AstraZeneca, Cegah Covid AZD7442 Diizinkan Pengunanya

JAKARTA - analisapost.com | AZD7442 (tixagevimab dikemas bersama dengan cilgavimab) dari AstraZeneca diotorisasi penggunaannya oleh Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA), merupakan kombinasi antibodi pertama untuk profilaksis pra-paparan (PrEP) terhadap  COVID-19 yang dilisensikan di Inggris.

Foto: Istimewa

Penggunaan obat ini adalah untuk orang dewasa yang  saat ini tidak terinfeksi (atau diketahui terpapar) virus Covid-19 dan mungkin tidak  memiliki kekebalan yang memadai terhadap vaksinasi Covid-19 – termasuk mereka yang  tidak disarankan untuk divaksinasi.


Tom Keith Roach, President, AstraZeneca UK, mengatakan: “AZD7442 memenuhi kebutuhan yang mendesak dalam perjuangan negara Inggris melawan COVID-19, di mana dapat

memberikan perlindungan bagi orang-orang yang vaksinasinya mungkin tidak efektif dan mereka yang secara klinis paling rentan di masyarakat. Kami ingin melihat obat yang penting  ini tersedia untuk pasien di Inggris secepat mungkin, begitu pun dengan negara lain.”ujarnya


Hugh Montgomery, Professor of Intensive Care Medicine di University College London,

mengatakan: “Pengumuman ini benar-benar kabar yang baik. Tindakan kesehatan

masyarakat yang bijaksana melalui vaksinasi merupakan perlindungan utama bagi sebagian  besar individu di Inggris. Namun, untuk sebagian besar masyarakat yang saat ini memiliki  masalah kesehatan, perlindungan terhadap virus melalui vaksinasi masih terbatas. Hadirnya

ketersediaan obat antibodi ini menawarkan kemungkinan peningkatan perlindungan pra- paparan, dan semuanya dari satu imunisasi pasif yang efektif dan dapat bertahan selama  berbulan-bulan."



 Tixagevimab yang dikemas bersama dengan Cilgavimab, yang dikenal sebagai AZD7442,

adalah kombinasi dari dua antibodi monoklonal yang diberikan sebagai suntikan intramuskular (IM) terpisah secara berurutan.


Sekitar 500.000 orang di Inggris mengalami gangguan imun dan dapat merasakan manfaat  dari obat ini untuk profilaksis pra-paparan COVID-19.2 40% orang dengan kondisi  immunocompromised atau immunosuppressed memiliki respon imun yang rendah atau tidak  terdeteksi setelah vaksinasi dan sekitar 11% gagal menghasilkan antibodi apa pun.iii Diantaranya termasuk orang dengan kanker darah, mereka yang menggunakan obat

imunosupresif setelah transplantasi organ atau untuk kondisi termasuk multiple sklerosis dan  artritis reumatoi.


 Data utama dari uji coba PROVENT Fase III yang sedang berlangsung (yang memenuhi titik  akhir primernya) menunjukkan penurunan yang signifikan secara statistik dalam risiko  pengembangan COVID-19 yang bergejala dengan AZD7442 dibandingkan dengan plasebo.

Berdasarkan analisis utama dari 5.172 peserta (AZD7442 n = 3.441 dan plasebo saline n =  1.731), kombinasi antibodi menunjukkan 77% pengurangan risiko relatif (Relative Risk  Reduction/RRR) dalam kejadian COVID-19 yang bergejala [95% Confidence Interval (CI) 46  -90; p <0,001; 8/3,441 (0,2%) AZD7442 dan 17/1,731 (1,0%) plasebo], dan 0,8%  Pengurangan Risiko Absolut (Absolute Risk Reduction/ARR) dibandingkan dengan plasebo,  dengan rata-rata waktu tindak lanjut 83 hari setelah pemberian.


Dalam analisis selanjutnya, kombinasi antibodi menunjukkan 83% RRR dalam kejadian  COVID-19 yang bergejala [95% CI: 66-91; 11/3,441 (0,3%) AZD7442 dan 31/1,731 (1,8%)  plasebo] dan 1,5% ARR dibandingkan dengan plasebo, setelah rata-rata tindak lanjut 6,5  bulan.


Data yang tersedia menunjukkan bahwa tixagevimab dan cilgavimab mungkin efektif untuk  profilaksis pra-paparan selama enam bulan berdasarkan varian yang lazim selama penelitian.  Percobaan sedang berlangsung dan lebih banyak data sedang dihasilkan untuk menetapkan  durasi yang tepat dari perlindungan profilaksis. Tidak diketahui bagaimana pseudovirus atau  data kerentanan netralisasi SARS-CoV-2 asli berkorelasi dengan hasil klinis, namun data di  beberapa penelitian independen (virus buatan dan virus (Hafiz Mabrur).

286 tampilan0 komentar