Bara Itu Semakin Membara Di Tengah Tikaman Kemunafikan

Dalam lomba renang kehidupan

lumba-lumba disingkirkan

demi kera yang takut air.

Satu hal yang paling menjengkelkan bagi saya setiap kali sebuah gerakan menjadi besar dan awarenesnya mampu mencakup masyarakat luas dan mulai bergema di setiap ruang kehidupan adalah ketika ada sekelompok orang yang awalnya menghina-dina dalam rundungan diskriminasi dogma pesimisme mulai ikut menyeruak suara dalam balutan selimut kemunafikan tanpa nurani kebersalahan.


Mereka ini masuk menyerobot dan menggores etika sosial tatanan kepedulian para perintis yang dari awal sudah berjuang bersama dalam kerendahan hati dengan sikap kerelawanan yang tinggi tanpa pamrih demi kesetaraan hak asasi dan inkusifme kemanusiaan.


Hamparan burung bangau putih

tersentak galau dalam kebingungan

kala seekor ikan arwana perak

menyeruak lincah tiada dosa

di belantara kaki mereka.


Hal yang lumrah dalam drama kehidupan yang serba instan dan tak terduga kini jika di saat tertentu tetiba bermunculan anasir-anasir dengan riasan madu berpadu senyum ceria menggabungkan diri dalam barisan pejuang kesetaraan dengan itikad terselubung


Kepentingan popularitas diri sambil bergerilya menebarkan pesona kesediaan menanggung beban moral kemanusiaan secara bersama namun di medan perang tetiba bermetamofosis menjadi seorang komandan yang bersuara lantang dalam ketidaktahuan yang menyedihkan akan visi dan misi mulia para pejuang kesetaraan yang malah kini menjadi kebingungan akan munculnya bayangan kelabu di siang bolong yang tiada dikenal sama sekali.


Dari tengah hamparan putih suci

terdengar lirih suara sendu

satu persatu

kepakan sayap bangau putih

melayu tiada jiwa

dengan tatapan nanar

pada tanya yang tiada berjawab.


Dalam goresan panjang langkah perjuangan perwujudan keseimbangan hak bagi sesama tanpa dibatasi sekat dogma tabu diskriminasi akan ketidaksempurnaan lahiriah dan jiwani kemanusiaan, telah banyak insan yang berjibaku dalam lumpur kehinaan pesimisme ketidakpedulian dan kebutaaan nurani para pemegang tongkat kekuasaan gugur justru bukan di medan perang tapi ditikam dari belakang oleh mereka-mereka yang yang telah diperjuangkan selama ini yang terbius racun popularitas hedonisme maya tanpa menyadari mereka telah menjadi boneka doktrin egoisme yang utopia.


Dari entah dimana

bergema siulan tajam

menghentak kalbu yang terluka

yang mulai putus dalam asa.

bayu pun membadai

mengepak sayap-sayap layu

menegak terkembang dalam keagungan

menantang silau sang arwana perak

yang membius sesaat dengan liuknya.


Menuju ke arah kini, derap langkah semakin tegap dalam gema perjuangan inklusifme yang semakin membahana memekakkan gendang telinga para penguasa egohedonisme penuh narsisme.


Para pejuang kesetaraan bersatu padu dalam janji nurani suci dan tekad baru di bawah panji solidaritas murni mewujudkan tatanan dunia baru yang berimbang dalam kemanusiaan tanpa jurang penghalang kebutaan egoisme. Strategi baru regulasi inklusifme semakin memenuhi medan perang, mengobarkan semangat yang membara dalam bayangan kepastian akan dunia yang adil dan setara bagi semua penyandang disabilitas.


(Sujito Talare, pejuang kecil dari Utara)

Tag:

31 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua