Kesiapan Relawan RSLI Jelang Nataru dan Masuknya Varian Baru Omicron



SURABAYA - analisapost.com | Dua bulan sudah Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) tanpa pasien dan kondisi stand-by dan tetap siaga. Rumah sakit yang didirikan atas perintah Presiden yang diampu oleh RSUD Dr Soetomo dan KOGABWILHAN II ini sesuai dengan Surat Keputusan Gebernur Jawa Timur masih akan berlangsung setidaknya hingga Desember 2021.


Hal penting dan vital tentang jaminan keberlangsungan rumah sakit lapangan salah satunya adalah permasalahan ketersediaan anggaran baik dari pusat maupun dari APBD daerah. Terkait kelanjutan dari RSLI tersebut, nampaknya Gubernur masih akan melihat perkembangan seputar Natal dan tahun baru (Nataru) serta potensi masuknya varian Omicron serta berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

Foto : Dokpri

Rendahnya kurva kasus covid-19 Oktober-November 2021 di Jawa Timur setidaknya memberikan gambaran bahwa seputar liburan Nataru covid-19 masih dapat diantisipasi asalkan masyarakat tidak mengabaikan pelaksanaan protokol kesehatan 6M, terutama menjauhi kerumunan dan makan bersama yang disertai ngobrol. Tentunya dukungan para stakeholder terkait terutama satgas covid-19, dalam menjalankan 3T harus dikuatkan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa pada rilis 2 Desember kemarin menyatakan capaian vaksinasi Jatim tahap satu sudah mencapai 71,39 persen, sedangkan tahap 2 sebesar 49,03 persen.


Angka ini semakin mendekati prasyarat herd immunity yakni masyarakat tervaksinasi lebih dari 70 persen. Apalagi dengan banyaknya masyarakat yang sudah terpapar pada masa puncak gelombang kedua (Juni-Juli) secara alamiah berkontribusi memberikan imunitas para penyintas covid-19.


Radian Jadid, Ketua Pelaksana Program Pendampingan Keluarga Pasien Covid-19 (PPKPC) RSLI menyatakan bahwa semua relawan RSLI tetap siaga menjalankan fungsinya sesuai SK keberadaan rumah sakit dan dan MoU yang akan berakhir pada Desember 2021. Selama belum ada putusan baru dari pimpinan tentang keberlangsungan rumah sakit, maka semua tetap berjalan normal seperti biasanya, termasuk menghadapi nataru dan potensi serangan varian Omicron. Untuk covid-19 yang selama ini melanda Indonesia baik varian lokal maupun varian luar (UK, AfSel, Delta), RSLI telah teruji dan mampu menangani dengan baik dan menyembuhkan semua pasien yang terpapar.

Foto : Dokpri

Sedangkan untuk antisipasi varian Omicron, pemerintah diharapkan dapat memperketat jalan masuk dari kedatangan luarnegeri,baik lewat jalan darat, laut maupun udara. Upaya 3T, pemeriksaan ketat serta karantina bagi mereka yang masuk dari luar negeri harus benar-benar dijalankan tanpa pengecualian. WHO telah merilis bahwa varian Omicron yang berasal dari Afrika Selatan ini sudah masuk sebagai Varian of Concern (VoC) memiliki daya tular hingga 5 kali lipat dibandingkan covid umumnya, sehingga perlu diwaspadai terkait penularan, perburukan dan kemungkinan mempengaruhi efektifitas vaksin.


Jadid menambahkan, yang paling aman adalah menjauhi atau tidak berinteraksi dengan orang yang baru datang dari perjalanan luar negeri. Untuk RSLI sendiri apabila nantinya menerima kebali pasein covid-19, akan lebih antisipasif terutama bagi para personil relawan pendamping, nantinya protap penggunaan APD serta interaksi dengan para pasien akan menjadi perhatian utama.


Antisipasi terhadap potensi penyebaran yang kuat, cepat dan luas menjadi perhatian utama, sedangkan mengenai tingkat perparahan, selama kurang dari 2 persen jumlah penderita, maka penangannya masih disesuaikan dengan varian-varian sebelumnya.

Foto : Dokpri

Kemungkinan pasien dari kedatangan luar negeri, baik WNA, PMI maupun WNI akan memiliki potensi dan karakteristik yang mirip dengan pasien sebelumnya yang pernah ditangani RSLI. Psikologis yangmerasa tidak sakit, ingin segera keluar dari RS, cenderung tidak kooperatif dan menolak upaya pengobatan hingga berontak karena merasa di-covid-kan serta kendala dalam pemulangan adalah kondisi yang kerap dihadapi dan ditangani oleh relawan pendamping. Untuk itu Jadid beserta tim PPKPC-RSLI menyatakan telah siap dan sudah melakukan evaluasi dan perencanaan kedepan menghadapi hal tersebut.


“Monev dan pengalaman sebelumnya adalah guru terbaik untuk mengantisipasi kondisi terburuk yang mungkin timbul saat merebaknya kembali covid-19 dengan varian baru sekalipun. Kesiap-siagaan dan peningkatan kapasitas personil adalah sebuah keharusan.” Tegas Jadid.


Terkait wacana yang berkembangan untuk penutupan Rumah Sakit Lapangan, semua dikembalikan kepada pemerintah dalam hal ini kepala daerah sebagai penentu kebijakan. RS Lapangan adalah ad-hock dan keberadaanya hanyalah bilamasih urgen dan diperlukan. Bahwa kemudian RSLI nantinya akan diperpanjang operasionalnya relawan akan siap apabila dibutuhkan, semua sangat bergantung dari kondisi yang menjadi pertimbangan penentu kebijakan (Gubernur Jatim). “Semua memang dinamis, RS Lapangan memang didesain sesuai kebutuhan terhadap penanganan pandemi covid-19. Semua awak rumah sakit dan relawan sudah menyatu dalam sistem rumah sakit, dan sudah teruji selama ini.


Kelanjutan dan keberlangsungan RSLI merupakan wilayah dan kebijakan pimpinan, namun kesiapan personil adalah sesuatu yang sudah dimiliki dan akan tetap bisa didayagunakan apabila diperlukan.


Tapi saya berharap Pandemi Covid-19 segera selesai dan Relawan akan bergerak untuk penanganan panggilan kemanusiaan lainnya. ” Pungkas Jadid.(Red)

931 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua