top of page

Kampung Negeri Sakura di Kota Surabaya

Diperbarui: 4 Mar

SURABAYA - analisapost.com | Bunga Sakura yang cantik mekar selama delapan bulan dari akhir September hingga awal Mei, warga akan menikmati musim semi di Jepang negara aslinya. Untuk pergi ke Jepang tentunya membutuhkan biaya besar.

Negeri Sakura ala Kampung Manuka Lor4 Tandes
Negeri Sakura ala Kampung Manuka Lor4 Tandes (Foto: Div)

Tetapi tidak demikian jika kalian datang ke kampung Manukan Lor 4 RT 5 RW 1, Kelurahan Banjarsugihan, Kecamatan Tandes.  Pertama kali menginjakan kaki di kampung ini, kalian bisa melihat gapura kanan-kiri terdapat tulisan kanji akan menyambut para pengunjung.


Tak hanya itu, pengunjung juga disuguhkan spot-spot foto ala Jepang-Bali (JeLi) dengan suasana seperti di Negara Matahari Terbit mirip "Taman Sakura no Sato" yang tidak boleh dilewatkan.


Negeri Sakura ala Kampung Manuka Lor4 Tandes tersebut dipadu dengan dekorasi Bali klasik menciptakan suasana yang begitu memukau, Minggu (11/2/24)


Ketika melewati Tori yakni portal berwarna merah yang terdiri dari dua pilar vertikal dan di hubungkan satu sama lain di hiasi tanaman bergelantungan, seakan-akan memasuki pintu gerbang dunia lain, bukan Kuil yang kalian lihat tetapi disana ada tempat makan dengan harga terjangkau.


Untuk bisa menikmati segala fasilitas di Kampung JeLi (Jepang-Bali), pengunjung sementara cukup menyewa Kimono dan Yukata, pakaian tradisional Jepang sebesar Rp 20.000 per orang (harga bisa berubah sewaktu-waktu sesuai operasional karena masih baru), kalian sudah dapat menyewa pakaian adat, payung, berswafoto sepuasnya dengan ornamen pagoda dan nuasana ala Negeri Sakura.


Arti pakaian Tradisional Jepang


Kimono, kata Ki berarti pakai dan Mono berarti barang. Jadi Kimono berarti barang yang dipakai atau pakaian yang digunakan. Kimono umum digunakan oleh pria dan wanita. Bentuknya menyerupai mantel dengan huruf T panjang hingga pergelangan kaki dan memiliki kerah yang unik. Sementara Yukata merupakan pakaian adat Jepang untuk bersantai dalam acara festival musim panas.

Lia Hikmatul salah satu pengunjung yang datang ke Kampung JeLi
Lia Hikmatul salah satu pengunjung yang datang ke Kampung JeLi (Foto: Div)

Saat di temui awak media AnalisaPost, I Komang Sujana mengatakan,"ide kampung wisata ini awalnya karena warga banyak yang terdampak covid-19. Akhirnya mereka satu-satu berusaha sendiri bagaimana caranya bisa memenuhi kebutuhan mereka," cerita wakil RT 5.


"Kebetulan warga disini banyak yang ahli masak sehingga mereka mulai berjualan dan kita berusaha mencari cara agar jualannya laku. Bahkan tempat tinggal saya konsep ala cafe, dengan disain tematik dan makan kroyokan agar menarik," paparnya.


"Ketika pemerintah membuat lomba Surabaya Smart City (SSC), akhirnya kami mulai mempercantik kampung dengan swadaya masyarakat di tambah memanfaatkan barang-barang bekas untuk di fungsikan," tutur pria yang memiliki banyak pengalaman di perhotelan.


Sujana, pria kelahiran Bali menceritakan awal fasilitas umum (Fasum) yang dimiliki kampung itu dulunya banyak gragal, kayu bekas tak tertata rapi tentunya menjadi idaman. Memiliki lingkungan yang bersih dan indah adalah cita-cita seluruh warga dari sebuah kampung.


"Karena Covid -19 kebetulan saya hanya penjual kopi, akhirnya saya berdiskusi bersama pak RT dan sesepuh menyampaikan ide untuk kampung ini. Kenapa jepang karena saya suka dengan ornamen dan semangat warga Jepang. Mereka tidak pernah putus asa, dari tidak mungkin menjadi mungkin. Alhamdullilah mereka setuju dan sangat mensuport,"ujar Sujana yang masih memiliki hubungan kerabat dengan Krisna pemilik Joger Bali dan juga inisiator Kampung JeLi (Jepang-Bali).

Ketua RT 5 RW 1, Kelurahan Banjarsugihan, Agus Santoso (Kiri) dan I Komang Sujana (Kanan)
Ketua RT 5 RW 1, Kelurahan Banjarsugihan, Agus Santoso (Kiri) dan I Komang Sujana (Kanan) (Foto: Div)

Dengan timbulnya kesadaran masyarakat dan semangat tinggi untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik, warga akhirnya mulai ikut menata lingkungan kampung.


Hal yang sama juga diutarakan oleh Ketua RT 5, Agus Santoso,"selain sebagai upaya memperkenalkan kampung ini, dengan dibantu Camat Tandes, Lurah dan RW, kami juga menggerakan roda perekonomian masyarakat setempat," ujarnya.


"Tujuannya ekonomi mandiri itu bukan hanya wacana saja, jadi kami wujudkan dengan mendapatkan pemasukan dari fasilitas yang minim sehingga bisa mengembangkannya dan kami membuat tim kreatif untuk menyebarkan informasi agar di kenal,"ungkap Agus kepada awak media AnalisaPost.


Ia menambahkan bahwa semua warga memiliki tabungan dari hasil UMKM yang di berikan ke RT untuk Kas, sehingga warga bisa membuat kampung ini indah.


Sementara Lia Hikmatul salah satu pengunjung yang datang ke Kampung JeLi mengatakan, "dengan adanya kempung ini, saya dan suami tidak perlu jauh-jauh hanya untuk menikmati suasana Jepang. Disini warganya sangat welcome dan biaya yang saya keluarkan benar-benar tidak menguras kantong kami," katanya sambil tersenyum malu-malu.


Sebagai seorang guru Tk di salah satu sekolah, ia berharap murid-murid dan anak-anak lainnya juga dapat menikmati liburan tanpa pergi jauh.


Nah bagi kalian yang penasaran dan merasa tertarik untuk merasakan atmosfer suasana Negeri Sakura tanpa harus pergi jauh-jauh, ayoo kunjungi Kampung JeLi (Jepang-Bali) buka setiap hari mulai 08.00-20.00 di Manukan Tandes.(Dna)


Dapatkan berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari dan ikuti berita terbaru analisapost.com di Google News klik link ini jangan lupa di follow.

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page