Koperasi Merah Putih Semolowaru Jadi Model Sukses Penguatan Ekonomi Rakyat di Surabaya
- analisapost

- 22 Jul
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, meresmikan secara serentak program Koperasi Merah Putih (KMP) di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan. Di Kota Surabaya, terdapat tiga kelurahan ditunjuk sebagai proyek percontohan, salah satunya adalah Kelurahan Semolowaru.

Koperasi Merah Putih (KMP) Semolowaru tampil sebagai model sukses penguatan ekonomi kerakyatan di Kota Surabaya. Meskipun memulai usaha dengan modal terbatas, koperasi ini mampu mencatat omzet hingga Rp 250 juta. Keberhasilan tersebut diraih berkat kerja keras pengurus serta tingginya partisipasi anggota dan warga sekitar yang sebagian besar memiliki usaha mandiri.
Manajer KMP Semolowaru, Istinah Wardani, menyatakan bahwa koperasi tak hanya menjadi unit dagang, tetapi juga berfungsi sebagai pilar ekonomi lokal.
“Program ini sejalan dengan visi Presiden melalui pembentukan Kopdes (Koperasi Desa). Awalnya kami hanya melayani kebutuhan sembako anggota dan warga sekitar,” ujar Istinah kepada awak media AnalisaPost.
“Kami mendukung penuh program Koperasi Merah Putih karena benar-benar memberikan warna baru di lingkungan kami. Dampaknya sudah terasa langsung bagi warga Semolowaru,” tambahnya, Selasa (22/07/25).
Sejak bergabung dalam jaringan KMP pada Juni 2025, koperasi terus berkembang melalui Unit Pelayanan Koperasi (UPK), yakni toko sembako yang menjual beras, minyak, gula, dan LPG sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) pemerintah.
Koperasi ini sebelumnya bernama Koperasi Konsumen Semolowaru dan telah berdiri sejak 2020. Kini, koperasi telah memiliki 100 anggota aktif yang tersebar di Kelurahan Semolowaru dan sekitarnya. Koperasi ini mengelola berbagai unit usaha, mulai dari toko sembako, hingga layanan usaha mikro untuk warga setempat dan beroperasi setiap hari dari pukul 07.00 hingga 14.00 WIB.

Di Surabaya, terdapat 153 Koperasi Merah Putih yang tersebar di berbagai kelurahan. Hanya tiga di antaranya yang saat ini memasuki tahap pengembangan, dan KMP Semolowaru dinilai paling berhasil. Keberhasilan ini didukung oleh antusiasme warga, yang sebagian besar merupakan pelaku usaha mandiri.
Ketua KMP Semolowaru, Totok Buhari Efendi, menegaskan bahwa koperasi ini tidak berbasis simpan pinjam, mengingat risiko yang tinggi. Fokus utama adalah perdagangan, sesuai dengan karakter wilayah Semolowaru yang merupakan zona pasar aktif, dengan 99 persen warganya menjalankan usaha mandiri.
"Di sini ada 12 RW dan 70 RT. Perputaran ekonominya cepat. Kebutuhan gas saja mencapai 330 tabung per hari. Kami jual sesuai harga standar, tanpa ambil untung berlebihan,” jelasnya.
Namun, di balik capaian tersebut, sejumlah tantangan kurangnya dukungan teknis dari dinas terkait masih dihadapi. Totok mengungkapkan perlunya akses distribusi langsung dari BUMN seperti Pertamina, Bulog dan PTPN.
"Koperasi ini lahir dari instruksi Presiden. Tapi kami kesulitan mengakses distributor utama. Misalnya, jika ingin membeli beras dari Bulog atau gas dari Pertamina, kami tidak tahu harus menghubungi siapa. Seharusnya KMP bisa menjadi mitra distribusi lokal,” tegasnya.
Ia berharap koordinasi dengan instansi terkait dapat ditingkatkan agar koperasi dapat berkembang lebih optimal. Menurutnya, harga yang terjangkau dan layanan yang baik adalah daya tarik utama koperasi.
Seorang warga Semolowaru, yang enggan disebut namanya, mengaku sangat terbantu dengan kehadiran koperasi.

“Alhamdulillah, koperasi ini sangat membantu kami. Harga barang lebih murah dari pasar, dan stok selalu tersedia,” ungkapnya.
Dengan dukungan regulasi dan akses distribusi yang lebih baik, KMP Semolowaru berpotensi menjadi fondasi ekonomi rakyat yang kuat dan mandiri. Berkat manajemen yang transparan dan fokus pada kesejahteraan anggota, koperasi ini kini menjadi rujukan bagi koperasi lain di Jawa Timur.(Che/Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar