Kisah Maestro Dibalik Indonesia Raya

Diperbarui: 11 Mar

SURABAYA - anlisapost.com | Meski mengalami nasib tak baik di penghujung usia, nama dan karya Wage Rudolf Soepratman abadi dialah Maestro pencipta lagu Kebangsaan Indonesia Raya yang terus di kenang sebagai salah satu pahlawan dan musisi terbaik Tanah Air, yang di makamkan di pemakaman Kapas Krampung di jalan Kenjeran Desa Rangkah berdampingan dengan areal tempat pembuangan sampah. Rabu (09/03/22)

Sebagai seorang pahlawan yang jasanya tidak bisa terbayarkan, pemerintah menetapkan bahwa Wage Rudolf Soepratman lahir Senin Wage 9 Maret 1903 ini diperingati sebagai Hari Musik Nasional. Sebuah penghargaan yang di kenang oleh seluruh bangsa Indonesia. Namun sangat disayangkan penghargaan itu tak sebanding dengan tempat pusara Sang Pahlawan yang di perolehnya.


Semua warga tau di tengah-tegah kompleks makam ini terdapat bangunan joglo berwarna putih berbentuk lekukan biola, alat musik kesayangannya. Di bagian lain terdapat patung berwarna gelap, WR Soepratman berdiri memainkan biolanya dengan lirik 3 stanza dipahat diatas permukaan dinding marmer persis dibelakang patung sang maestro.


Dalam komplek makam ini tertata rumput yang rapi, terdapat prasasti perjalanan hidupnya. Hanya orang-orang tertentu saja datang ke makam ini terutama bagi masyarakat yang mengetahui makna tanggal 9 Maret. Tak ada penghormatan khusus, hanya sesekali ada aroma wangi di atas pusaranya saat masyarakat yang mau mengenangnya datang ziarah. Semua terkalahkan oleh bau sampah yang menyengat sekitar pemakaman seorang Pahlawan.


Sedih, itulah yang terlihat di raut wajah-wajah Taufik Hidayat yang kerap di panggil Taufik Monyong, Ketua Umum YPPHN, Tolig Gunawan, salah satu cucu dari keluarga WR Soepratman, Roy Hari Purnomo dan beberapa pengunjung yang hadir untuk mengenang jasanya. Karena meskipun dalam areal pusara terlihat bersih, sangat disayangkan tempat seorang Pahlawan berdampingan dengan Tempat pembuangan sampah yang tentu saja menyebarkan bau busuk. Sehingga tidak banyak warga yang tau bahwa sesuangguhnya itu adalah makam seorang pahlawan.

Salah satu cucu dari keluarga WR Supratman, Roy Hari Purnomo, Taufik Monyong, Tolig Gunawan dan beberapa pengunjung yang hadir untuk memperingati tgl 9 Maret (Foto: Div)

"Saya hanya menangis seumpama ada orang yang tidak tau tentang lagu Wage Rudolf Soepratman. Jangan hanya memikirkan dunia."Kata Taufik Monyong dengan tegas saat di konfirmasi oleh awak media Analisa Post pagi itu


Begitu juga saat mendatangi rumah terakhir W.R Soepratman sebelum meninggal dunia 17 Agustus 1938, yang berlokasi di dalam gang kecil jalan Mangga no 21, Gedang Sewu, Kel. Tambaksari dekat taman Mundu Surabaya, dimana bangunan itu merupakan rumah milik kakak tertua dari W.R Soepratman Roekiyem Soepratijah dengan gaya bangunan tempo dulu diabadikan menjadi museum.


Museum ini tidak terlalu besar, di depan Museum berdiri patung W.R Soepratman menggesek biolanya. Dalam rumah ini terdapat dua kamar tidur di sisi kanan yang diletakan beberapa perangko lama, uang rupiah bergambar W.R.Soepratman, hingga nama kota lama di Jawa timur.


Disisi kiri ruang tamu berisi foto-foto W.R. Soepratman bersama keluarga dan teman dekat. Ada buku penjelasan mulai dari beliau lahir hingga wafat, dipojok ruang tamu terdapat lemari kaca berisi patung mengenakan replika pakaian yang dikenakan W.R. Soepratman ketika menghadiri kongres Pemuda Kedua pada 28 Oktober 1928


Dibelakang bagian ruang keluarga, terdapat Memorial lukisan hitam putih sang maesto yang bisa di buat sebagai spot foto sambil mendengarkan suara asli saat menggucapkan


"Nasibkoe soedah begini

Inilah yang disoekai Pemerintah Hindia Belanda

Biarlah saja meninggal

Saja ichlas

Saja toch sudah beramal

Berjoeang dengan tjarakoe, dengan biolakoe

Saja jakin, Indonesia pasti merdeka


Dari kalimat yang disampaikan tujuh tahun sebelum wafat, Ia meyakini bahwa Indonesia akan Merdeka. Secara tidak langsung sebuah ramalan di ucapkan untuk kemerdekaan Indonesia tepat di tanggal 17 agustus 1945. Itulah kalimat terakhir pencipta lagu kebangsaan tanpa meninggalkan anak dan istri di usianya yang muda.

Bangunan ini merupakan rumah milik kakak tertua dari WR Supratman Roekiyem Soepratijah dengan gaya bangunan tempo dulu diabadikan menjadi museum.(Foto: Div)

Meskipun hidup dalam kesepian dan kesengsaraan, ia tetap memperjuangkan kemerdekaan. W.R Soepratman merupakan sosok penting dan besar kontribusinya terhadap bangsa Indonesia karena lagu yang ia ciptakan hingga kini masih didengar.


Sepatutnya pemerintah mau memperhatikan hal tersebut. Bukan saja makam tempat pusara rapi dan bersih, tetapi pemerintah juga patut memperhitungkan areal makamnya yang berdampingan dengan tempat pembuangan sampah.


Salah seorang warga mengatakan saat ditanya oleh awak media Analisa Post tentang keberadaan makam tersebut."Saya tidak pernah masuk kedalam, saya fikir bukan pahlawan. Kalau pahlawan, kok dekat sama tempat sampah ya. Kan mambu. lhaa sopo seng gelem mlebu." katanya sambil tertawa.


Bau yang menyengat, tentu saja tak akan ada lagi yang ingin berkunjung untuk ziarah. Bagaimana jika tamu asing datang terutama kerabat dari suami kakaknya Willem Van Eldik berkunjung melihat tempat peristirahatan sang pahlawan, juga museum yang berada di gang kecil. Sedih.


Pemerintah setempat memang sudah merenovasi tempat makam yang dulu terlihat kotor dan kusam, namun seharusnya juga memperhatikan areal makam yang berdampingan dengan Tempat sampah. Kurangnya fasilitas umum seperti toilet dan tempat parkir perlu di perhatikan.


Selain tempat, pemerintah sebaiknya juga perlu mempertimbangkan kesejahterahan penjaga makam atau juru kunci. Mereka juga seharusnya di beri pembekalan selayaknya seorang Guide yang bisa menjelaskan tentang sejarah agar siapapun warga yang berkunjung, tidak saja datang untuk ziarah, tetapi mereka faham tentang seorang pejuang yang gigih mendukung kemerdekaan dan patut di teladani. (Dna)


1.537 tampilan0 komentar