top of page

Dari Desa Nyitdah, Sampah Disulap Menjadi Komoditas Bernilai Hingga Ekspor

Diperbarui: 5 hari yang lalu

TABANAN - analisapost.com | Di tengah peliknya persoalan sampah di Bali termasuk wacana penutupan TPA Sarbagita Suwung sebuah inisiatif berbasis desa justru menunjukkan arah solusi. Dari Banjar Kebon, Desa Nyitdah, Bank Sampah Sedap Malam tumbuh sebagai model pengelolaan sampah yang tak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi hingga menembus pasar internasional.

Banjar Kebon, Desa Nyitdah, Bank Sampah Sedap Malam tumbuh sebagai model pengelolaan sampah
Banjar Kebon, Desa Nyitdah, Bank Sampah Sedap Malam tumbuh sebagai model pengelolaan sampah (Foto: Div)

Bank sampah ini dirintis sejak 2019 dan resmi berdiri pada 2020. Lahir dari kegelisahan panjang warga atas wacana pengelolaan sampah yang kerap berhenti di tataran rencana, pengurus akhirnya memilih bergerak dari sumber persoalan.


"Dari dulu selalu dibicarakan, tapi tidak pernah berjalan. Akhirnya kami mulai sendiri, dari rumah tangga,ā€ ujar Ketua Bank Sampah Sedap Malam, I Ketut Nada.


Pada awal operasional, layanan bank sampah ini hanya menjangkau lima desa. Namun sejak Oktober 2025, atas koordinasi Pemerintah Kecamatan Kediri, cakupan pelayanan diperluas hingga mencakup 13 desa se-Kecamatan Kediri. Pengelolaan sampah pun tak hanya menyasar rumah tangga, tetapi juga sekolah dan kawasan perumahan.


Kunci keberhasilan Sedap Malam, menurut Nada, terletak pada disiplin pemilahan sejak dari rumah. Warga diminta memilah sampah menjadi tiga kategori: anorganik, organik, dan residu. Sampah anorganik disetorkan ke bank sampah, sementara sampah organik diolah melalui lubang teba modern di rumah masing-masing. Adapun residu tetap diarahkan ke TPA Mandung.


"Pola ini perlahan mengurangi ketergantungan terhadap TPA. Bahkan hingga kini, kami belum pernah membuang residu ke TPA Mandung,ā€ jelasnya kepada awak media AnalisaPost saat di temui, Rabu (23/12/25).


Bank Sampah Sedap Malam beroperasi di atas lahan aset Pemerintah Kabupaten Tabanan seluas 9,5 are, dengan sekitar 8 are dimanfaatkan sebagai area pengolahan. Lahan bekas pasar tersebut kini berubah menjadi pusat pengelolaan sampah terpadu, berkat dukungan penyertaan modal BUMDes Desa Nyitdah serta dana pihak ketiga.

Ketua Bank Sampah Sedap Malam Tabanan, I Ketut Nada
Ketua Bank Sampah Sedap Malam Tabanan, I Ketut Nada (Foto: Div)

Setiap bulan, rata-rata satu banjar menyetorkan sekitar 500 kilogram sampah anorganik. Jika diakumulasi, lebih dari 200 ton sampah berhasil diolah dalam setahun. Sampah yang masuk tidak dibiarkan menumpuk, melainkan diproses melalui sistem bertingkat: dipilah, dicuci, digiling, hingga dikeringkan menggunakan mesin berkapasitas delapan ton bantuan CSR.


Menariknya, bank sampah ini menerapkan sistem pembelian sampah dari warga. Harga ditentukan berdasarkan jenis dan tingkat kebersihan, mulai dari Rp 100 hingga Rp 30 ribu per kilogram. Sampah tembaga menjadi yang bernilai paling tinggi, sementara plastik campur daun berada di kisaran terendah. ā€œSemakin bersih dan terpilah, nilainya semakin tinggi,ā€ tegas Nada.


Setiap setoran dicatat dalam nota dan buku tabungan warga, layaknya menabung di bank. Hasilnya dapat dicairkan kapan saja melalui BUMDes. Skema ini dinilai efektif mendorong partisipasi sekaligus menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap pengelolaan sampah di desanya.


Saat ini, Bank Sampah Sedap Malam fokus mewujudkan target zero sampah di Kecamatan Kediri. Karena itu, sampah dari luar wilayah tidak diterima. Dengan empat armada operasional dan 20 karyawan, bank sampah ini mengelola berbagai jenis sampah anorganik, mulai dari plastik, kertas, logam, busa, hingga kaca.


Sebagian hasil olahan bahkan telah menembus pasar internasional. Botol plastik yang telah dipilah dan dipress rutin dikirim ke Hongkong setiap tiga bulan, dengan volume mencapai 10 ton per pengiriman. Sementara plastik dan kertas hasil cacahan dikirim ke luar Bali, seperti Malang dan Mojokerto, Jawa Timur. Adapun sampah kaca disalurkan ke pengepul lokal untuk diolah menjadi bahan cat.

Sampah anorganik ini siap dikirim sebagai bahan baku daur ulang bernilai ekonomi, sebagian di antaranya menembus pasar ekspor
Sampah anorganik ini siap dikirim sebagai bahan baku daur ulang bernilai ekonomi, sebagian di antaranya menembus pasar ekspor (Foto: Div)

Di balik capaian tersebut, tantangan masih dihadapi. Keterbatasan tenaga kerja menjadi kendala utama. Saat ini dibutuhkan sekitar 50 karyawan tambahan agar operasional bisa berjalan optimal setiap hari. ā€œMinat masih terbatas, dengan kisaran upah Rp1,5 juta hingga Rp2,1 juta per bulan,ā€ ungkap Nada.


Keterbatasan mesin pengolahan juga masih dirasakan. Namun pada 2026 mendatang, Bank Sampah Sedap Malam direncanakan mendapat tambahan bantuan CSR berupa mesin pelet plastik dan mesin pencetak produk rumah tangga.


"Mudah-mudahan ke depan kami sudah bisa mengolah sampah menjadi produk jadi yang bermanfaat,ā€ harapnya.


Meski biaya operasional mencapai sekitar Rp 30 juta per bulan, semangat pengelola tak surut. Bagi mereka, pengelolaan sampah berbasis sumber adalah kunci keluar dari krisis sampah Bali. ā€œMari sama-sama mengolah sampah dengan bijak,ā€ pungkas Nada.(Dwa)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya