Berjuang Menuju Zona Hijau dan Mencegah Lonjakan Ketiga Covid-19

Surabaya, Analisa Post | Mengisi masa rehat dan relaksasi Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI), para relawan pendamping yang tergabung dalam Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 (PPKPC) kembali menyelenggarakan webinar bertajuk “Berjuang menuju zona hijau dan mencegah lonjakan ketiga covid-19”yang ditujukan untuk peningkatan kapasitas para relawan RSLI sekaligus sosialisasi bagi masyarakat. Acara pada Minggu 3 Oktober 2021 yang berlangsung selama 2 jam lebih, dimulai tepat pukul 19.00 WIB. dibuka oleh Sita Pramesthi, S.Si. relawan pendamping PPKPC-RSLI dan diikuti lebih dari 208 orang peserta baik dari kalangan tenaga kesehatan, relawan covid-19, Pendekar Biru, Guru, bunda PAUD dan para alumni/penyintas covid-19 serta masyarakat umum lainnya.

Foto : Jadid (Pembawa acara: Sita Prameshi, S.Si.)

Sita menjelaskan bahwa ini merupakan webinar ke-4 yang diselenggarakan relawan secara berkala sebagai bagian dari upaya edukasi, update dan sharing terbaru mengenai covid-19 dari sumber yang kompeten, sehingga pemahaman dan kesiapan masyarakat semakin baik dan tangguh dalam menghadapi dan menyelesaikan covid-19.


Isi dan jalannya webinar bisa dilihat dan diikuti di link youtube berikut: https://youtu.be/pBmTZTnTiag. Webinar dimoderatori oleh dr. Fauqa Arinil Aulia, Sp.PK.,yang merupakan DPJP di RSLI dan menghadirkan dua nara sumber, yaitu Dr. Windhu Purnomo, dr., M.S. (Pakar Epidemiologi UNAIR) dan Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,SpA(K) (Spesialis Anak, Pakar Vaksin). Dr. Windhu menyampaikan materi pertama tentang PTM dan bagaimana melaksanakan perilaku yang tepat untuk menghadapi perkembangan covid-19.


Saat ini di Indonesia kondisi covid-19 dari angka kejadian sudah menurun. Namun kita tidak boleh lengah karena angka kematian di Idonesia masih tinggi. Penularan juga bisa terjadi di anak-anak. Bahwa anak-anak lebih aman dalam resiko kematian, namun dalam hal penularan sama saja dengan orang dewasa.


Untuk itu potensi penularan pada anak tetap harus diperhatikan. Karena pergerakan virus itu linier dengan pergerakan manusia, maka perlu diwaspadai sebab inang virus adalah manusia itu sendiri. Kita sempat mengalami serangan cukup tinggi pada gelombang kedua yang 94 persen berasal dari varian Delta.


Sekarang kita menghadapai kondisi landai dengan baik yakni dengan memperbaiki prilaku keluarga di rumah, disekolah sendiri, karena tidak hanya anak didik saja, tapi juga keluarga di rumah dan tenaga pendidik, karena lebih beresiko pada keluarga di rumah dan keluarga pendidik. Dr.Windhu memberikan saran supaya ada penilaian dan assesment secara rinci apakan sekolah sudah siap terhadap pelaksanaan PTM, dan dilakukan upaya lebih kesiapan gurunya, sarana prasarana, edukasi, dan tidak kalah penting adalah pemantauan rutin/harian terhadap faktor resiko, dan surveilans (tracing dan testing) terhadap siswa/keluarganya yang sakit. Seluruh sekolah segera menggunakan aplikasi Peduli-Lindungi, sehingga nanti memakai QR Code dan yang terdeteksi hitam(sakit) maupun merah (belum vaksin) untuk tidak mengikuti PTM.

Foto : Jadid (Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,SpA(K) (Spesialis Anak, Pakar Vaksin). dan Moderator : dr. Fauqa Arinil Aulia, Sp.PK. (jilbab Coklat Muda)

Mengenai kondisi yang sudah landai ini apakah karena jumlah orang yang di vaksinasi sudah banyak atau karena virulensi virus yang menurun dan mereda, Dr.Windu menyatakan bahwa faktornya tidak hanya satu. Pemerintah sudah on the track dalam mengendalikan pandemi. Testing juni-juli jauh lebih tinggi. Tracing membaik.


Jatim tracing di atas standar. Kalau dulu satu positif, yang ditracing 1-2 orang saja, sekarang sampai 15 atau lebih. Satu kasus jangan sampai menjadi penulara di banyak orang. Itu intinya. Upaya itu harus kompak dari pemerintah dan masyarakatnya, yaitu dapat mengendalikan pandemi yaitu testing dan tracing.


Masyarakat, kalau ditracing, testing, vaksin, berprokes harus mau, tentu itu peranan masyarakat yang baik. Kalau nggak mau, takut dicovidkan, bisa saja kondisinya kembali memburuk. Pemerintah dan masyarkat harus bersama-sama. Masyarakat sudah banyak yang terinfeksi selama ini sehingga terdapat kekebalan secara alamiah.


Kalau vaksinasi kita belum, karena yang dua dosis masih sekitar 20 persen. Syarat herd imunity adalah mereka yang sudah vaksin dau kali sebanyak 70 persen. Jadi bukan karena vaksinasi, masih jauh. Kematian Jatim juga masih tinggi, yakni sekitar 7 persen, dibandingkan angka kematian Indonesia3,37 persen.


Jatim dua kali lipat. Vaksinasi kita belum baik. Surabaya sudah baik, tapi secara umum Jatim belum baik. “Kita masih banyak PR. Kalau belum dituntaskan, maka bisa saja nanti terjadi lonjakan baru, kalau kita tidak sabar. Jangan keburu-buru, buka masker, PTM guru membolehkan anak tidak pakai masker. Itu nanti bisa melonjak lagi. Kita masih harus tetap menerapkan Prokes.” Tutur Dr.Windhu.


Dr. Dominicus Husada, dr.,DTM&H.,MCTM(TP).,SpA(K) selaku pembicara kedua selaku ahli virus menyajikan materi tentang virus dan sifat mutasinya serta prediksi kelanjutan pandemi nantinya. Mengawali materi, Dr. Domi menyampaikan bahwa ngobrol masalah mutasi, pedoman dalam hidup ini adalah “semua akan berakhir”.

Foto : Jadid (Dr. Windhu Purnomo, dr., M.S. (Pakar Epidemiologi UNAIR)

Ini adalah aspek filsafatnya,supaya kita bisa lebih memahami. Pandemi covid-19 sudah berlangsung 2 tahun awalnya dari Wuhan, Cina dan diduga dari pasar hewan dan hewan pembawa yang paling utama kelelawar.


Awal covid-19 tidak lepas dari peran dr. Lie Wen Liang yang mengungkapkan pertama kalinya temuan awal covid-19. Ia mengungkapkan adanya pasien dengan pnemoni, radang paru yang tidak jelas, dan berpotensi menjadi penyakit menular dan berbahaya. Ini ditemukan di Wuhan.


Dr.Lie bukan ahli paru dan inveksi, ia adalah dokter mata. Namun ia akhirnya meninggal pada gelombang dua covid-19 di Wuhan. Tidak banyak yang mengungkap dan mengapresiasi jasanya sebagai pembuka keberadaan covid-19 di dunia ini.


Penanganan covid-19 di Wuhan saat itu sangat tertata. Semua dikunci, lock-down. Sebulan penuh Wuhan menjadi kota mati. Perawat dan dokter didatangkan dari provinsi lain dan dipulangkan setelah wabah selesai. Mungkin itu adalah contoh penanganan yangterbaik bagi negara lainnya. Saat Cina berhasil menaklukkan covdi-19, semua negara di dunia gembira karena beranggapan covid-19 bisa dikalahkan. Namun saat Iran dan Italia juga terjangkit, dan jumlahnya menyalib Cina, maka harapan itu sirna.


Data per 1 Oktober 2021 jumlah yang terjangkit di seluruh dunia sebanyak 235 juta orang, dan yang meninggal 4,8 jutaorang. Indonesia 4,2 juta orang terjangkit dan meningal lebih dari 142 ribu orang. Jumlah itu sangat banyak, dan tidak terjadi dalam satu serangan, tapi dari beberapa gelombang.


Sebagian pasien meninggal karena kerusakan pada paru. Kalau paru sudah rusak, bagaimana manusia bisa bernafas dengan baik, sehingga resiko kematian cukup tinggi. Covid-19 ini penyebabnya adalah Virus SARS-CoV-2. Seperempat anak batuk pilek adalah karena virus corona. Ada yang sakit, membaik kemudian sembuh. Tidak ada kekebalan permanen, itu juga yang medasari adanya vaksin.


Kondisi saat ini, obat yang sangat mujarab belum ada, beberapa obat memang ditemukan namun dengan beberapa keterbatasan. Beruntung ada vaksin. Vaksin ada banyak. Sudah 21 atau 23 yang di acc. Di Indonesia juga banyak yang sudah masuk dan sudah ada 6 yang ditinggal pemiliknya. 130 yang lain yang akhir tahun ini selesai.


Merek apa kualitas apa harga berapa buatan mana. Memang tidak pada hari ini, tapi pada akhir 2022 sudah tidak kekurangan lagi. 9 yang ada di Indonesia, (2 belum masuk tapi sudah di acc BPOM. Negara lain paing 5-6 jenis vaksin. Belum lagi vaksin merah putih, juga vaksin luar yang dilabeli merek Indonesia.


Salah satu vaksin merah putih adalah vaksin Airlangga,yang akan di uji coba pada manusia akhir November atau awal Desember 2021. Nanti akan menjadi vaksin pertama di Indonesia, mulai dari ide dan pengerjaannya. Menjadi satu bagian sejarah kalau bisa dimulai dan hasilnya baik. Prinsipnya denga vaksin yang ada sekarang ini jangan pilih-pilih.


Kalau pilih-pilih akan bisa mati duluan. Tapi vaksin saja tidak cukup, vaksin harus dibarengi dengan prokes. Sebenarnya kalau covid kondisinya seperti pada awal dulu vaksin sudah cukup. Itu karena adanya mutasi. Makhluk hidup pasti mengalami mutasi. Mutasi covid dikasih kode dan nama.Tiap hari di updat. Varian delta yang merajalela pada Juni sampai Agustus 2021 mempunyai kekuatan dua kali lebih menular. Adalagi MU, Delta Plus dan sebagainya. Dan hanya yang mampu beradaptasilah yang akan mampu bertahan hidup. Apapun mutasinya, protokol kesehatan mampu mengurangi serangan virus tersebut.


Secara penghitungan ilmiah, kalau digampangkan akhir pandemi ada tiga skenario, yakni Pertama Pandemi terus menerus,seperti halnya HIV yang muncul pertama di AS pada tahun 1981 dan hingga kini masih ada. HIV tidak bisa sembuh, tapi bisa diperpanjang masa hidup penderitanya dengan obat-obatan yang ada. Kedua Pandemi berakhir tuntas.


Seperti halnya SARScov-1, cacar, polio (tinggal 2 negara) yang sudah tidak ada lagi. Juga Flu Spanyol yang bisa diatasi dalam 5-8 tahun dengan jumlah korban sebanyak 50 juta orang. Penyakit Pes memakan korban sebanyak 350 juta orang, tapi juga sudah musnah. Kalau sudah tiba dititik puncak, semua akah berakhir. ( Dipahami untuk menghibur diri). Yang ketiga, Pandemi menjadi endemi (akan terus ada tetapi jumlahnya tidak banyak).


Dengan konsep new normal, hidup berdampingan dan berdamai dengan virus. Walaupun dalam beberapa hal akan menyulitkan, kalau kita tidak siap dan beradaptasi menyesuaikan dengan kondisi.


“Semua akan berakhir, dan kita berharap bahwa covid-19 juga akan segera berakhir. Tapi masyarakat mungkin beberapa ada yang abai. Mutasi tetap berlangsung, karena virus berusaha mempertahankan diri sebagai adaptasi terhadap alam. Terhadap tiga skenario ahir dari pandemi, maka yang perlu dikedepankan adalah bagaimana kita harus beradaptasi, endemi masih cukup lama.


Vaksin adalah kunci, semakin banyak lapisan perlindungan, semakin sulit virus menembus. “Untuk saat ini covid-19 masih akan berlanjut cukup lama. Gelombang datang silih berganti dan tidak mungkin menghentikan kegiatan masyarakat terlalu lama. Vaksin dan protokol kesehatan adalah kunci, jangan luparesiko penularan tidak pernah nol. Keseimbangan baru harus sudah disiapkan. Harus siap dengan pertempuran baru,dengan sains sebagai komandan.” pungkas Dr. Domi.(Jadid/Dna)

102 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua