Dukung Indonesia Jadi Poros Maritim Dunia, Ini Deretan Inovasi yang Dilakukan BMKG

Jakarta, Analisa Post | Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menegaskan komitmen lembaga yang dipimpinnya untuk mendukung dan membantu usaha pemerintah dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia.Jumat (24/9/21)


Dwikorita mengatakan, bentuk dukungan yang diberikan meliputi berbagai inovasi-inovasi dalam pelayanan informasi cuaca dan iklim maritim guna menyokong pembangunan sektor maritim meliputi pelayaran transportasi laut, minyak dan gas, perikanan, pembangunan infrastruktur laut dan lain sebagainya.

“Kami terus berinovasi agar dapat menyajikan data dan informasi cuaca dan iklim maritim. Yang tidak sekedar cepat, namun tepat dan juga akurat,” ungkap Dwikorita Karnawati di Jakarta, Jumat (24/9).


Menurut Dwikorita, inovasi di sektor maritim menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan, di mana 75% wilayah Indonesia adalah lautan. Seluruh potensi sumber daya kelautan Indonesia tersebut perlu dikelola secara optimal dan berkelanjutan agar dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kesejahteraan rakyat.


Dwikorita menerangkan, berbagai lompatan inovasi yang dilakukan BMKG, diantaranya modernisasi peralatan observasi laut seperti Marine Automatic Weather Station (MAWS), HF Radar (Radar Maritim), Vessel Automatic Weather Station (VAWS), Drifter Buoy dan Profiling Float, serta peningkatan kapasitas operasional pemodelan cuaca laut berbasis numerik melalui Coupled Atmospheric - Wave and Ocean (CAWO) dengan resolusi spasial dan temporal yang sangat tinggi.


Di Sektor Transportasi Laut, kata Dwikorita, BMKG telah meluncurkan inovasi yang dikenal dengan Indonesian Weather Information For Shipping (INA-WIS) yang dapat diakses di www.maritim.bmkg.go.id/inawis. Sistem ini merupakan terobosan dan pengembangan dari sebuah informasi analisis dan prakiraan cuaca konvensional menjadi sistem prediksi cuaca berbasis dampak (impact based forecasting) dan peringatan dini berbasis resiko (risk based early warning).


Sistem informasi ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sektor, agar informasi dapat lebih bermanfaat, mendukung keselamatan dan efisiensi operasional di lapangan serta mengurangi intensitas dari dampak yang akan timbulkan. Melalui sistem ini, dapat diketahui informasi cuaca maritim selama 10 hari ke depan, informasi pelayaran port to port, dan juga menyediakan informasi daerah tangkapan ikan. Semua jenis kapal yang termonitor juga akan terpantau score risk-nya terhadap spesifikasi kapal yang dapat menyatakan persentase tingkat risikonya terhadap kondisi cuaca di lautan.


Inovasi lainnya yaitu System of Indonesia Aviation (SIAM), INA-DRIFT, dan INA-OPSMAR. SIAM sendiri adalah layanan metereologi penerbangan yang terintegrasi dengan pengelolaan big data yang memnyediakan informasi cuaca penerbangan, mulai dari satelit cuaca, radar cuaca, informasi turbulensi, SIGMET, significant Weather (SigWx), kondisi cuaca bandara, hingga prakiraan cuaca bandara (TAF). SIAM dapat diakses melalui www.rami.bmkg.go.id/siam/.


Sedangkan INA-DRIFT adalah sistem informasi trajektori laut yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang operasi kegiatan penanggulangan bencana lingkungan, seperti marine debris, tumpahan minyak, dan aktivitas Search and Rescue (SAR) yang lebih akurat. Adapun INA-OPSMAR adalah Sistem Monitoring Operasional Meteorologi Maritim yang terintegrasi dengan sistem jaringan Automatic Weather System (AWS) yang tersebar di seluruh Indonesia. INA-OPSMAR dapat diakses di www.maritim.bmkg.go.id/operasional/.


Tidak ketinggalan, inovasi Prakiraan Cuaca Berbasis Dampak atau "BMKG Signature" (BMKG - System for Multi Generations Weather Model Analysis and Impact Forecast) yang didesain tidak hanya menyediakan informasi cuaca secara umum, tetapi juga potensi dampak yang dapat ditimbulkan oleh cuaca. BMKG Signature dapat diakses di www.signature.bmkg.go.id/weather.


Sementara itu, Deputi Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan selain inovasi dalam pengembangan produk layanan, BMKG juga bekerjasama dengan K/L terkait dalam peningkatan kapasitas pemahaman (ocean literacy) kepada masyarakat / stakeholder dalam memahami informasi dari BMKG.


Diantaranya, dengan menggelar Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) yang bertujuan memberikan pemahaman terkait pemanfaatan informasi cuaca dan iklim secara efektif dalam mendukung kegiatan perikanan. BMKG juga menggelar Sekolah Lapang Cuaca Perairan (SLCP) yang bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan untuk meningkatkan pemahaman operator transportasi laut serta penyeberangan terhadap informasi cuaca dan iklim dari BMKG.


Adapun guna meningkatkan observasi cuaca kelautan khususnya di Samudera Hindia , sejak tahun 2015 BMKG bekerjasama dengan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) USA melaksanakan kegiatan pemeliharaan ATLAS - buoy RAMA serta melakukan pengamatan data-data meteorologi maritim, atmosfer, oseanografi, dan juga pengamatan marine-geophysics.


Selain itu, BMKG juga aktif bekerjasama dengan institusi di tingkat internasional melalui kegiatan Years of the Maritime Continent (YMC) merupakan kerangka kolaborasi riset internasional yang menekankan pada observasi lapangan dan pemodelan cuaca untuk mendalami lebih jauh peran Bumi Maritim Indonesia (BMI) dalam dinamika cuaca dan iklim global.


“Kami berharap, apa yang dilakukan BMKG ini dapat turut mendongkrak pengembangan ekonomi maritim Indonesia. Mewujudkan maritim kuat, Indonesia hebat,” pungkasnya. (Hms/Ced)

134 tampilan0 komentar