Cara Merawat Tradisi Suro di Masa pandemi


Foto : Div (Suasana Malam Satu Suro)

Sidoarjo, Analisa Post | Indonesia kaya akan berbagai budaya salah satunya Malam satu Suro. Sebagian besar masyarakat Jawa masih mempercayai bahwa malam satu Suro memang malam istimewa. Di berbagai daerah banyak tradisi memperingati Tahun Baru Jawa sekaligus Islam ini. Beragam ritual dan kirab digelar sebelum masa pandemi. Namun karena sekarang dalam keadaan pandemi, maka segala kegiatan di laksanakan secara sederhana tahun ini.Kamis,(12/08/2021)


Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Suro, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender Hijriyah. Tradisi malam satu Suro selalu diadakan oleh masyarakat Jawa. Satu suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum. Sebab, pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam.


Beragam tradisi seringkali digelar untuk menyambut bulan Suro seperti Jasmasan pusoko, ruwatan, hingga tapa brata atau puasa. Dalam tradisi ini Paguyuban Sidoarjo Jenggolo Manik Sahabat Museum melakukan kegiatan macapat dan Jasmasan di halaman padepokan Agus Sigangjoyo.

Foto : Div

Tradisi malam satu Suro menitikberatkan pada ketentraman batin dan keselamatan. Karenanya, pada malam satu Suro biasanya selalu diselingi dengan ritual pembacaan doa dari semua umat yang hadir merayakannya selain macopat dan Jasmasan. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan berkah dan menangkal datangnya marabahaya.


Macopat sendiri adalah seni tradisi lisan dalam era digitalisasi. Merupakan suatu tantangan karena memasuki ruang-ruang yang paling dalam. Tentu saja hal ini sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan seni itu sendiri.


Kendati jumlah penggiatnya tidak begitu banyak, namun eksistentsinya cukup sering. Macopat memiliki keunikan tersendiri. Oleh karena itu tugas dari generasi penerus adalah mempertahankan. Sayang tidak jarang banyak budaya yang mulai pudar.


Jamasan sendiri adalah ritual membersihkan benda pusaka. Bukan hanya keris, tetapi ada tombak, pedang dan lain sebagainya. Ritual ini rutin dilakukan pada malam 1 suro selain Macopat.


Acara yang diadakan ini memiliki makna mendalam. Karena tidak asal dalam memandikan pusaka atau jasmasan.

Foto : Div

"Mari kita Pertahankan kebudayaan Jawa dan kita kembangkan kebudayaan jawa ini terutama bagi masyarakat pinggiran atau yang dipinggirkan yang kekurangan informasi tentang kebudayaannya, adat istiadat sendiri di wilayahnya sendiri, kegiatan ini juga dapat membantu anak didik di sekolah-sekolah yang ada saat ini” Tutur Agus Sigangjoyo Ketua Paguyuban.


Ada banyak cara dilakukan masyarakat Jawa untuk menyambut satu Suro. Tapi umumnya melakukan “laku prihatin” untuk tidak tidur semalaman. Aktivitas yang dilakukan adalah tirakatan, menyaksikan kesenian wayang, dan acara kesenian lainnya.


Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling disini memiliki arti manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan di mana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan. Sementara waspada berarti manusia juga harus terjaga dan waspada dari godaan yang menyesatkan. (Che/Dna)

24 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua