BKNU Jatim Mewujudkan Kemaritiman Untuk Kesejahteraan dan Kemaslahatan Umat

SURABAYA - analisapost.com | Dalam rangka Peringatan Hari Santri Nasional dan Peringatan Hari Ulang Tahun Jatim ke 76, Badan Kelautan Nahdlatul Ulama (BKNU) Jawa Timur bekerjasama dengan IKA ITB Jawa Timur dan IKA ITS Jawa Timur menyelenggarakan Webinar dengan tema tema “Pemberdayaan Masyarakat Pesisir”Selasa 12/10/2021


Acara diawali dengan sambutan Ketua PW BKNU Jatim, Prof. Drs. Mahmud Mustain, MSc.PhD. Ia menyatakan bahwa webinar kali ini dengan tema Perberdayaan Masyarakat Pesisir Jawa Timur sebagai langkah lanjut dari BKNU Jawa Timur dalam mengemban visi dan amanat dari para kyai untuk mewujudkan kemaritiman untuk kesejahteraan dan kemaslahatan umat.


Permasalahan pesisir dan kelautan merupakan permasalahan yang sangat kompleks, sehingga diperlukan kerjasama dan sinergi dengan semua pihak dalam upaya menciptakan sinergi dalam pembangunan pesisir. Untuk itu PW BKNU Jawa Timur, melakukan kerjasama dengan IKA ITS Wilayah Jawa Timur dan IKA ITB Jawa Timur untuk sinergi dan bergandengan bekerjasama dalam upaya pemberdayaan masyarakat pesisir dan berdampak dalam upaya pengentasan kemiskinan yang ada pada masyarakat pesisir dan nelayan.

Selanjutnya, sambutan dan Tauziah Ketua PW NU Jawa Timur KH Drs. Marzuki Mustamar, M.Ag. yang menyatakan bahwa garis pantai merupakan pintu tedepan dan garda terdepan dalam mencegah masuknya barang-barang haram dan paham-paham yang dapat merongrong kelangsungan NKRI.


Merupakan tugas dari warga NU utamanya pengurus NU wajib peduli turut menjaga dan mengawasi termasuk jalur-jalur tikus sehingga barang-barang haram, paham-paham haram tidak masuk ke Indonesia. Keberadaan aparat tentunya sangat terbatas, maka peran warga NU diperlukan untuk ikut terlibat dalam mencegah hal hal seperti ini. Peran BKNU diperlukan disini untuk memberi pencerahan, pendampingan penyuluhan, dan terlibat dalam mencegah hal tersebut. BKNU dan pengurus NU, diperlukan secara aktif ikut menjaga garis pantai dan menyebarkan faham aswaja agar dapat menanggulangi paham-paham serta ideologi-ideologi yang terlarang dan dapat merongrong kelangsungan negara Indonesia.


"Penguatan pengurus NU serta warga dan kader NU terhadap paham ke NU an, melalui MKNU, PKPNU, dll diperlukan, sehingga mempunyai pemahaman aswaja, dan dapat ikut menjaga Indonesia dari rongrongan paham dan ideologi yang dapat merusak Indonesia." pungkas KH Marzuki.


Keynote Speaker Gubernur Jawa Timur, diwakili oleh Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jawa Timur, Dr. Dyah Wahyu Ernawati MA. Yang mengambil tema "Pengentasan Kemiskinan Masyarakat Pesisir Jawa Timur di era Pandemi".


Bebagai program dan langkah pemulihan ekonomi Jawa Timur telah dilakukan untuk memulihkan ekonomi Jawa Timur yang telah mengalami konstrkasi akibat pandemi serta upaya untuk mengentaskan kemiskinan masyarakat Jawa Timur dan khususnya masyarakat pesisir yang terdampak oleh adanya pandemi Dari Data statistik diketahuai, bahwa walau pandemi juga terasa pada sektor perikanan, dan mengalami penurunan produksi perikanan dibanding tahun-tahun sebelum penademi, namun sektor perikanan masih tumbuh positif.

Jawa Timur memiliki wilayah pantai yang cukup luas dan mempunyai sumberdaya perikanan, pertanian dan lainnya yang sangat beragam dan besar, akan tetapi sangat ironis kantong-kantong kemiskinan justru berada di daerah pesisir dan masyarkat nelayan. Ini merupakan tantangan Pemerintah Propinsi Jawa Timur dalam menyusun program yang dapat mengentaskan kemiskinan masyarakat pesisir.


Selain masalah lingkungan juga menjadi ancaman kedepan, untuk itu diperlukan juga program menjaga lingkungan pesisir dan terbebasnya dari limbah yang dapat menimbulkan pencemaran. Dinas Kelautan dan Perikanan telah mempunyai program pemberdayaan Pesisir dan Pulau Pulau Kecil di Jawa Timur, meliputi 3 hal yakni: Pengembangan Masyarakat, Pemberdayaan Masyarakat dan Komersialisai dan Rehabilitasi Sumberdaya Kelautan.


Selain itu Pemerintah Propinsi Jawa Timur juga sangat peduli terhadap permasalahan garam rakyat Jawa Timur, sehingga program-progran garam diskanla Jawa Timur juga diarahkan dalam peningkatan kualitas garam rakyat serta menyiapkan program yang semaksimal mungkin dapat menyerap garam rakyat. Pemerintah Jawa Timur juga telah menjadi rujukan dan percontohan nasional yang telah menyiapkan aturan terkait dengan penataan ruang wilayah pesisir dan laut lewat RZWP3K.


Webinar PW BKNU Jawa Timur kali ini akan ditindak lanjuti dengan program-program riil dengan bekerja sama dengan IKA ITB dan IKA ITS di berbagai PC BKNU Jawa Timur. "Sebagai pilot project adalah pemberdayaan nelayan kepiting dan kerang hijau di wilayah Ujung Pangkah Gresik yang nantinya dikelola oleh PC BKNU Gresik dan pondok pesantren diskitar Ujung Pangkah" pungkas Dr Dyah.


Pembicara pertama dalam webinar ini Prof Ir. Syarif Widjaya, MSc.PhD. dari IKA ITS Jatim yang juga mantan Sekjen KKP, Dirjen Perikanan Tangkap seta Kepala Badan BRKP KKP. memaparkan peran dari Teknologi Maritim dalam pemberdayaan masyarakat pesisir. Sesuai dengan arahan Presiden RI bp. Joko Widada, Indonesia mempunyai visi pembangunan maritim yang berkelanjutan bahkan mencanangkan Indonesia sebagai poros Maritim Dunia.


Indoensia mempunyai 8 sektor utama maritim yang belum dikelola secarabaik dan maksimal. Peran Teknologi dalam meningkatkan kemampuan, inovasi, kemandirian sangat mendesak diperlukan dalam upaya memaksimalkan pengelolaan 8 sektor maritim dan perikanan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarkat pesisir dan pulau pulau kecil.


Peran teknologi sangat significant untuk meciptakan kemandirian bangsa di sektor maritim, seperti dalam bidang penangkapan ikan, budidaya perikanan, Pengolahan Hasil Perikanan . Permasalahan yang ada sekarang masih sedikit sekali industri lokal yang dapat mendukung kemandirian sektor perikanan seperti terbatasnya industri jaring, perlengkapan perikanan tangkap, industri KJA dan lain-lain. Nilai tambah merupakan faktor penting dalam peningkatan pendapatan masyarakat nelayan.


Untuk sektor energi dan sumberdaya mineral selain besarnya potensi yang ada juga perlu dipikirkan bangunan-bangunan offshore yang sudah lama dan tidak beroperasi yang dapat menganggu keselamatan operasi di laut juga maslah limbah tambang mineral yang dapat mencemari lingkungan.


Sektor lain yang perlu dipikirkan adalah industri non konvensional seperti garam dengan menerapkan teknologi petani garam dan di industri pengolahan garam, diberbagai pondok pesantren sehingga maningkatkan kualitas dan nilai tambah dari produk garam. Hal ini dapat didorong penerapannya di pondok-pondok pesantren yang didukung dalam pengembangan teknologi oleh Perguruan Tinggi seperti UTM, ITS, UB dll.


Masalah sampah di laut menjadi tantangan ke depan, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang memberi konstribusi significant untuk sampah plastik di laut. Untuk ini diperlukan teknologi yang dapat medukung upaya mengurangi limbah plastik dan sampah di laut, selain juga dari aspek regiluasi yang mendukung upaya pegurangan sampah di laut ini.


Pondok-pondok pesantren mempunyai potensi yang besar dan perlu didorong untuk mampu mandiri dalam menciptakan atau membangun prasarana yang dapat medukung wisata bahari, seperi kapal pinisi, atau sarana lain yang diperlukan untuk mendukung wisata bahari.


Penciptaan teknologi modular dalam pembangunan sarana dan prasarana wisata bahari serta fasilitas lain di pesisir sangat prospektif ke depan, karena selama ini masih didominasi oleh produk import. Pemberdayaan pondok-pondok pesantren dapat ditingkatkan perannya dalam pemberdayaan masyarakat pesisir dengan menerapkan teknologi dan inovasi, peningkatan SDM pondok, investasi dan pemasaran serta didukung oleh jejaring yang kuat akan mampu pemnciptakan kemandirian di sektor maritim dan dapat berkonstribusi signifikan dalam upaya pemberdayaan masyarakat pesisir.

Ir. I Made Dana M. Tangkas, M. Si., IPU, ASEAN Eng. dari IKA ITB Jatim selalu pemateri kedua menyampaikan bahwa dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat pesisir diperlukan upaya peningkatan pemakaian produk dalam negeri. Belanja pemerintah maupun badan usaha nasional berpotensi sangat besar untuk dapat dibelanjakan terhadap produk dalam negeri. Manfaatnya antara lain dapat menghemat devisa negara, mengurangi ketergantungan terhadap produk impor, meningkatkan kesempatan kerja, dan meningkatkan utilisasi industri nasional. Hal ini antara lain dapat dilakukan dengan strategi pengembangan IKM/UMKM & Koperasi terpadu dalam tatanan era baru.


Pembangunan IKM/UKM secara terpadu sangat penting perannya dalam pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan masyarakat pesisir. Strategi yang kedua perlu dipikirkan adalah peningkatan sumberdaya manusia, terutama masyarakat pesisir. Pembangunan sumberdaya manusia melalui tiga parameter utama yang perlu dipertimbangkan yakni, Nilai-nilai/ value yang harus dipegang teguh dan dipertahankan, Perubahan paradigma atau mindset serta attitude dan pembangunan Sistem dan strategi serta menciptakan ecosistem yang terintgrasi dari hulu hingga hilir.


Satu faktor yang penting juga yang perlu dipertimbangkan adalah leadership yang mempunyai visi yang kuat serta mampu mentransformasi nilai-nilai yang ada menjadi aksi nyata yang lebih baik. "Selain harus didukung pasar yang kondusif juga diperlukan penguasaan teknologi dan kemampuan berinovasi." tandas Made Dana.


Prof. Mahmud Mustain menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari sinergi antar perguruan tinggi, dengan harapan untuk mewujudkan Visi Badan Kemaritiman Nahdlatul Ulama (BKNU) Jawa Timur sebagai Penggerak dan Pendorong Pembangunan Kemaritiman berkelanjutan di Jawa Timur untuk mewujudkan masyarakat Jam’iyyah Nahdlatul Ulama terutama di Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil yang berakhlaqul karimah, sejahtera, mandiri serta bermartabat.


Dengan demikian pertumbuhan ekonomi dari sektor utama kelautan dan perikanan dapat lebih ditingkatkan. Melalui kegiatan ini diharapkan nantinya terjalin juga sinergi lanjutan dengan PT/Univeristas di Jatim dalam menangani permasalahan kemaritiman dengan isu-isu yang aktual dan beragam.(Jadid)

123 tampilan0 komentar