Forum Budaya Surabaya Gelar Ngopi dan Ngobrol Bareng Pasca Pandemi Covid-19

Diperbarui: 7 Nov 2021

SURABAYA - analisapost.com | Forum Budaya Surabaya (FBS) menyelenggarakan Ngopi dan Ngobrol bareng FBS dengan tema “Merawat Budaya & Meraih Sukses Lewat Sosial Media”. Acara yang dihelat di Rumah Budaya Mawar Surabaya, Jl. Mawar No. 54 dibuka oleh Ketua FBS, Desemba Sagita Titahelew. Jumat (05/11/21)


Dalam sambutannya, seniman yang menggeluti dunia lukis ini menyatakan bahwa kegiatan ini adalah aktifitas pertama FBS paska pandemi. Sebelumnya, FBS mulai kegiatannya pertama kali September 2017 bersama seniman dan budayawan Surabaya diantaranya alm Sabrot D Malioboro, Esti Susanti, Hendri Nurcahyo, Amang Mawardi, Prof. Soetanto Soepiadhy, Toto Sonata dll.

Foto : Jadid (Kiri ke kanan Desemba Sagita, Didik Ashadi, Budiono Sukses, Henri Nurcahyo, Meimura)

Pada kesematan ini kami kirim doa untuk Almarhum Sabrot dan Pak Tjuk K Sukiadi serta kawan seniman lainnya yang wafat di saat pandemi dan kami bersyukur kami bisa lolos dari pandemi tersebur. “Kegiatan ini sebagai alternatif mengisi ruang kosong kegiatan seni budaya Surabaya bersama dengan kawan lain sebagai dedikasi FBS sejak awal dimunculkan.” Pungkas Desemba.


Sebelum Ngopi dan Ngobrol bareng FBS dimulai, pada kesempatan bertemunya para seniman dan aktifis Jatim tersebut, acara didahului dengan penyerahan tanda mata dari Yuska Harimurti selaku Gusdurian Jatim kepada cak Teguh Prihandoko selaku perwakilan Rumah Dapoer Mawar / Rumah Budaya Mawar, untuk selanjutnya dipasang di rumah tersebut.


“Malam ini berkesempatan menyerahkan "tanda cinta" untuk Rumah Jl.Mawar yang sudah hampir 4 bulan ini kami tempati sebagai basecamp gerakan saling jaga. Sebuah tanda cinta berupa lukisan karya seniman Surabaya Cak Desemba Sagita, sebuah lukisan potret KH.Abdurrahman Wahid yang sedang mendengar musik di sebuah toko kaset. Semoga mampu terus memberi inspirasi.” Tutur Yuska.


Acara dimoderatori oleh Henri Nurcahyo, seorang penulis dan budayawan yang menekuni budaya Panji, serta menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Didik Ashadi Pemimpin Kadang Kidung Menoreh, Youtuber @Pak Didik (di luar komunitas budaya dikenal sebagai Laksamana Pertama dr. Ahmad Samsulhadi, MARS / Penanggungjawab RSLI) dan Budiono Sukses selaku Food Vlogger Kuliner kondang dari Jawa Timur, youtuber @Budiono Sukses.


Pak Didik menyampaikan bahwa Budaya Nusantara adalah Jati Diri Bangsa. Siapa yang akan menjaga dan melestarikannya kalau bukan kita. Sebagai bentuk kepedulian, Didik berupaya menampilkan karya seni Campursari di Youtube yang merupakan salah satu cara dalam menyampaikan “pesan” untuk menggiatkan aktifitas melestarikan Budaya Nusantara.

Foto : Jadid (Kiri ke kanan Yuska Harimurti, Teguh Prihandoko, A'an Gusdurian, Desemba Sagita)

“Sebagai Publik Figur, kita harus tidak pernah merasa lelah untuk tetap Ing Ngarso Sung Tulada, Ing Madyo Mangun Karso dan Tutwuri Handayani.Untuk itu perlu mengemas berbagai kegiatan yang mudah diterima oleh anak-anak dan remaja, agar tumbuh rasa Cinta Budaya Nusantara.” Tutur Didik.


Budiono selaku pemantik kedua memaparkan kondisi kekinian tentang perkembangan sosial media, khususnya pada platfom YouTube. YouTube menyediakan ekosistem yang bagus untuk berkarya karena setiap hari ditonton oleh jutaan penonton potensial dari dalam dan luar negeri. Juga ada pengiklan yang memungkinkan content creator pendapatkan penghasilan untuk membiayai prosesnya dalam membuat karya.


Semakin banyak yang nonton videonya maka peluang mendapatkan penghasilan terbuka semakin lebar. Bagi seniman ini bisa jadi cara baru untuk mendapatakan penikmat karya seninya dari seluruh dunia. “Dalam berkarya di YouTube seorang kreator harus tetap bertanggungjawab terhadap lingkungan sosial dan budaya. Nilai-nilai keIndonesiaan harus tetap dikedepankan. Jangan sampai menghalalkan segala cara demi mengejar subscriber dan views.” tegas Budiono.


Menanggapi hal tersebut, Meimura (seniman teater dan ludruk) menyatakan bahwa medsos menjauhkan pelaku seni dengan penonton/penikmatnya. Apalagi dalam konteks teater yang melibatkan penonton sebagai satu kesatuan pagelaran, menjadi terkendala. Juga sosial media sekarang nampaknya juga sudah jauh dari persoalan etika dan estetika.


Apakah nantinya tidak mungkin menjadikan budaya nusantara tergerus oleh perkembangan jaman. Henri Nurcahyo berpendapat bahwa dunia medsos, termasuk YouTube telah menjebak manusia modern dalam ketergantungan. Smartphone yang smart malah menjadikan manusia bodoh.


Analog dengan bencana alam banjir dan longsor yang diakibatkan perusakan alam, maka jangan-jangan puluhan tahun yang akan datang kita akan mengalami bencana budaya akibat kemajuan teknologi media sosial. Sekarang semua orang berlomba-lomba bahkan dipaksa masuk ke dunia medsos, tetapi siapakah yang memikirkan dampak negatifnya? Siapakah yang peduli anak-anak kecil yang sudah kecanduan medsos? “Upaya memikirkan dampak negatif itu bukan tidak ada tetapi mereka bagaikan tetes embun di Padang pasir. Kita semua sekarang sedang dijebak oleh "kemelekatan" dengan medsos dan segala rekayasa yang menyertainya” Tutur Henri. Radian Jadid (Sekretaris FBS) mengkritisi realitas kekinian bahwa intruisi budaya korea sudah nyata di depan mata.


Ibu-ibu sudah keranjingan drakor, iklan dan konten medsos Indonesiapun sudah menggunakan konten dan artis korea. Juga telah merebak turunan budaya seperti fesion dan kuliner. Peran negara jelas ada dalam upaya mereka, sedangkan kita (Indonesia) nampaknya masih jauh dari harapan.

Dua jam lebih diskusi berlangsung, menutup acara, Henri memberikan beberapa catatan yang bukan merupakan kesimpulan, karena hanyalah rangkuman dan warning dari berbagai persoalan yang menyertai perkembangan medsos dari tinjaun budaya. Sudah menjadi fakta yang tidak bisa ditolak bahwa perkembangan pesat media sosial sudah jadi budaya tersendiri yang memaksa.

Foto : Jadid

Ada sebuah dunia besar, yakni kapitalisme yang menyertai perkembangan medsos dan sangat susah melawan. Namun demikian masih ada yang punya itikat baik, kecemasan, dan idealisme waaupun bagai dari setes embun di padang pasir namun setidaknya terap ada secercah harapan untuk sebuah perbaikan.


Kita dihadapakan pada pilihan untuk terus berenang dan berselancar, namun tidak terjerumus dalam budaya lain. Gawai yang kita pegang setiap hari bukanlah sekadar teks yang berdiri sendiri tetapi ada konteks global yang menyertainya. Ada banyak kepentingan di dalamnya. Semuanya saling tarung atas nama kemajuan teknologi. Kalau memang sudah "maju" trus emangnya mau dibawa kemana? Jadi pertanyaan besarnya QUO VADIS MEDSOS?


Selama berlangsungnya acara, baik di awal maupun di akhir juga diisi dengan penampilan Musikalisasi Puisi oleh Gatot StrenKali cs. Selain aktif dalam gerakan dan pendampingan masyarakat stren kali, Gatot bersama kawan-awannya juga aktif berkesenian. Awal pembukaan acara ia mengisi dengan instrument suling dan digital musik.


Ia juga menggunakan alat musik akustik, perkusi, gitar efek, Suling, terbangan, harmonika, ecek ecek dan musik digital. Dilanjutkan dengan musikalisasi puisi karya Akhudiyat dengan Ketika Iklan, Ketika Daun, Disandera Mesin. Sedianya, juga digelar performa Main Biola oleh Arul Lamandau, sebagai soft launching performa 45 jam nostop nanti tgl 9-10 November2021. Sebelum itu, tanggal 7 November 2021 Arul mengunjungi makam WR Soepratman, Bung tomo dan Gombloh untuk ziarah dengan jalan kaki sebagai bentuk “kulonuwun” sekaligus permohonan doa restu.


Arul menggelar perform 45 jam nonstop sebagai bentuk apresiasi peristiwa 10 november dengan harapan bisa menjadi pemantik untuk merubah keputusan presiden nomor 316 Tanggal 16 Desember 1959 menyatakan 10 november 1945 sebagai hari pahlawan nasional bukan hari libur nasional, menjadi Hari Liburnasional agar masyarakat (Surabaya pada khususnya) bisa lebih khidmat dalam peringatan 10 november dari tahun ke tahun. (Radian Jadid)


#forumbudaya

#forumbudayasurabaya

#softlounching


574 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua