Judul-Judulan

Penulis : Cak Toekiban


Habis sudah pacar pacaran

habis sudah kawin kawinan

punya anak namanya anak anakan

Ini lagu, lagu-laguan, judulnyapun

‘judul-judulan’ maaf ya neng,

ini kan cuma mainan.....

SURABAYA - Analisapost.com l Masih ingat kan, narasi di atas berasal dari refrain lagu jenaka berjudul Judul-Judulan, dibawakan oleh Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak (OM PSP) yang pemutaran lagunya mendominasi hampir di seluruh radio siaran di tanah air pada era akhir tahun 70 an. Mungkin jika sudah ada spotify dan youtube music seperti sekarang ini, pasti lagu ini lebih ‘meledak’ di jagad musik Indonesia.


Lagu yang sama, yaitu ‘Judul-Judulan’ juga dipopulerkan kembali oleh vokalis ‘Pengemis Cinta’ Johny Iskandar pada era 90an melalui sebuah kelompok musik yang karakternya mirip Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak, yaitu grup musik bernama Pengantar Minum Racun (PMR). Hebatnya, lirik lagu yang cenderung jenaka, ringan dan membuat pendengarnya secara tidak sadar ikut bergoyang itu kembali mencuri perhatian publik penyuka tembang-tembang ringan bergenre pop. Jadilah ‘Judul-Judulan’ ngetop kembali dan didendangkan dimana mana. Dan saya yakin, banyak diantara sampeyan, ikut goyang juga saat lagu ini didendangkan atau diperdengarkan.


Namun sumprit, saya tidak ingin blas mau mengajak sampeyan berjoged sambil diiringi lagu tadi. Tapi kalau kapan-kapan sampeyan punya waktu luang mau ngajak ngopi lalu bergoyang bersama, boleh lah. Siapa takut!


Kali ini lebih ke arah cerita nyata pengalaman teman saya seorang jurnalis sebuah media yang wajahnya sempat melongo dan garuk-garuk kepala saat berakhirnya sesi wawancara dengan sumber berita. Sambil nyruput kopi hitam yang masih kemebul di depannya, sang wartawan ini menceritakan pengalamannya dengan nada heboh. Begini ceritanya, suatu ketika di akhir sesi wawancara, seorang public relations manager sebuah perusahaan besar di Surabaya memesan ‘judul berita’ hasil wawancara kepada teman wartawan tadi.


“Mas, tolong nanti saat ditayangkan judul beritanya begini ya dan jangan lupa sebut brand perusahaan, di blow up sekalian ya. Biar atasan saya senang dan membuat kesan positif bagi perusahaan”, kata si public relations manager tadi, mencoba ikut mengatur judul pemberitaan. Lha, ini saja sudah termasuk bisa disebut kategori ‘breaking news’ dalam dunia proses penulisan berita, karena sumber berita berupaya ‘mengatur dan memesan’ judul sebuah berita yang akan ditayangkan atau diunggah di media. Dan secara tidak sadar, teman wartawan tadi mendadak manyun dan langsung teringat lagu hit Orkes Moral Pancaran Sinar Petromak diatas. “Judul-judul an bek ne”, gerutu sang wartawan dalam hati sambil ringkes-ringkes clip on mic nya.


Fenomena lain, ketika ada permintaan media berniat mewawancari pucuk pimpinan sebuah perusahaan, sang pimpinan dengan ringan menyampaikan kepada petugas humasnya untuk mewakili permintaan wawancara dengan media tadi sambil mengatakan, “Saya gak pengen ngetop di media ah, jadi sampeyan saja ya selaku humas yang menemui wartawan”, kata sang pimpinan perusahaan tadi dengan enteng.


Bukannya mengecilkan peran humas, namun kredibilitas dan nilai sebuah berita akan semakin tinggi di mata pembaca atau pemirsa sebuah media ketika informasi penting tersebut disampaikan langsung oleh sumber berita yang punya kewenangan tertinggi dalam sebuah organisasi. Sehingga, pemberitaan bisa lebih akurat, mendalam, tuntas dan lebih kredibel.


Persoalan memberikan statement penting di media bagi pimpinan organisasi bukan sekedar untuk gaya-gayaan atau biar ngetop, tapi lebih kearah bagaimana sebuah organisasi, instanti atau perusahaan mampu ‘memanfaatkan’ peluang pemberitaan bagi kepentingan exposure atau publikasi positif organisasi bersangkutan.


Tapi, faktanya tidak setiap pimpinan organisasi atau bahkan petugas humas siap dan punya kompetensi cukup ketika berhadapan dengan media. Sesi direct interview atau face to face interview dengan media masih sering menjadi momok bagi sebagian besar organisasi, instansi atau perusahaan. Belum lagi timbul pikiran, ada apa ya kok media datang dan ingin mewawancarai. Jangan-jangan, ada kepentingan tertentu!


Selain itu, seringkali pihak media menerima materi berita yang disampaikan dalam format press release atau media release dari suatu organisasi tidak bisa banyak membantu media bersangkutan karena press release yang dikirimkan kurang mempunyai newsvalue dan acapkali bernada promotif. Akibatnya, press release yang ditulis dengan susah payah tadi maaf, berakhir di keranjang sampah sang wartawan atau jadi korban aksi delete di keyboard laptop sang jurnalis.


Dari penerawangan saya selaku praktisi yang menggeluti dunia public relations sekaligus jurnalis, seringkali media menerima materi press release atau rilis berita yang ditulis oleh suatu lembaga, instansi atau pun perusahaan dengan kualitas yang kurang bagus. Sehingga, membuat repot awak media untuk mengedit bahkan membongkar ulang press release yang dikirimkan, walapun itu memang salah satu tugas awak media dan redaksi. Ini sungguh menyita waktu.


Jika ingin memenangkan perhatian media, materi press release yang dikirimkan ke perusahaan media sebaiknya mengandung newsvalue dan ditulis secara lugas dengan pendekatan piramida terbalik berisi unrus 5W 1H, logis dan masuk alal, super menarik materinya dan tidak mengandung nilai promotif dari instansi atau perusahaan.


Jika niatnya memang mau menyampaikan informasi promotif, sebaiknya bisa berhubungan dengan bagian lain dari sebuah perusahaan media, yaitu bagian iklan. Atau jika materi berita tersebut ingin dikemas seolah-olah sebuah ‘news’, masih bisa kok dikompromikan melalui kanal atau rubrik advertorial yang memungkinkan untuk tujuan promotif, tapi ditulis dengan gaya pemberitaan media. Nah kalau yang advertorial ini berbayar, tentunya.


Lalu apakah instansi atau perusahaan harus membayar atau maaf, nyangoni jurnalis setelah diliput dan beritanya diunggah ke media? Oh, tentu tidak. Jurnalis pada dasarnya tidak menerima ‘bayaran’ atas tugas liputan yang dilakukannya dari sumber berita. Walaupun, sering terjadi pihak pengundang ‘setengah memaksa’ untuk memasukkan amplop berisi ‘uang bensin’ istilahnya, kepada jurnalis setelah selesai melakukan liputan.


Di lapangan, jujur ada yang menerima, namun banyak juga yang ‘setengah hati’ menerima amplop dari sumber berita atau bahkan secara tegas menolak amplop tersebut karena pada dasarnya tidak etis dan dikhawatirkan tulisan yang diunggah ke media menjadi bias. Yang perlu dipahami, independensi seorang jurnalis atau media tidak bisa dipengaruhi oleh siapa pun.


Masyarakat pemirsa atau pembaca lah yang akan menjadi ‘juri’ atau kualitas suatu pemberitaan. Jika berita yang diunggah oleh suatu media terkesan garing, tidak berbobot dan tidak mengandung newsvalue, masyarakatpembaca atau pemirsa pasti tidak berkenan. Dan tidak jarang, lalu meninggalkan media tersebut beralih ke media lain yang lebih berbobot kualitas penulisannya untuk mendapatkan informasi atau referensi.


Media atau pers baik mainstream maupun online merupakan mitra strategis organisasi, perusahaan atau instansi di tengah maraknya berbagai pilihan format publikasi kepentingan organisasi dewasa ini. Hubungan baik yang dijalin dengan pihak media, perlu dikembangkan sedemikain rupa, sehingga ketika sebuah organisasi sangat memerlukan kehadiran media tidaklah sulit untuk mendatangkannya karena selama ini telah menjalin hubungan baik.


Di sisi lain, sebaiknya pihak organisasi, instansi atau perusahaan memahami benar apa yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan oleh media, apa yang diminati dan yang tidak disukai oleh media dari sumber berita. Sehingga, tidak akan banyak lagi sesi media interview berakhir dengan gerutuan teman jurnalis di atas yang mendadak bersungut sungut sambil berdendang pelan lagu ‘Judul-Judulan’ di atas. Salam coffee break! (Cak Toekiban)



709 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua