top of page

Warisan Leluhur, Ruwatan Lebur Sengkala Tanjung Puri Sidoarjo

Diperbarui: 7 Mar 2022

SIDOARJO - analisapost.com | Sejak zaman dahulu hampir semua kebudayaan di dunia memiliki ritual. Khususnya Indonesia yang memiliki adat istiadat dan beraneka ragam budaya. Masuknya kebudayaan luar melalui berbagai media, tidak sedikit ikut mempengaruhi kelunturan terhadap budaya. Seperti salah satu yang di hadirkan pada saat Ruwatan Lebur Sengkala pada hari selasa (22/02/22) Siang itu.

Ruwatan Lebur Sengkala pada hari selasa (22/02/22) (Foto: Div)

Kegiatan yang digelar oleh Paguyuban Budaya Jawi Jenggala Manik bekerjasama dengan rumah budaya Rika Rahayu Rasmi di hadiri oleh Dewan pengurus Daerah Dulur Ganjar Pranowo Sidoarjo, Paguyuban Purnama Sidi serta komunitas Sidoarjo dilaksanakan mulai pukul 14.00 di areal Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tanjung Puri Sidoarjo.


Tradisi yang dilakukan secara turun temurun dari nenek moyang ini, mereka membawa aneka hidangan khas daerah setempat yang biasa disajikan pada acara sedekah bumi. Ada yang membawa tumpeng lengkap, tumpeng besar, lauk pauk, mereka datang dari empat penjuru dan di letakan di tengah-tengah para peserta bertujuan sebagai ungkapan rasa terima kasih atas melimpahnya hasil panen dan berdoa agar di jauhkan dari bencana terutama saat seperti ini adanya wabah virus corona-19. Jika tidak dilakukan, mereka akan merasa ada sesuatu yang tidak lengkap.



Seperti yang disampaikan oleh Bopo Agus Sigangjoyo, Ketua Paguyuban Jenggala Manik,"Ini merupakan tradisi leluhur kita yang wajib dilestarikan untuk menghilangkan segala sukerto atau musibah. Supaya negara kita khususnya di Sidoarjo adem ayem tidak ada halangan." tuturnya kepada awak media Analisa Post siang itu.


Bopo juga berpesan generasi muda harus dilibatkan agar mereka mengenal budaya sendiri. "Kalau bisa acara seperti ini semua diundang. Agar generasi muda tidak hanya tau budaya asing. tetapi tau budaya sendiri dan mereka bisa meneruskan warisan leluhur. Jangan sampai tergerus oleh jaman." tutupnya mengakhiri percakapan.


Disisi lain Herlambang sebagai Sub koordinator pengendalian layanan kebersihan Ruang Terbuka Hijau mengatakan,"Ruang Terbuka Hijau (RTH) merupakan area terbuka yang dapat dikunjungi masyarakat. Jadi siapapun boleh mengadakan acara di tempat ini."ujarnya

"Yang pasti ketika kita bicara budaya, tentu saja juga bicara soal lingkungan yang berfungsi untuk edukasi, tempat bernuansa budaya. Harapannya tahun ini konsep revitalisasi RTH segera terealisali dan di sebelah selatan akan di jadikan sebuah kawasan sebagai mall layanan publik."jelas Herlambang kepada awak media Analisa Post sore itu.


Usai doa bersama, dilanjutkan dengan makan bersama. Acara tahunan yang diselenggarakan secara sederhana, tidak seperti tahun-tahun sebelum pandemi,namun tetap berjalan dengan hikmad, penuh rasa syukur dan tetap menerapkan protokol kesehatan.(Che/Dna)

689 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua
bottom of page