FSAI 2026 Sajikan Film Kontemporer dan Diskusi Budaya
- analisapost

- 11 jam yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 kembali digelar oleh Kedutaan Besar Australia dengan menghadirkan film-film kontemporer pilihan dari Australia dan Indonesia di 11 kota di Indonesia, termasuk Surabaya.

Festival ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan budaya dan industri kreatif antara kedua negara melalui medium perfilman.
Pembukaan FSAI Surabaya berlangsung di Hotel Sheraton dan dihadiri Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew. Acara diawali dengan pemutaran film dokumenter The Northern Territory InterventionĀ (2007) yang mengangkat kehidupan masyarakat Aborigin di pedalaman Australia dengan pendekatan sinematik yang kuat dan reflektif.
Selain pemutaran film, FSAI Surabaya 2026 juga menghadirkan masterclass bertajuk Participatory Production and Cross-Cultural StorytellingĀ bersama pengajar senior School of Media, Creative Arts and Social Inquiry, Curtin University, Michelle Johnston.
Kegiatan tersebut membahas proses produksi dokumenter partisipatif serta pentingnya penceritaan lintas budaya dalam industri perfilman.
Melalui kurasi film yang beragam dan diskusi kreatif, festival ini menjadi ruang bagi penonton maupun kreator untuk memahami berbagai perspektif budaya. Kegiatan tersebut juga menjadi bentuk dukungan Australia terhadap perkembangan industri kreatif Indonesia.
Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, mengatakan film memiliki peran penting sebagai media komunikasi budaya antarnegara.
"Film merupakan medium komunikasi budaya suatu negara. FSAI adalah bentuk komunikasi Australia dan Indonesia kepada penonton untuk memperkuat pemahaman budaya masing-masing negara,ā ujarnya.
Menurutnya, festival tersebut juga menjadi perayaan kemitraan industri kreatif Australia dan Indonesia melalui karya-karya film yang mengangkat beragam kisah, termasuk film keluarga yang hangat dan dekat dengan kehidupan masyarakat.

Dalam sesi masterclass, Michelle Johnston membagikan pengalamannya memproduksi film dokumenter yang mengangkat isu sejarah dan budaya masyarakat adat Australia. Ia mengaku membutuhkan waktu untuk memahami dampak mendalam dari pengalaman traumatis yang dialami anak-anak, masyarakat adat pada masa lalu.
"Butuh waktu bagi saya untuk benar-benar memahami semuanya. Baru setelah saya merenungkan hal-hal mengerikan yang telah dilakukan terhadap anak-anak pada masa itu, saya mulai menyadari dampaknya. Awalnya, dia tidak ingin membicarakan hal tersebut,ā kata Michelle.
Ia kemudian memperlihatkan cuplikan film Heartland TimeĀ yang menampilkan unsur olahraga, kisah budaya, serta pengalaman dan kenangan masyarakat adat Australia.
Michelle menjelaskan salah satu tantangan terbesar dalam produksi film tersebut adalah menyusun dua alur waktu berbeda dalam satu cerita. Pendekatan tersebut dilakukan untuk menghormati tradisi penceritaan masyarakat Yolngu sekaligus tetap dapat diterima penonton non-Pribumi.
āSaya pikir itu adalah salah satu film tersulit yang pernah saya buat. Struktur penceritaannya mengikuti metode tradisional masyarakat Yolngu, namun tetap berusaha menghadirkan kisah yang otentik dan mudah dipahami penonton luas,ā ceritanya.
Ia menilai film dokumenter partisipatif tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana membangun empati dan perubahan sosial. Menurutnya, kekuatan cerita mampu menghubungkan pengalaman manusia dari berbagai latar belakang budaya.
āMenciptakan perubahan adalah salah satu alasan utama saya membuat film, karena bercerita memiliki kekuatan untuk menghubungkan orang dan berbagi pengalaman manusia yang penting,ā ucapnya.
Michelle juga mengajak penonton untuk terbuka terhadap cerita-cerita yang berbeda dari pengalaman pribadi mereka sendiri.
"Sering kali cerita yang membuat kita tidak nyaman justru menantang kita melihat dunia secara berbeda dan menginspirasi perubahan yang berarti,ā tuturnya.
Dalam sesi diskusi, Michelle menegaskan pentingnya melibatkan komunitas, sesepuh, dan penasihat budaya dalam proses produksi film partisipatif. Menurutnya, keputusan terkait perbedaan perspektif dalam komunitas sebaiknya ditentukan secara kolektif oleh masyarakat itu sendiri.

āBukan peran saya untuk memutuskan versi cerita siapa yang benar atau salah. Keputusan itu harus datang secara kolektif dari masyarakat,ā pesan Michelle.
Ia juga menyinggung film Indonesian CallingĀ (1948) sebagai salah satu karya penting yang merefleksikan hubungan sejarah antara Indonesia dan Australia pasca-Perang Dunia II. Menurutnya, masih banyak kisah bersama kedua negara yang dapat diangkat menjadi film bermakna.
Michelle menekankan bahwa cerita besar sering kali berawal dari pengalaman lokal dan personal yang sederhana.
āAda pepatah di Australia, āFrom little things, big things growā. Cerita kecil dan kolaborasi kecil pada akhirnya dapat tumbuh menjadi sesuatu yang kuat, bermakna, dan abadi,ā pungkasnya. (Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar