top of page

Konjen RRT Ungkap Rahasia Kemajuan Tiongkok di Universitas Ciputra

SURABAYA - analisapost.com | Hubungan Indonesia dan Tiongkok tercatat memiliki sejarah panjang yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kerja sama kedua negara tidak hanya terjalin di bidang ekonomi, tetapi juga mencakup sektor budaya, pendidikan, teknologi, hingga infrastruktur. Kolaborasi tersebut dinilai memberikan manfaat nyata bagi kedua belah pihak.

Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Dr. Ye Su
Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Dr. Ye Su (Foto: Div)

Hal itu disampaikan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Dr. Ye Su, dalam sebuah diskusi dalam rangka perayaan momen istimewa yang digelar di Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya, Sabtu (28/2/26).


Dua ā€œKeajaibanā€ Kemajuan Tiongkok

Mengawali diskusi, Dr. Ye Su memutar video berdurasi sekitar 10 menit yang menampilkan sekelompok pemuda Tiongkok mempraktikkan seni bela diri tradisional kungfu. Menariknya, dalam tayangan tersebut juga terlihat sejumlah robot yang mampu bergerak lincah, bahkan melakukan salto dan memainkan toya.


Menurut Dr. Ye Su, video itu menjadi gambaran transformasi pesat yang dialami Tiongkok dalam hampir lima dekade terakhir. Ia menyebut terdapat dua ā€œkeajaibanā€ yang menjadi kunci kemajuan negaranya selama kurang lebih 47 tahun terakhir, yakni penguasaan teknologi yang berpadu dengan pelestarian budaya tradisional yang terjaga dalam jangka panjang.


Enam Pilar Kemajuan

Dr. Ye Su menjelaskan, setidaknya terdapat enam faktor utama yang menopang keberhasilan kemajuan tersebut.

  1. Kebijakan dan strategi pemerintah yang konsisten dan stabil.

  2. Pemerataan pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.

  3. Pembangunan infrastruktur secara masif dan berkelanjutan.

  4. Penguatan ekonomi riil dan industri manufaktur.

  5. Pengentasan kemiskinan secara dinamis dan presisi.

  6. Keterbukaan terhadap kerja sama internasional juga menjadi elemen penting dalam mempercepat pembangunan.


"Perkembangan ekonomi yang pesat dan stabilitas sosial yang berlangsung lama menjadi resep Tiongkok tumbuh sebagai salah satu kekuatan global saat ini,ā€ ujarnya.


Ia menegaskan bahwa kemajuan ekonomi Tiongkok tidak dibangun secara instan, melainkan melalui proses panjang yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat.


Menurutnya, pertumbuhan harus memiliki fondasi yang kuat, terutama memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. ā€œTanpa kesejahteraan rakyat, pertumbuhan tidak akan berkelanjutan,ā€ katanya.


Ia juga menyinggung sejumlah program pembangunan berbasis kesejahteraan masyarakat (MBG) yang telah lama dijalankan dan dinilai berhasil meningkatkan taraf hidup warga.

Salah satu contoh kolaborasi proyek kereta cepat Whoosh yang meningkatkan konektivitas antar daerah
Salah satu contoh kolaborasi proyek kereta cepat Whoosh yang meningkatkan konektivitas antar daerah

Dalam konteks hubungan bilateral, Dr. Ye Su menyebut kerja sama Indonesia-Tiongkok semakin erat. Tiongkok kini menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia dengan investasi di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, hilirisasi industri, hingga teknologi hijau.


Salah satu contoh kolaborasi konkret adalah proyek kereta cepat Whoosh yang meningkatkan konektivitas antar daerah dan menjadi simbol kerja sama strategis kedua negara di bidang transportasi modern.


Proyek ini mempercepat mobilitas masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan yang dilalui jalur kereta cepat tersebut.


Peran Dunia Pendidikan

Upaya mempererat hubungan Indonesia dan Tiongkok juga mendapat dukungan dari kalangan akademisi. Universitas Ciputra SurabayaĀ aktif menjalin kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi di Tiongkok.


Melalui kolaborasi tersebut, mahasiswa memiliki kesempatan menempuh studi, mengikuti program pertukaran, hingga memperoleh pengakuan kredit internasional.


Rektor Universitas Ciputra, Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto, dalam sambutannya menekankan pentingnya pembelajaran lintas peradaban bagi mahasiswa dalam menghadapi persaingan global. "Perbedaan harus dipandang sebagai kekuatan. Dengan memahami perbedaan, kita akan terdorong untuk lebih toleran satu sama lain,ā€ terangnya.


Diskusi yang berlangsung sekitar dua jam itu berjalan interaktif. Mahasiswa dan peserta umum diberikan kesempatan berdialog langsung dengan narasumber, menandai komitmen bersama untuk memperkuat hubungan bilateral melalui pertukaran gagasan dan pemahaman lintas budaya.

Rektor Universitas Ciputra, Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto
Rektor Universitas Ciputra, Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto (Foto: Div)

"Generasi muda harus mengetahui sejarah bangsanya dan melihat bagaimana perbedaan budaya justru menjadi kekuatan dalam menghadapi tantangan masa depan,ā€ ucapnya kepada awak media AnalisaPost di sela-sela kegiatan.


Melalui diskusi tersebut, Universitas Ciputra menegaskan komitmennya membekali mahasiswa dengan wawasan global, sekaligus memperkuat nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan kampus. (Dna)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya