Kasus DBD di Jawa Timur

SURABAYA - analisapost.com | Penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Ae.Albopictus, ditandai demam 2-7 hari disertai dengan manifestasi perdarahan, penurunan jumlah trombosit <100.000/mm3, adanya kebocoran plasma ditandai peningkatan hematokrit ≥ 20% dari nilai normal. Pemeriksaan serologis (ELISA, RDT dengue) menunjukkan hasil positif, perlu diwaspadai.

Foto: Ilustrasi

DBD ditularkan oleh nyamuk Ae.aegypti dan Ae. Albopictus, Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit atau menghisap darah orang yang sakit DBD atau yang di dalam darahnya terdapat virus dengue, tapi tidak menunjukkan gejala sakit.


Virus dengue yang terhisap akan berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh nyamuk, termasuk kelenjar liurnya. Bila nyamuk tersebut menggigit / menghisap darah orang lain, virus akan dipindahkan bersama air liur nyamuk. Virus dengue akan menyerang sel pembeku darah kecil (kapiler), akibatnya terjadi pendarahan dan kekurangan cairan bahkan bisa mengakibatkan syok.


Ciri-ciri Nyamuk Aedes aegypti : warna hitam bintik putih di badan dan kakinya, menggigit siang hari, hidup dalam rumah dan sekitarnya terutama di tempat yang agak gelap dan lembab serta kurang sinar matahari, tempat bertelur di tempat berisi air jernih.


Penyebaran nyamuk Aedes tersebar luas di daerah tropis dan sub tropis hingga ketinggian ± 1000 meter dari permukaan laut. Kemampuan terbang nyamuk betina rata rata 40 m maksimal 100 m.


Faktor yang mempengaruhi penyebarluasan DBD adalah kepadatan penduduk, mobilitas penduduk, perilaku masyarakat, perubahan iklim (climate change) global, pertumbuhan ekonomi, ketersediaan air bersih.


Untuk itu upaya pencegahan pun dilakukan dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3 M plus minimal satu minggu sekali melalui kegiatan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik yaitu bertujuan meningkatkan peran serta dan pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan setiap keluarga untuk pemeriksaan, pemantauan, pemberantasan jentik nyamuk.

Foto: Ilustrasi

Untuk pengendalian penyakit tular vektor khususnya DBD melalui pembudayaan PSN 3M plus kegiatan 3M :

  1. Menguras (Membersihkan) bak mandi, vas bunga, tempat minum binatang peliharaan, tatakan dispenser.

  2. Menutup Rapat Tempat Penampungan Air (TPA) : Bagi TPA yg tidak mungkin dikuras atau ditutup , berikan larvasida.

  3. Menyingkirkan/memanfaatkan/mendaur ulang barang bekas : Ban bekas, botol plastik, kaleng bekas

Pus :

  1. Memberantas larva: memberikan Larvasida, memelihara ikan pemakan jentik, memasang ovitrap /larvitrap/ mosquitotrap.

  2. Menghindari Gigitan Nyamuk: Menanam pohon pengusir nyamuk, pakai kelambu, repelent/anti nyamuk dll

Situasi DBD di Jawa Timur


Pada tahun 2022 (1-27 Januari 2022) penderita DBD sebanyak 1.220 orang, dengan jumlah kematian 21 orang (CFR = 1,7%). Jumlah penderita DBD tertinggi tahun 2022 (1-27 Januari 2022) adalah :

  1. Kab. Bojonegoro = 112 orang.

  2. Kab. Nganjuk = 82 orang.

  3. Kab. Malang = 73 orang.

  4. Kab. Ponorogo = 64 orang.

  5. Kab. Tuban = 61 orang

Adapun jumlah kematian DBD tertinggi tahun 2022 :

  1. Kab.Pemekasan = 3 orang.

  2. Kab. Bojonegoro = 2 orang.

  3. Kab. Nganjuk = 2 orang

Bila dibandingkan tahun 2021 pada bulan Januari 2021 penderita DBD sebanyak 668 orang dengan jumlah kematian 5 orang. Total penderita DBD tahun 2021 di Jawa Timur sebanyak 6.417 orang, dengan jumlah kematian sebanyak 71 orang (CFR = 1,1%), .


Upaya yang sudah dilakukan :

  1. Surat Edaran Gubernur Jawa Timur tgl. 28 Oktober 2020 tentang Kewaspadaan DBD di musim penghujan. Dinkes Prov. Jatim sudah membuat surat ke Dinkes Kab/Ko tentang Penatalaksanaan DBD untuk disampaikan ke fasyankes daerah.

  2. Dinkes Prov. Jatim membuat surat ke Dinkes Kab/Ko untuk waspada kenaikan kasus DBD, penekanan pada upaya pencegahan dan pelaporan 1x24 jam agar dapat segera dilakukan PE oleh puskesmas/Dinkes Kab kota.

  3. Sosialisasi/promosi kesehatan DBD melalui media elektonik/cetak untuk mengajak masyarakat dalam PSN 3M plus melalui kegiatan satu rumah satu jumantik.

  4. Koordinasi dengan sektor terkait dalam upaya pencegahan penyakit DBD.

  5. Surveilans kasus DBD di daerah.

  6. Menyiapkan sarana pelayanan kesehatan, tenaga dan logistik dalam upaya pengendalian penyakit DBD









Seperti data yang di peroleh Analisa Post, hal tersebut merupakan tolak ukur puncak musim penularan DBD sebagaimana data yang terkumpul. Himbauan kepada masyarakat, segera memeriksakan keluarga apabila mengalamai demam tinggi. Bila ada keluarga yang di diagnosis DBD, segera melapor ke Puskesmas.(Dna)












821 tampilan0 komentar