Inden RSLI Mencapai Lebih Dari 200 an, RSLI Perlu Relaksasi dan Perhatian

Diperbarui: 1 Jul 2021


Foto : Red

Surabaya, Analisa Post | Mendekati penghujung bulan Juni, Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya terus melakukan layanan terbaik dan maksimal untuk para pasien covid-19. Penanggung jawab Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI), Laksamana Pertama TNI dr. I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara, Sp.B., Sp. BTKV. memberikan keterangan terkait kondisi RSLI hari ini. Senin (28/06/2021)


Hari ini pasien dirawat sejumlah 358 orang terdiri dari Pekerja Migran Indonesia/PMI 62 orang, Kluster Madura 21 orang dan pasien Mandiri 277 orang. Namun masih ada sejumlah pasien inden (antri masuk) sebanyak 213 orang. Kapasitas RSLI 410 bed, dan sesuai instruksi Gubernur Jawa Timur, akan dilakukan penambahan hingga kapasitas 500 bed. Hari ini 50 bed yang dipinjamkan ke Bangkalan sudah dikembalikan dan akan dimasukkan ke lantai 2 gedung museum kesehatan untuk penambahan kapasitas RSLI. Sisanya menggenapi 500 akan diupayakan segera.


Selama bulan Juni 2021 RSLI telah menerima 854 pasien, yang terdiri dari PMI, limpahan Klaster Bangkalan dan pasien umum dari Surabaya dan sekitarnya (351 pasien). Awal Juni komposisi pasien lebih didominasi dari PMI dan klaster Bangkalan, namun sepuluh hari terakhir jumlah pasien dari Surabaya meningkat tajam hingga 63,4 persen (201 pasien Surabaya dibandingkan total 317 pasien masuk sepuluh hari terakhir). Meningkatnya jumlah penderita covid-19 ini menjadi indikator makin marak dan meluasnya kembali serangan covid-19 yang sangat dimungkinakan dengan ciri-ciri varian baru yang lebih mudan dan cepat menular.

Foto : Red

Dari data Relawan Pendamping Keluarga Pasien Covid-19 RSLI nampaknya klaster keluarga dan institusi kembali mendominasi pasien RSLI. Hal ini bisa jadi akibat lanjutan dari liburan panjang pascalebaran serta kendur nya masyarakat menjalankan prokes. Selama bulan Juni setidaknya terdapat 65 klaster keluarga (46 keluarga terdiri dari 2 orang, 9 keluarga terdiri dari 3 orang, 8 keluarga terdiri dari 4 orang,dan 2 keluarga terdiri dari 5 orang) dan 14 klaster institusi/perusahaan/perumahan dengan jumlah yang terpapar bervariasi antara 2,3,7,9,16 hingga 20 orang.


Dr Nalendra mengkhawatirkan kondisi tenaga kesehatan menyusul adanya lonjakan kasus Covid-19 yang mengakibatkan RSLI kebanjiran pasien. RSLI sudah mencapai titik puncak kemampuan merawat. Dengan kapasitas 410 bed, tingkat hunian sekarang telah mencapai kisaran 350an pasien dan jumlah inden (antri masuk) yang semakin banyak hingga sampai tembus diatas 200an antrian.


Yang jadi perhatian kami adalah kelelahan kawan-kawan nakes. Kita harus pahami bersama bahwa begitu nakes kelelahan imunnya turun dan akan mudah terinfeksi," kata Nalendra. Untuk itu dr Nalendra menghimbau semua pihak untuk lebih taat dan ketat dalam menjalankan protokol kesehatan, terutama 5M ditambah 1 M lagi yaitu menghindari makan bersama.


Meningkatkan imunitas dengan cara makan makanan bergizi, banyak protein, vitamin dari asupan buah-buahan, menjaga kebugaran tubuh serta pikiran agar rileks dan tidak capek. Kalau capek segera istirahat. Mulai sekarang harus sudah mulai menjalankan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat dengan kebiasaan baru (new normal).

Foto : Red

Bagi yang terpapar covid-19 atau yang merasa mulai ada gejala covid-19 utamanya gejala ringin, isolasi mandiri di rumah merupakan pilihan yang tepat dan rasional pada kondisi sekarang ini. Silahkan melaporkan kondisi ke Puskesmas terdekat, nanti akan dibantu untuk menjalani isolasi mandiri.


Selain bisa pula mendapatkan informasi tentang panduan isolasi mandiri di situs covid-19 pemerintah. Rumah sakit sudah banyak yang penuh, intensitas serta paparan covidnya semakin banyak dan sangat berpotensi menular.


Tingkat hunian yang hampir penuh di semua faskes serta keberadaan nakes yang mulai kewalahan dan lelah karena tiap hari dihadapkan pada sejumlah penderita covid yang harus dilayani, menandakan faskes mulai mengalami kejenuhan. “Jaga selalu kesehatan masing-masing, bantu kami mengurangi beban rumah sakit beserta nakes dan relawannya, sehingga tetap dapat memberikan layanan bagi yang lebih membutuhkan” pungkas dr Nalendra.(Red/Dna)

7 tampilan0 komentar