top of page

Jelang Paskah, Paus Leo XIV Terima Kejutan Istimewa dari Indonesia di Vatikan

VATIKAN - analisapost.com | Menjelang Hari Raya Paskah, Paus Leo XIV menerima sebuah patung Santo Yusuf dari Arimatea yang dipersembahkan secara khusus oleh delegasi Indonesia dalam audiensi umum di Lapangan Santo Petrus, Vatikan, Rabu (25/3/2026).

Paus Leo XIV menerima patung Yusuf Arimatea dalam audiensi di Lapangan St Petrus, Vatikan
Paus Leo XIV menerima patung Yusuf Arimatea dalam audiensi di Lapangan St Petrus, Vatikan. (Foto: Ist)

Patung tiga dimensi tersebut menggambarkan adegan penurunan tubuh Yesus Kristus yang telah wafat dari kayu salib. Selain tokoh Yusuf dari Arimatea, karya itu juga menampilkan empat tokoh lain, yakni Bunda Maria, Maria Magdalena, serta dua orang pembantu Yusuf Arimatea.


Karya tersebut merupakan hasil desain AM Putut Prabantoro, Founder Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI), dan disebut sebagai patung pertama dengan tema tersebut yang dibuat di Indonesia.


Dalam audiensi itu, patung diserahkan kepada Paus Leo XIV oleh Stanislaus Jumar Sudiyana saat delegasi PWKI bersama Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) bertemu dengan pemimpin Gereja Katolik dunia tersebut.


Delegasi PWKI yang hadir antara lain Mayong Suryo Laksono, Bonfilio Mahendra Wahanaputera, dan Asni Ovier Dengen Paluin. Dari pihak KWI hadir Ketua Komisi Komunikasi Sosial sekaligus Uskup Surabaya Mgr Agustinus Tri Budi Utomo serta Sekretaris Eksekutif Komisi Komunikasi Sosial, Rm Petrus Noegroho Agoeng Sri Widodo.


Rombongan tersebut turut didampingi Rm Markus Solo Kewuta SVD, yang disebut sebagai satu-satunya pejabat Vatikan asal Indonesia.


Kunjungan PWKI dan KWI ke Vatikan juga berkaitan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) penggunaan Bahasa Indonesia secara resmi oleh Vatican News. Dokumen tersebut ditandatangani antara KWI dan Dikasteri Komunikasi Takhta Suci usai audiensi dengan Paus Leo XIV.


Yusuf dari Arimatea dikenal sebagai tokoh elite Yahudi yang memiliki pengaruh besar pada masanya. Ia merupakan anggota Mahkamah Agama Yahudi (Sanhedrin) dan dikenal sebagai sosok terpandang. Dalam tradisi Kristiani, Yusuf dari Arimatea juga disebut sebagai salah satu murid Yesus yang mengikuti secara diam-diam.


Saat peristiwa penyaliban, Yusuf dari Arimatea meminta izin kepada Pontius Pilatus, penguasa Romawi di Yerusalem, untuk menurunkan jenazah Yesus dan memakamkannya secara layak. Setelah izin diberikan, ia kemudian menurunkan tubuh Yesus dari salib dan memakamkannya di area pemakaman miliknya.


Menurut Putut Prabantoro, patung tersebut merupakan karya pertama di Indonesia dengan adegan penurunan Yesus dari salib oleh Yusuf dari Arimatea. Ia menyebut karya serupa juga sulit ditemukan di berbagai negara, termasuk di Roma, Italia.


Untuk merealisasikan karya tersebut, Putut menggandeng Nico dari Brata Gallery, Yogyakarta.


ā€œSebelum membuat patung tersebut, saya sudah melakukan penelusuran ke berbagai sumber melalui internet. Bahkan pematung di berbagai kota di Indonesia saat diminta membuat patung Yusuf Arimatea selalu meminta contoh atau model jadi. Sementara toko-toko penjual patung rohani menyatakan tidak pernah memiliki,ā€ ujar Putut.


Ia menjelaskan, desain patung disusun berdasarkan rekonstruksi cerita dari kakaknya, L Putut Widiantoro, yang mengaku mendapat gambaran atau vision mengenai kisah penurunan tubuh Yesus oleh Yusuf dari Arimatea.


Menurut Putut, terdapat dua unsur penting dalam karya tersebut, yakni pemilihan warna dan penamaan patung.


Tokoh Yusuf dari Arimatea diberi warna khusus agar mudah dikenali sebagai fokus utama, sementara tokoh lainnya dibuat berwarna hitam untuk melambangkan suasana duka cita.


ā€œAlasannya diberi warna hitam selain Yusuf Arimatea karena warna hitam menjelaskan peristiwa duka cita. Kecuali Yusuf Arimatea semuanya diberi warna hitam,ā€ katanya.


Setelah patung selesai dibuat, karya itu kemudian diberi nama dalam bahasa Ibrani dan Latin, yang disebut sebagai dua bahasa resmi pada masa peristiwa penyaliban Yesus.


Untuk memastikan penulisan nama tersebut, Putut berkonsultasi dengan Rm Markus Solo Kewuta SVD yang berkarya di Vatikan serta Rm Antonius Suhermanto dari Keuskupan Tanjung Karang.


Ia menyebut proses pengerjaan patung, mulai dari pembuatan sketsa hingga selesai, memakan waktu sekitar tujuh bulan.


Sementara itu, keputusan keberangkatan delegasi ke Vatikan ditetapkan oleh Mgr Agustinus Tri Budi Utomo saat pertemuan pada 15 Februari 2026.


Menurut Mayong Suryo Laksono, penandatanganan MoU penggunaan resmi Bahasa Indonesia ditetapkan berlangsung pada Rabu, 25 Maret 2026, menyesuaikan jadwal Uskup Surabaya yang hanya memiliki waktu lima hari di Roma, yakni 23–27 Maret 2026.


Rencana keberangkatan sempat menghadapi tantangan akibat terganggunya jalur penerbangan internasional serta melonjaknya harga tiket ke Eropa menyusul konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat.


Meski demikian, agenda kunjungan tetap terlaksana, termasuk penyerahan patung kepada Paus Leo XIV dan misa kudus yang berlangsung di Kapel Biara St Maria Teresa Scrilli, Via Baglioni 10, Roma. (Che)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Ikuti Kami

Google
Instagram
Youtube
Tiktok
Facebook
Whatsapp

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya