Jelang HUT Surabaya, AAI DPD Jatim Bersama Tim Medis Gelar Pemeriksaan Gratis Untuk Anak Istimewa

SURABAYA - analisapost.com | Memperingati Hari UlangTahun Surabaya, AAI DPD Jatim mengadakan acara pemeriksaan awal kesehatan dengan tujuan agar penangganan pada anak istimewa tidak terlambat. Jumat (20/05/22)

dr.Satria Wiwaha, saat melakukan pemeriksaan bersama di SLB Bangun Bangsa (Foto: Div)

Dalam penangganan penyakit yang menyebabkan penyakit kronis dari beberapa anak istimewa/ABK sehingga menambah beban keluarga, maka AAI DPD Jatim bersama Tim Medis dr. Clairin Setyadji, dr. Satria Wiwaha, dr.Edo Tandean,SpBS, FRCS, MRCS, Ph.D, C.Ac melakukan pemeriksaan gratis yang dilaksanakan di SLB Bangun Bangsa jalan Oro-oro II No 35, Pacar Keling, Kec. Tambaksari.Surabaya.


Sebanyak 50 anak di lakukan pemeriksaan kesehatan dengan mengecek berat badan, tekanan darah tinggi, screnning dan konseling terhadap keluhan-keluhan kesehatan anak-anak ABK seperti kurang gizi, gigi, ginjal, jantung, cerebal palsu, alergi dan lain-lain.


"Kegiatan ini dilakukan untuk mencegah timbulnya penyakit baru. Karena dalam menangani anak-anak ABK dibutuhkan kesabaran." Ujar Vivin kepada awak media Analisa Post.


Guna memastikan perlindungan kesehatan bagi mereka pada masa pandemi, "Mereka juga merupakan generasi penerus bangsa yang dapat berikan sesuatu bagi bangsa. Karena dibalik keterbatasan, pasti memiliki kelebihan." tutur Vivin Komala ketua AAI DPD Jatim.


Bagi ABK yang punya riwayat penyakit, tenaga kesehatan akan memberikan obat serta tindakan yang sama dengan masyarakat umum. Namun tentu saja membutuhkan perlakuan khusus.

dr.Edo Tandean,SpBS, FRCS, MRCS, Ph.D, C.Ac sedang melakukan pemeriksaan (Foto:Div)

Kendati demikian, Vivin menjelaskan, tidak tertutup kemungkinan bagi ABK untuk mendapatkan vaksin dalam meningkatkan imunitas tubuh.


Pelayanan kesehatan bagi ABK, kata Vivin, penanganannya, sama seperti masyarakat pada umumnya. Selain itu, para tenaga medis harus memperhitungkan kondisi, riwayat kesehatan, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap mereka.


Perlindungan kesehatan bagi kaum difabel, terutama ABK menuntut sinergi banyak elemen masyarakat. baik dari komunitas, lembaga kesehatan, juga pihak swasta.


"Bagi masyarakat yang peduli terhadap anak-anak ABK dan memberikan sumbangsihnya, kami sangat terbuka dan menerimanya dengan senang hati." ujar wanita sederhana mengakhiri perbincangannya. (Dna)

1.461 tampilan0 komentar