Aku Memberikan Hidup Kekal Kepada Mereka

Diperbarui: 6 hari yang lalu


(Ruang Hening Refleksi Atas Keselamatan Hidup Abadi)

Editor : Redaksi

1. Anak-anak Nelayan


Perahu nelayan meluncur dengan pelan menuju ke tengah lautan. Ombak datang bergelombang menyusul ombak. Riuh rendah angin laut menyapa daun kelapa. Kelapa tua jatuh ke pasar putih, menggelinding, berhenti di batu karang sebelahnya.


Nyiur melambai mengiringi anak-anak nelayan yang berenang di samping perahu. Setelah mereka minum air kelapa tua. Mereka mengikuti seorang nelayan tua dengan kulit legam wajah merah kehitam-hitaman. Setelah di rasa, perahu hampir menjauh ke lautan, anak-anak naik ke perahu.

Dari kejauhan lautan, tampak ikan lumba-lumba naik turun di permukaan gelombang, lembut mengayun. Anak-anak semakin riang melihatnya. Mereka lalu menceburkan diri lagi, berlomba dengan perahu, berenang dengan laju, kea rah lumba-lumba.

Nelayan perahu itu tersenyum melihat mereka yang berkejaran menuju lumba-lumba menari timbul tenggelam. Layar perahu dikembang. Angin mengarah ke lautan. Perahu itu menyela, dan kuat melaju di antara anak-anak yang berenang.


Lumba-lumba telah menjauh ke tengah samudera. Anak-anak tak kuasa mengejarnya, meski dengan sekuat tenaga. Mereka kembali naik ke perahu. Tertawa terbahak-bahak begitu gembiranya.


Nelayan itu pun ikut gembira. Suasana kegembiraan bersama anak-anak. Ia membagikan perbekalan yang dibawanya meski tak banyak. Ia melihat wajah anak-anak merasakan haus dan lapar. Ia sendiri tidak makan supaya cukup bagi mereka.



2. Aku Memberikan Hidup kekal Kepada Mereka


Tahun C/II. Hari Minggu Paskah I. Warna Putih. Kisah Para Rasul 5:27-32.40b-41. Mazmur 100:2.3.5. Wahyu 7:9.14b-17; Yohanes 10:27-30


Domba-domba itu taat kepada gembalanya. Domba-domba itu setia mendengarkan gembalanya. Sekaligus, domba-domba itu memiliki daya kekuatan untuk mendengarkan gembalanya. Ia takkan pernah mau mengikuti orang lain. mengapa? Karena gembala selalu berada di dekatnya, memberikan makan dan minum. Gembala melakukan itu setiap hari dan memberi dari tangannya sendiri.


Tuhan Yesus Kristus bersabda: Aku memberikan hidup yang kekal kepada domba-domba-Ku.

Mereka yang benar-benar domba Kristus akan mendengarkan suara Yesus. Yesus mengenal mereka. domba-domba mengikuti Yesus. Yesus memberikan kehidupan yang kekal kepada mereka. Mereka hidup selamanya. Mereka akan selalu bersama dengan Yesus Kristus. Allah Bapa yang memberikan domba-domba Kristus kepadaNya. Allah Bapa dan Allah Putera, yaitu Yesus Kristus adalah satu.

Tuhan Yesus yang memberi mereka makan dengan roti, ikan, dan memberikan banyak hasil penangkapan ikan dengan bekerjasama dengan usaha mereka. Setelah itu, Tuhan Yesus memerintahkan mereka untuk menggembalakan domba-dombaNya. Para Rasul Kristus diberi tugas baru untuk menjala manusia.


Tuhan Yesus Kristus bersabda: Aku memberikan hidup yang kekal kepada domba-domba-Ku.

Domba-domba hidup kekal, karena cinta kasih Yesus Kristus, utusan Bapa. Para Rasul Kristus mendapatkan warisan Kristus, dan sekaligus mendapatkan tugas baru untuk terus menerus mengasihi, supaya mengalami kehidupan yang kekal.

Gereja mendengarkan suara Yesus, Sang Guru, Tuhan, dan Gembala yang sejati. Ia sendiri memberikan makanan dan minuman dengan Tubuh dan Darah-Nya. Ia selalu mendengarkan suara umatNya. Gereja mengundang umat. Gereja mengajak umat berdoa, mendengarkan Sabda Tuhan, dan menyantab Tubuh Kristus.


Ekaristi menjadi sumber kekuatan hidup rohani kita. daya kekuatan hidup rohani itu pun terjadi dalam kehidupan doa kita sehari-hari. Setiap orang yang berdoa dan mendengarkan Sabda Tuhan Yesus akan mengalami pertumbuhan iman.


3. Berjalan Bersama Menuju Gereja Paroki Santo Stefanus


Hari Minggu Panggilan, pada 08 Mei 2022. Gereja merayakan sebagai Minggu Panggilan. Yesus Gembala Utama memperhatikan domba-domba sebagai kawanan penuh cinta kasih. Keselamatan tetap terbuka pada orang lain. Allah Bapa mengutus Yesus, Putera Allah, dengan cinta. Roh Kudus menaungi setiap orang dengan kebenaran iman.


Setiap orang yang berbuat baik, benar, dan demi kesejahteraan bersama, maka ia hidup di dalam percikan cinta kasih Roh Kudus. Setiap orang beriman, setiap beragama, setiap keyakinan diundang kepada Sang Kristus, Sumber Kebenaran, dan setiap agama atau keyakinan juga memiliki percikan kebenaran yang mengarah kepada Sang Kebenaran Ilahi itu.


Moderasi menjadi proses sikap, tindakan, dan pergaulan lintas perbedaan, menuju pintu toleransi kehidupan. Iman Katolik sangat menghormati martabat setiap pribadi orang. Iman Katolik juga sangat menghormati ajaran cinta kasih dan wujud kebersamaan dalam iman, keyakinan, dan agama yang beragam di tanah air Indonesia ini. Kita semua dipanggil merayakan perbedaan dengan kemerdekaan sebagai anak-anak Allah.


Hidup Bersama. Kita pernah mendengar nenek moyang dan leluhur kita kita berjuang bersama. Sehati seperasaan bersama. Memperjuangkan sebagai manusia-manusia merdeka. Lalu merdeka sebagai bangsa yang hidup bersama. Kesepakatan terjadi. Keharmonisan tercipta. Para pemuda bertekad SATU. Satu darah dan satu tanah air. Satu bangsa. Satu bahasa. Semangat hidup bersama yang harus didengungkan Kemerdekaan RI, NKRI, UUD 1945, dan Pancasila.


Undangan Gereja Santo Stefanus Surabaya. Minggu, 08 Mei 2022. Tema: Moderasi Hidup Beragama. Sambutan oleh GusWo, Romo Skolastikus Agus Wibowo (Pastor Kevikepan Surabaya Barat), Pdt. Andri Purnawan, MTS (GKI), Bapak Filipus Herman (Ketua Persaudaraan Pencinta NKRI). Mas Purba (Patriot Garuda Nusantara), Bapak Suko (Dosen Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya). Moderator acara sarasehan Moderasi Hidup Beragama ini, yaitu Romo Siga.


Semoga acara ini berlangsung dengan baik. Sehingga, kita semakin dikuatkan di dalam kebersamaan di dalam keberagaman. Kita satu di Negeri Indonesia tercinta.

*) Penulis adalah seorang Romo Timotheus Siga

531 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua