Lewat Diskusi Imlek-Ramadan, Universitas Ciputra Tegaskan Harmoni dan Kolaborasi Global
- analisapost

- 2 hari yang lalu
- 4 menit membaca
Diperbarui: 25 menit yang lalu
SURABAYA - analisapost.com | Universitas Ciputra kembali menggelar forum diskusi publik di Dian Auditorium, Surabaya, Sabtu (28/2/26) sebagai bagian dari perayaan momen kebhinekaan. Kegiatan ini digelar di tengah berdekatannya tiga momentum penting keagamaan dan budaya pada perayaan Imlek, Ramadan, dan masa Prapaskah tahun ini..

Februari menjadi bulan istimewa bagi masyarakat Indonesia yang majemuk. Berdasarkan keputusan pemerintah, 19 Februari ditetapkan sebagai 1 Ramadan bagi umat Muslim. Dua hari sebelumnya, 17 Februari, masyarakat Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Sementara 18 Februari menandai awal masa Prapaskah bagi umat Kristiani yang dijalani selama 40 hari sebelum Paskah.
Mengangkat tema “Imlek & Ramadan: Belajar dari Dua Peradaban”, kegiatan dibuka dengan pertunjukan barongsai yang memeriahkan suasana. Ratusan mahasiswa dan peserta dari kalangan umum tampak antusias mengikuti jalannya diskusi.
Hadir sebagai pembicara yakni Dr. Ye Su, Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, serta Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation. Diskusi dimoderatori oleh Aan Anshori, dosen Universitas Ciputra.
Diskusi yang berlangsung kurang lebih dua jam itu berjalan dinamis dan interaktif. Para mahasiswa maupun peserta umum diberi kesempatan mengajukan pertanyaan secara langsung kepada para narasumber sesuai dengan tema yang dibahas.
Rektor Universitas Ciputra, Prof. Dr. Wirawan E.D. Radianto, dalam sambutannya menegaskan pentingnya memandang keberagaman sebagai kekuatan bangsa.
"Diskusi ini menunjukkan bahwa perbedaan harus dipandang sebagai sebuah kekuatan. Dengan adanya pemahaman tentang perbedaan, kita semua terdorong untuk lebih toleran antara satu dengan yang lain,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda perlu memahami sejarah, termasuk kontribusi masyarakat Tionghoa dalam perjalanan bangsa. Ia menilai momentum Imlek dan Ramadan yang berdekatan menjadi pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman.
"Universitas Ciputra adalah rumah bagi mahasiswa dan dosen dari beragam latar belakang agama, suku, dan budaya. Nilai Bhinneka Tunggal Ika harus nyata dalam praktik,” ujarnya kepada awak media AnalisaPost saat ditemui usai kegiatan.

Sebagai perguruan tinggi yang berfokus pada kewirausahaan, Universitas Ciputra memandang hubungan Indonesia-Tiongkok sebagai peluang strategis bagi mahasiswa. Beberapa manfaat yang dapat dirasakan antara lain:
Studi banding dan pengalaman global, melalui program seperti Study & Explore China untuk mempelajari ekosistem bisnis dan teknologi di Tiongkok.
Peluang bisnis dan kewirausahaan, dengan menjadikan kemajuan industri dan inovasi teknologi Tiongkok sebagai referensi pengembangan usaha.
Pertukaran akademik dan beasiswa, termasuk kesempatan studi lanjut dan magang internasional.
Transfer teknologi, terutama dalam penguasaan manufaktur modern dan teknologi ramah lingkungan.
Sementara Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Dr. Ye Su dalam pemaparannya membuka diskusi dengan memutar video berdurasi sekitar 10 menit yang menampilkan seni bela diri tradisional kungfu. Tidak hanya manusia, robot-robot canggih juga diperlihatkan mampu melakukan gerakan akrobatik dan memainkan toya.
Menurutnya, tayangan tersebut menggambarkan pesatnya perkembangan teknologi dan industri Tiongkok. Ia menyebut ada dua faktor utama yang mendorong kemajuan negaranya dalam 47 tahun terakhir, yakni pertumbuhan ekonomi yang pesat dan stabilitas sosial yang terjaga.
Dr. Ye Su menjelaskan enam pilar pendukung kemajuan tersebut: kebijakan pemerintah yang konsisten, pemerataan pendidikan dari dasar hingga perguruan tinggi, pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi riil, pengentasan kemiskinan secara presisi, serta keterbukaan terhadap kerja sama internasional.
Menurutnya kekuatan ekonomi Tiongkok sebagai salah satu motor dunia dibangun di atas fondasi kesejahteraan rakyat. Ia juga memaparkan sejumlah keberhasilan program pembangunan yang telah dijalankan pemerintah Tiongkok, termasuk model pemberdayaan dan pembangunan berbasis kesejahteraan masyarakat (MBG) yang dinilai berhasil meningkatkan taraf hidup warga.
Selain itu, Dr. Ye Su menyinggung kerja sama konkret Indonesia-Tiongkok di bidang infrastruktur, salah satunya proyek kereta cepat Whoosh yang mempercepat konektivitas antardaerah. Proyek tersebut menjadi simbol kolaborasi strategis kedua negara dalam pembangunan transportasi modern.

Menurutnya, hubungan bilateral Indonesia-Tiongkok kini semakin erat, dengan Tiongkok sebagai salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Investasi mencakup sektor manufaktur, hilirisasi industri, hingga teknologi hijau yang berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Dalam kesempatan itu, Yenny Wahid membahas sejarah panjang bangsa Indonesia, khususnya perjalanan masyarakat Tionghoa di Tanah Air. Ia menyoroti kebijakan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang mencabut Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 tentang pembatasan agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa.
Kebijakan tersebut sebelumnya melarang perayaan tradisi Tionghoa dilakukan secara terbuka di ruang publik. Pencabutan aturan itu menjadi tonggak penting dalam menghapus diskriminasi dan mengembalikan hak kebebasan warga Tionghoa di Indonesia.
"Bangsa ini pernah mengalami masa di mana sebagian warganya tidak bisa mengekspresikan budayanya secara bebas. Kita harus belajar dari sejarah agar tidak mengulang diskriminasi yang sama,” kata Yenni.
Ia berpesan agar generasi muda menjaga persatuan dan tidak terjebak dalam konflik identitas.
"Kalau Indonesia ingin maju seperti Tiongkok, jangan terus bertengkar karena perbedaan. Kunci kemajuan adalah saling menghargai, bekerja sama, dan fokus membangun,” tegasnya.
Dari pantauan awak media AnalisaPost, diskusi tersebut menegaskan komitmen Universitas Ciputra untuk terus menghadirkan ruang dialog lintas budaya dan agama, sekaligus membekali mahasiswa dengan wawasan global di tengah dinamika dunia yang terus berkembang.(Che/Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar