Harga Cabai Rawit Melejit, Inflasi Jawa Timur Tembus 0,76 Persen
- analisapost

- 2 hari yang lalu
- 2 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatatkan inflasi sebesar 0,76 persen secara bulan (month to month/m-to-m) pada Desember 2025. Kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama cabai rawit, menjadi faktor utama pendorong inflasi di akhir tahun.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, Zulkipli, menjelaskan bahwa dengan inflasi Desember tersebut, inflasi tahunan Jawa Timur mencapai 2,93 persen secara year on year (y-on-y).
"Pada Desember 2025, Jawa Timur mengalami inflasi 0,76 persen. Dengan demikian, inflasi tahunan kita tercatat sebesar 2,93 persen," ujar Zulkipli, Senin (5/1/26).
Ia menyebutkan, inflasi terjadi di seluruh 11 daerah Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Timur. Kabupaten Jember mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,86 persen, sementara Kabupaten Tulungagung menjadi yang terendah dengan 0,56 persen.
Menurut Zulkipli, cabai rawit menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar terhadap inflasi. Harga cabai rawit melonjak hingga 100,03 persen dengan andil inflasi sebesar 0,24 persen pada Desember 2025.
Selain cabai rawit, beberapa komoditas lain juga memberi sumbangan inflasi, di antaranya emas perhiasan yang naik 4,49 persen, daging ayam ras naik 4,56 persen, angkutan udara meningkat 6,04 persen, serta bawang merah yang mengalami kenaikan harga 8,17 persen.
Di sisi lain, terdapat dua komoditas yang justru menahan laju inflasi. Cabai merah tercatat mengalami deflasi sebesar 16,67 persen, sementara beras mengalami penurunan harga 0,24 persen.
Zulkipli menambahkan, dinamika harga sepanjang 2025 turut dipengaruhi sejumlah faktor, seperti musim panen dan curah hujan yang berdampak pada ketersediaan bahan pangan, khususnya komoditas hortikultura. Selain itu, pergerakan harga emas dunia serta peringatan hari besar keagamaan nasional juga memicu kenaikan harga pada komoditas tertentu.
Ia menegaskan, inflasi pada Desember 2025 tidak hanya terjadi di Jawa Timur, melainkan juga dialami oleh seluruh provinsi di Indonesia.
"Secara nasional, semua provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Provinsi Aceh sebesar 3,60 persen, sedangkan terendah terjadi di Provinsi Maluku Utara sebesar 0,05 persen," tutupnya. (Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar