top of page

Sentilan Presiden Picu Aksi Bersih Sampah di Bali

DENPASAR - analisapost.com | Teguran Presiden Prabowo Subianto terkait persoalan sampah di Bali dinilai menjadi pemicu bangkitnya kesadaran kolektif masyarakat untuk menangani masalah lingkungan. Sampah yang selama ini menjadi momok, khususnya di Pulau Dewata sebagai destinasi pariwisata dunia, kini mendapat perhatian serius berbagai pihak.

Aparat, komunitas, dan warga bahu-membahu membersihkan sampah kiriman yang menumpuk di pesisir barat Bali.
Aparat, komunitas, dan warga bahu-membahu membersihkan sampah kiriman yang menumpuk di pesisir barat Bali (Foto: Ist)

Sejumlah komunitas masyarakat di Bali terlihat aktif melakukan aksi bersih-bersih di berbagai titik publik. Kegiatan tersebut menyasar kawasan destinasi wisata, kompleks perkantoran pemerintahan, hingga permukiman padat penduduk yang selama ini dikenal sebagai titik rawan penumpukan sampah.


Anggota DPRD Kabupaten Badung, Puspa Negara, menilai teguran Presiden merupakan wujud kepedulian terhadap Bali sebagai etalase Indonesia di mata dunia.


"Presiden sayang dengan Bali. Karena itu beliau menegur. Ini harus menjadi momentum bagi kita semua untuk sadar, menjaga kebersihan dengan aksi nyata yang berkelanjutan. Kita harus jengah, fokus, dan konsisten mengelola sampah di Bali,” ujarnya, Rabu (4/2).


Menurut Puspa Negara, persoalan sampah di Bali mendadak menjadi sorotan global setelah Presiden menegur para kepala daerah. Kondisi ini dinilai paradoksal, mengingat Bali sebelumnya dinobatkan sebagai World Best Destination 2026 versi TripAdvisor.


Di sisi lain, sebuah biro perjalanan asal Amerika Serikat, Fodors, bahkan menyebut Bali tidak layak dikunjungi pada 2025 akibat persoalan sampah, kemacetan, perilaku sebagian wisatawan asing, serta meningkatnya kriminalitas.


Paradoks lain juga terlihat di media sosial, ketika narasi Bali sepi wisatawan ramai diperbincangkan. Faktanya, kunjungan wisatawan mancanegara justru meningkat sekitar 11 persen, dari 6,3 juta orang pada 2024 menjadi 7,05 juta orang pada 2025. “Data ini menunjukkan ada persoalan mendasar yang harus segera dibenahi dalam tata kelola Bali,” katanya.


Hingga kini, sampah masih menjadi masalah serius, baik di darat maupun di kawasan pesisir. Sampah darat masih menumpuk di berbagai lokasi dan belum tertangani dengan sistem yang bersih dan jelas. Sementara itu, sampah kiriman di pantai selalu datang setiap tahun saat musim angin barat atau west monsoon.


Ratusan ton sampah diketahui menumpuk di pesisir barat Bali, terutama di kawasan Kuta, Legian, Kedonganan, Jimbaran, dan Kelan. Kabupaten Badung, yang memiliki garis pantai sekitar 82 kilometer dan sebagian besar menghadap ke barat, menjadi wilayah paling terdampak. Hampir seluruh pantai dari Labuan Sait Pecatu hingga Seseh setiap tahun menerima kiriman sampah dalam jumlah besar, yang didominasi campuran kayu, ranting, dan sampah plastik.


Pada era 1980-an, sampah pesisir masih dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai kayu bakar atau bahan penunjang aktivitas lainnya. Ranting-ranting yang terbawa arus juga digunakan sebagai pupuk alami bagi vegetasi pantai. Namun sejak 1990-an, kebiasaan tersebut mulai ditinggalkan seiring berubahnya pola konsumsi dan meningkatnya dominasi sampah plastik yang sulit dipilah dan dimanfaatkan.


Gubernur Bali, Wayan Koster, menyampaikan bahwa pemerintah daerah bersama masyarakat telah melakukan berbagai upaya, meski hasilnya belum maksimal.


"Kita berhadapan dengan sampah kiriman dari alam yang volumenya luar biasa. Pemda Badung dan Pemerintah Provinsi Bali melalui DLHK sudah menyiapkan petugas kebersihan setiap pagi, didukung alat berat serta partisipasi masyarakat, pelaku usaha, dan stakeholder. Namun sampah ini terus datang sejak Desember hingga Februari,” ujarnya.


Ia menjelaskan, pada musim angin barat, sampah yang dibersihkan pada pagi hari kerap kembali menepi pada siang atau sore hari. Untuk itu, diperlukan solusi berbasis teknologi, seperti sistem penjaringan sampah di laut, alat pemisah sampah dan pasir, serta penambahan infrastruktur pengangkutan dan TPST khusus sampah pesisir. Di Pantai Samigita saja, volume sampah dapat mencapai 200 ton per hari.


Menurutnya, seluruh elemen masyarakat Bali perlu menempatkan pengelolaan sampah sebagai prioritas utama. "Sentilan Presiden merupakan peringatan agar kita semua tetap peduli dan waspada, di tengah berbagai upaya pembenahan pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir,” katanya.


Ia menegaskan, Bali membutuhkan dukungan konkret dari pemerintah pusat, terutama dalam penguatan manajemen serta pembangunan infrastruktur dan teknologi pengolahan sampah modern yang ramah lingkungan.


Sampah merupakan tanggung jawab bersama, sehingga setiap individu yang memproduksi sampah wajib ikut mengelolanya secara bijak dan berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan. (Dna)


Dapatkan berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari dan ikuti berita terbaru analisapost.com klik link ini jangan lupa di follow.

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya