD PERSAGI) Jawa Timur menerjunkan personilnya untuk melakukan monitoring evaluasi kegiatan Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA) di lokasi pengungsian. Salah satu yang diberi amanah adalah Nono Tri Nugroho, S.Gz. beserta tim.

Foto : Jadid

Personil yang juga menjadi Relawan Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) dan akrab dipanggil Pak Nono diterjunkan untuk memberikan kontribusinya bagi penanganan pasca bencana erupsi Semeru dan sudah beberapa hari terjun ke lokasi pengungsian, standby di Posko Balai Desa Penanggal Kec Candipuro, Lumajang.


Sesuai dengan kompetensi dan kapasitasnya, ahli gizi tersebut melakukan asesmen dan pengawasan serta dampingan untuk pemberian makanan khususnya kepada bayi dan anak agar supaya angka kecukupan gizinya terpenuhi. Hal ini sangat penting dikarenakan anak sangat membutuhkan asupan yang cukup untuk pertumbuhannya, apalagi pada kondisi bencana dimana mereka membutuhkan energi ekstra untuk pemulihan fisik dan psikisnya.


Biasanya dalam penangan kebencanaan dalam jumlah terdampak yang cukup besar (ribuan), perhatian pada hal khusus seperti kebutuhan bayi dan anak, kurang dan luput dari perhatian. Disiniah pentingnya kehadiran relawan ahli gizi dalam mengcover urusan tersebut.


Tidak hanya pada anak, pada orang-orang dewasapun juga membutukan asesmen dan dampingan dalam hal pemenuhan kebutuhan dan kecukupan gizi mereka. Jangan sampai dalam penyediaan makanan bagi pengungsi 3x sehari hanya memenuhi kepantasan dan mengobati rasa lapar semata.

Foto : Jadid

Angka Kecukupan Gizi (AKG) harus diperhatikan dengan seksama. Daftar siklus menu pun hendaknya dibuat untuk memastikan nilai gizinya cukup serta memberikan variasi penyajian menu sehingga mereka bisa menikmati makanan dengan baik dan tidak bosan. Dari sisi pemberian makanan balita dan anak, belum ada komunikasi yang massif sehingga banyak pengungsi yang mempunyai bayi/anak tidak tahu adanya fasilitas tersebut.


Untuk penangan pengungsi di Kecamatan Pasirian sudah berlangsung PMBA dengan rencana siklus menu 5 hari. “Pemanfaatan sayur dan buah masih belum maksimal karena mungkin ada kendala komunikasi sehingga dikhawatirkan pengungsi akan kekurangan Vitamin, mineral dan serat.” ujar Pak Nono.


Dari pengamatan Pak Nono, ada beberapa masukan dan catatan terhadap urusan permakanan tersebut. Kepedulian segenap elemen masyarakat Indonesia terhadap korban bencana erupsi Semeru telah memicu derasnya aliran bantuan terutama logistik ke Lumajang, khususnya ke posko pengungsian. Banyaknya bantuan tersebut menyebabakan kendala dalam proses penyimpanan, alur distribusi dan juga pengelolaannya. “Dibutuhkan manajemen yang bagus dalam pengelolaan logistik permakanan, serta asesmen dan dampingan profesional bidang gizi sehingga pemenuhan kebutuhan para pengungsi dapat terjamin dan berjalan lancar.” pungkas Pak Nono.

Foto : Jadid

Masukan ini segera dikomunikasikan dengan pihak terkait, sehingga manajemen atau pengelolaan logistikk hususnya permakanan dapat lebih tertata rapi, ketercukupan nilai gizi bagi para pengungsi lebih terjamin. Diharapakan kebutuhan makanan sehat terpenuhi sehingga kondisi kesehatan mereka beranngsur-angsut pulih dan dapat segera memepersiapkan diri beraktifitas menuju rocovery pasca bencana.(RJ)

4.240 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua