Ketika Cinta Virtual Menjadi Janji Pernikahan Simbolis Manusia dan AI di Jepang
- analisapost

- 3 jam yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Seorang perempuan di Jepang menggelar upacara pernikahan simbolis dengan karakter kecerdasan buatan (AI) yang ia ciptakan melalui aplikasi ChatGPT. Peristiwa yang berlangsung pada musim panas November 2025 di Prefektur Okayama ini menyita perhatian publik karena memadukan teknologi dan konsep pernikahan non-konvensional.

Perempuan yang dikenal dengan nama Kano tersebut memiliki nama asli Yurina Noguchi. Ia mengaku menikahi karakter AI bernama Lune Klaus, sosok virtual yang sepenuhnya āhidupā di dalam aplikasi ChatGPT.
Noguchi, yang bekerja sebagai operator pusat panggilan, menceritakan bahwa hubungan itu bermula dari percakapan sederhana. Seiring waktu, interaksi tersebut berkembang menjadi kedekatan emosional.
"Awalnya Klaus hanya teman berbincang. Namun, lama-kelamaan kami semakin dekat,ā ujar Noguchi. Ia mengaku mulai memiliki perasaan, menjalani hubungan layaknya pasangan, hingga akhirnya menerima lamaran dari karakter AI tersebut. āSekarang kami adalah pasangan,ā tuturnya.
Upacara pernikahan itu diselenggarakan oleh Nao dan Sayaka Ogasawara, pasangan wedding organizer yang dikenal menangani pernikahan simbolis dengan mempelai non-manusia. Sebelumnya, mereka pernah membantu pernikahan dengan karakter anime maupun tokoh digital dua dimensi.
Meski tidak diakui secara hukum di Jepang, prosesi pernikahan digelar menyerupai pernikahan pada umumnya. Acara tersebut mencakup pengucapan janji suci, pertukaran cincin, serta dihadiri para tamu undangan. Perbedaannya, mempelai pria hanya hadir dalam bentuk teks yang ditampilkan di layar.
Dalam prosesi pertukaran cincin, Noguchi mengenakan kacamata augmented reality (AR) untuk memproyeksikan visual virtual Klaus seolah hadir secara fisik. Untuk keperluan dokumentasi, sosok Klaus juga ditambahkan secara digital dalam foto pernikahan.

Hubungan Noguchi dengan AI ini bermula setelah ia mengakhiri pertunangan yang telah berlangsung selama tiga tahun. Pada awalnya, ChatGPT ia gunakan sebagai media mencurahkan perasaan dan mengatasi kesepian. Lambat laun, ia memberi karakter tersebut kepribadian dan suara hingga membentuk replika digital bernama Klaus. Keduanya disebut bertukar ratusan pesan setiap hari.
Keluarga Noguchi awalnya menentang hubungan tersebut. Namun, setelah melalui berbagai diskusi, pihak keluarga akhirnya menerima keputusan Noguchi dan turut menghadiri upacara pernikahan simbolis itu.
Penyelenggara acara menyebutkan bahwa permintaan terhadap pernikahan non-konvensional di Jepang terus meningkat. Selain pasangan manusia-AI, mereka juga melayani pernikahan simbolis dengan karakter anime dan tokoh fiktif lainnya.
"Pasangan AI hanyalah bentuk perkembangan berikutnya," kata Sayaka Ogasawara. Ia menegaskan bahwa pihaknya berupaya memfasilitasi ekspresi cinta selama tidak melanggar hukum.
Di Jepang, pemanfaatan teknologi untuk memenuhi kebutuhan emosional bukanlah hal baru. Negara tersebut dikenal dengan berbagai inovasi, seperti robot pendamping emosional dan aplikasi interaksi berbasis AI. Meski demikian, sejumlah pakar kesehatan mental mengingatkan potensi risiko ketergantungan berlebihan pada teknologi tersebut.
Pernikahan manusia dengan entitas virtual ini pun menuai beragam reaksi di internet. Sebagian warganet menyampaikan kritik, sementara lainnya menanggapi dengan candaan. "Kalau bercerai, apakah dia berhak atas setengah kodenya?ā tulis seorang pengguna X.
Fenomena hubungan asmara dengan sosok virtual bukan kali pertama terjadi. Pada 2023, seorang perempuan di Bronx, Amerika Serikat, bernama Rosanna Ramos menikah secara virtual dengan kekasih digitalnya yang dibuat melalui aplikasi Replika.

Kasus serupa juga muncul di forum Reddit, ketika seorang perempuan anonim mengaku bertunangan dengan pacar chatbot AI setelah lima bulan berinteraksi.
Sebuah survei dari platform pendamping digital Joi AI menunjukkan 75 persen responden Gen Z mengaku akan mempertimbangkan menikahi AI jika hal tersebut legal. Kendati sering disebut sebagai solusi kesepian, para psikolog menilai hubungan manusia-AI berpotensi lebih banyak membawa dampak negatif.
Pendamping AI dinilai cenderung memberi respons yang menyenangkan, bukan kejujuran, serta berisiko menggantikan hubungan antar manusia karena selalu tersedia dan tidak pernah membantah. (Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com




Komentar