top of page

Keceriaan Anak - Anak TK Tunas Jepara Meskipun Memikul Beban Berat

Diperbarui: 14 Apr 2023

SURABAYA - analisapost.com I Tumpukan sepatu berjejer di depan ruangan Balai RW yang di gunakan sebagai kelas. Puluhan siswa tampak belajar diatas lantai berwarna putih. Hanya ada meja lipat yang di bawa dari rumah oleh masing-masing murid tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) Tunas Jepara jalan Jepara no.20 Surabaya. Sejak mulai digunakan untuk belajar, gedung ini memang belum dilengkapi kursi dan meja. Senin (10/4/23)

Suasana kelas saat anak-anak beraktivitas 10/4/23) (Foto: Charles)

Dimana dunia pendidikan tingkat TK adalah pondasi anak untuk bisa membaca, menulis dan berkreasi. Di temui di ruang kelas Kepala sekolah TK Tunas Jepara Surabaya, Chotidjah mengatakan semua anak-anak didikannya yang sekolah disini ketika lulus dipastika bisa membaca dan menulis walaupun dengan ruangan seadanya.


"TK Tunas Jepara ini berdiri sudah 33 tahun ada 41 siswa dengan 3 guru pengajar. Untuk mendidik mereka, kami sesuaikan perkembangan anak-anak namun untuk pembelajarannya beda tergantung usia mereka mulai pagi jam 9.00 ," ujar Chotidjah sebagai kepala sekolah saat di konfirmasi awak media Analisa Post.


"Kami sekarang ada di sini sedang mengungsi, karena gedung sekolah milik RW lagi di renovasi persiapan akreditasi. Disini kami di berikan fasilitas untuk pembelajaran anak-anak khususnya bagi warga wilayah Jepara dan sekitarnya. Meskipun gedung milik RW, tetapi para perangkat ini sangat mensupport," jelasnya.


Wanita sederhana yang murah senyum ini menaruh sebuah harapan besar agar mereka menjadi generasi penerus bangsa yang berbudi luhur, baik, jadi anak-anak terpelajar, serta menjadi kebanggan orang tua serta berguna buat agama berikut bangsa.


Saat ditanya awak media Analisa Post mengenai bullying atau perundungan, Chotidjah pun menjawab bahwa tidak di temukan kasus tentang hal itu yang intinya mengajar harus dengan ketulusan.


"Soal nakal selama ini masih wajar. Disini mereka di ajarkan menari berikut menggambar. hal ini dilakukan untuk mengurangi adanya membuli atau mengejek sesama teman dan bahkan mimpi terbesar adalah mempunyai gedung sendiri,"tutur Guru yang tinggal di daerah Pakal.


Sementara Ketua Komnas Perlindungan Anak Kota Surabaya, Syaiful Bachri mengatakan,"perlunya tingkat kesadaran pada anak-anak yang masih kurang mengerti tentang bullying, perlu digencarkan sehingga anak-anak mulai dini bisa menjaga diri terutama dalam bersikap agar tidak ada lagi kekerasan terhadap anak-anak dan tidak ada lagi perundungan baik itu di sekolah, dirumah ataupun dilingkungan," paparnya.


Dalam kesempatan yang sama, salah satu siswi celetuk dan berkata," aku suka sekolah ini. Tiap hari kesekolah sendiri ngak ada yang antar sambil bawa meja dari rumah (meja lipat)," ceritanya sambil tersenyum lebar menunjukan meja lipat yang ia bawa dari rumah menuju ke sekolah setiap hari.


Gadis mungil ini dengan lugunya bercerita seolah-olah tidak ada beban yang ia rasakan meskipun harus membawa meja lipat dari rumah dengan susah payah ia bawa. Semangatnya ini sangat patut di contoh bagi siapapun.


Usai berbincang-bincang, sebelum anak-anak pulang, mereka di latih menari yang diikuti oleh anak-anak yang memang memiliki seni tari atau anak-anak yang memang berkeinginan untuk ikut menari. (Che/Dna)


Dapatkan update berita pilihan dan berita terkini setiap hari dari analisapost.com

Postingan Terakhir

Lihat Semua

コメント


bottom of page