Ibu Hj. Sinta Nuriah Abdurrahman Wahid Menyapa, Teguhkan Kebhinekaan NKRI

Diperbarui: 27 Apr

SURABAYA - analisapost.com | Dengan adanya pandemi covid-19, dua tahun sudah agenda rutin keliling nusantara yang sudah dimulai sejak tahun 2000an yakni acara buka dan sahur Bersama Dr Dra. Hj. Sinta Nuriah Abdurrahman Wahid, M.Hum. terhenti.

Ibu Hj. Sinta Nuriah Abdurrahman Wahid Menyapa, Teguhkan Kebinekaan NKRI (Foto: Tim)

Memasuki tahun ketiga pandemi ini Ibu Sinta tergerak untuk menginisiasi kembali. Kali ini acara dikemas dengan label Ibu Sinta Nuriyah Menyapa, yang dilakukan dengan sangat terbatas dan protokol kesehatan ketat. Dan karena beliau adalah Istri dari Presiden RI keempat (KH. Abdurrahman Wahid), maka protokol pengamanan dari Paspampres juga diterapkan. Pesertanyapun dibatasi hanya 40 orang dan semua peserta serta panitia menjalani swab sebelum masuk keruang pertemuan.


Bertempat di Gereja Katolik Santo Yosafat (GKSY), Semolowaru - Surabaya, Kamis 21 April 2022 dilangsungkan acara “Ibu Sinta Nuriyah Menyapa” yang dihadiri para perwakilan dari lintas agama, aktifis perempuan, penggerak kebhinnekaan, komunitas alumni perguruan tinggi, pendamping masyarakat, dhuafa, pemuda dan mahasiswa. Ibu Sinta datang ditempat acara disambut dengan lagu Melati yang dibawakan oleh paduan suara anak-anak dari GKSY.


Ibu Sinta didampingi Romo Agustinus Eka Winarno (GKSY) dan Nia Sjarifudin Joedopramono (Aliansi Nasional Bhinneka Tungggal Ika), Mas Priyo Sembodo (Staf khusus Ibu Sinta) dan Mbak Ira Sulistya (Direktur Puan Amal Hayati) menyapa satu persatu undangan yang hadir.


Mengawali sapaannya pada momentum Ramadhan ini, ia mengingatkan bagi yang sudah berpuasa, apakah sudah menunaikannya dengan baik apa belum, apa hanya gugur kewajiban saja. Apakah sudah dilakukan sebaik-baiknya, apakah puasa bisa merubah sifat dan karakter kita. “Kalau sudah, kemudian dilanjutkan dengan memahami dan mengamalkan Bhinneka Tunggal Ika, satu nusa satu bangsa. Untuk itu kerukunan harus dijaga. Kalau kita rukun, Negara kuat.” Pesan Sinta.


Sinta menambahkan, yang bisa membuat saya bahagia, pada saat pertemuan itu adalah hadirnya para tokoh-tokoh lintas agama itu semua ada. Kebhinnekan itu sudah mulai tertanam. Betapa indahnya keberagaman. Untuk itu shinta meresmikan tiga formula guna menjaganya. Ada tiga kelompok atau rukun yang harus kita fahami, kita miliki, kita jaga, dan kita jalani. InsyaAlloh kita akan mendapatkan limpahan anugrah Alloh SWT dan selamat dunia akherat.

Ketiga rukun itu adalah rukun keagamaan, rukun ketatanegaraan dan rukun Kesehatan. Sinta melanjutkan penjelasannya.


Pertama, rukun agama. Masing-masing agama pasti memiliki rukun yang wajib dijalankan pengikutnya. Kalau Islam, sekarang puasa. Itu juga melaksnaakan Rukun Islam yang jumlahnya ada lima, yakni syahadat, sholat, puasa ramadhan, zakat dan haji bagi yang mampu. Begitu pula dengan agama lainnya. Semua umat menjalankan rukun agamanya masing-masing. Dengan demikian maka kita akan mendapatkan anugrah dari Tuhan Yang Maha kuasa.


Kedua, rukun ketatanegaraan. Yakni yang wajib dijalankan oleh dan untuk seluruh rakyat Indonesia, yakni Dasar Negara Indonesia, yaitu Pancasila, yang terdiri dari lima sila. Apakah itu sudah dipahami betul? Apakah sudah dimengerti, sudah dijaga?


Ketiga rukun Kesehatan. Saat ini kita menghadapai pandemi covid-19 yang sangat berpengaruh terhdap Kesehatan individu sebagaia bagian dari masyarakat. Untuk itu kita perlu menjalankan rukun Kesehatan yakni protocol Kesehatan 5M guna pencegarahan merebaknya covid-19. Ditambah dengan vaksinasi maka kita berharap Kesehatan masyarkat akan dapat terjaga dengan baik.


“Saya datang kesini untuk menyapa, hanya menyapa, semoga apa yang saya sampaikan membawa manfaat. Rakyat sehat, negara kuat, negara gemah ripah loh jinawi atau baldatun thoyyibatun warobbun ghofur” pungkas Sinta.


Istri Gus Dur tersebut juga memberikan kesempatan para peserta yang hadir untuk memberikan masukan. Salah satu peserta dari BPIP memberikan apresiasi dan menyatakan rasa terima kasihnya karena sebagai tokoh bangsa, Bu Sinta tetap menyapa, dialog, dan mengupayakan kebhinnekaan terus dirawat. Dengan dialog dan saling menyapa, bangsa Indonesia akan bisa saling memahami dan akan menjadi negara besar.


Hal ini harus disampaiakan ke generasi berikutnya, untuk terus merawat Pancasila. Tidak mudah memberi penjelasan ke rakyat, dengan bahasa yg dimengerti masyarakat. Ibu Sinta telah menjalankanya dan untuk itu BPIP sangat mendukung kegiatan Ibu Sinta Menyapa.


Demikian halnya dengan Dr. Yeyes Mulyadi, yang merupakan salah satu Pembina kemahasiwaan di ITS. Ia merasa senang sekali, hormat dan terima kasih diberikan kesempatan bergabung dalam acara ini.


Bersama dengan perwakilan mahasiwa ITS, yakni mahasiwa dari Papua, Pulau terluar Rote, NTB, NTT, dan dari Sumatera merupakan representatif dari keberagaman yang ada di kampus. Yeyes menjelaskan bahwa keberagaman terus dikembangkan di kemahasiswaan ITS untuk memahami bahwa Indonesia itu adalah Bhinneka Tunggal Ika. Kebhinnekaan sangat penting bagi keberlangsungan Indonesia, dan peran mahasiswa sangat penting didalamnya.


Yeyss mencontohkan Dengan berkegiatan bersama disaat pandemic mengadakan program bantuam makanan bagi 300 mahasiwa selama tiga bulan. Semua bisa berjalan dengan baik dan sukses dari gotong royong, sebagai kekuatan bangsa. Juga dikoordinasikannya relawan kebencanaan yang pedli dan bergerak dalam berbagai bencana.


Kebhinnekaan yang kita tanam di kampus, salah satunya terinspirassi almarhum Gus Dur, yang sangat menjunjung tinggi nilai kebergaman dan kemanusiaan. ‘Pada kesempatan ini kami sampaikan terima kasih kepada Gus Dur dan keluarga, yang saai ini bisa kami sampaikan langsung dengan diwakili Bu Sinta sebgai istrinya.” Pungkas Yeyes.


Lukito, bapak dari Audrie penulis buku “Kado untuk Bangsa”, menyampaikan bahwa alangkah baiknya kalau toleransi dimulai sejak usia dini. Salah satunya melalui buku atau komik-komik bagi anak-anak umur 5-6 tahun.


Seperti yang dilakukan oleh anaknya dengna buku yang diciptakannya. Buku merupakan media yang tepat bagi anak untuk menyampaikan anjiran dan pesan tentang keberagaman. Sedangkan Didik Wahyudi, wakil dari GKJW Sukolilo, menceritakan bahwa sebelum pandemic, gerjanya dua kali ketempatan kegiatan GUSDURian.

Mereka melakukan diskusi, bertukar dan ide pemikiran lintas agama. Mereka menjalankan warisan ajaran Gus Dur yang kuat luar biasa. Kalau tiap kampung atau desa ada semacam adik-adik GUSDURian, maka tiga rukun tadi bisa disosialisasikan dan diterapkan, “Mudah-mudahan ada banyak GUSDURian di banyak tempat sehingga kebhinnekaan bisa terjaga.” Tutup Didik.


Itia Endambia, mahasiwa ITS dari Raja Ampat, Papua juga menyampaikan hal serupa. Ia sangat kagum pada suami bu Sinta. “Budi banyak terima kasih pada Gus Dur, karena ajarannya tentang kemanusiaan dan keberagaman menyebar di tanah Papua. Toleransi dan sikap sangat ramah di wujudkan di sana. Banyak pendatang, banyak keragaman. Bahasa Indoensia kita pakai dalam berkomunikasi dengan mereka supaya pendatang dihargai. Itulah yang bisa kita jalankan dalam merawat Indonesia.” Papar Itia.


Pada kesempatan tersebut Acara yang diselenggarakan bertepatan dengan hari Kartini ini, diiringi lagu Ibu Kita Kartini oleh paduan suara anak-anak GKSY, Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid juga didaulat sebagai Kartini Indonesia kekinian. Peran dan kiprahnya dalam merwat kebhinnekaan di Indonesia tidak perlu diragukan lagi dan layan mendaptkan apresiasi sebagai tokoh bangsa.


Acara dipungkasi dengan penandatangan Plakat berupa untaian kata yang merupakan pesan dari Gus Dur yang disampaikan pada Deklarasi Bhinneka Tunggal Ika pada tahun 2006. Pesan itu berbunyi “KEBERAGAMAN ADALAH KEKUATAN JATI DITI BANGSA, YANG TIDAK BOLEH DILEMAHKAN APALAGI DIHILANGKAN”. Plakat ditandatangai oleh Ibu Hj. Dr. (H.C.) Dra. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum selaku Istri Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) yang merupakan tokoh yang selalu meneguhkan kebhinnekaan Indonesia.(RJ)

2 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua