top of page

Kisah Perjalanan Prof dr Paul Tahalele Guru Besar, Pejuang Kesehatan

SURABAYA - analisapost.com | Prof.Dr.Med.Paul Tahalele SpBTKV (K) VE merupakan Dokter Spesialis Toraks dan Kardiovaskular. Hampir setengah abad bergelut di dunia kedokteran melakukan operasi pada 50 jenis kasus bedah toraks dengan kemampuan dan pengalamannya pun tidak diragukan lagi di dunia kedokteran Indonesia.

Prof.Dr.Med.Paul Tahalele SpBTKV (K) VE saat talk show bedah buku di Ruang Theater Barat UKWMS (Foto: Div)

Prof Paul adalah sosok gemar menuntut ilmu yang bisa terlihat dari nama lengkap dan titelnya. Diusianya 75 tahun, ia meluncurkan buku terbaru "Bedah Toraks" Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) sejak 2018 ini bercerita. Pria kelahiran Mataram, 4 Maret 1948 dengan senang menuangkan pengalamannya.


Setelah lulus sebagai spesialis bedah di Fakultas Unair pada tahun 1981, dia berangkat ke Jerman untuk menambah ilmu dengan mengambil spesialis bedah torak kardiovaskular. Namun Jerman bukan satu-satunya tempat yang pernah dia datangi, tetapi Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini juga mendatangi plosok-plosok yang ada di Indonesia mulai Papua, Kalimantan, hingga Timor Leste.


Kenangan Tak terlupakan

Selama 44 tahun pengalaman klinis, Ia menceritakan saat Dokter Paul bersama tim harus membantu pelayanan Kesehatan menyelamatkan nyawa banyak orang dimana dengan keterbatasan alat medis saat itu, banyak terdapat kasus penyakit di pulau terpencil. Bagi Dokter Paul, pengalaman yang tidak pernah bisa dilupakan adalah saat bertugas di Papua.


"Dipulau terpencil sangat sulit mencari bank darah, tapi kami harus bisa mengambil tindakan dengan alat yang terbatas. Disaat itulah kita harus bisa bersikap dan mengambil keputusan untuk menyelamatkan nyawa banyak orang," ujarnya saat talk show bedah buku di Ruang Theater Barat Uiversitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Kampus Pakuwon City, Selasa (28/3/23).

Beberapa slide yang di tampilkan dalam talkshow (Foto: Div)

Dimana selain keterbatasan alat, dia juga pernah kehabisan air minum di kapal akhirnya satu-satunya yang bisa digunakan untuk diminum adalah cairan infus.


"Kami pernah minum cairan infus karena kehabisan air minum dan itu adalah pengalaman yang paling sulit. Tetapi karena semua pengalaman itulah yang membuat saya bertemu dengan orang-orang hebat dan di publikasikan hingga internasional," ceritanya sambil matanya menerawang ke seluruh ruangan.


Kepulangannya dari Jerman pada tahun 1985, Prof.Dr.Med.Paul Tahalele SpBTKV (K) VE semakin aktif dalam menangani kasus khususnya tumor. Ia menggunakan Tahalele's Method.


Teknik yang dikembangkan dokter Paul, tidak mahal. Dengan keterbatasan peralatan, sarana penunjang, sarana diagnostik, sarana transportasi, biaya, ia membuat kreasi dan inovasi. Alat operasi yang mudah didapat dan sederhana, bisa dilakukan dengan fasilitas atau alat operasi yang terbatas.


"Saya menggunakan metode Tahalele untuk semua tumor ganas dinding toraks, misalnya tumor didada, yang sudah kena tulang di ambil, semua potong dan di buang di ganti dengan titanium tentunya sangat mahal," jelasnya.


"Untuk mengatasi itu saya buat kreasi menggunakan kawat diikat sedemikian rupa agar tidak lepas dari unjung ke ujung kemudian di jahit seperti jala dan di tutup menggunakan ototnya. Setelah saya kembangkan dan saya pelajari, karena tidak ada namanya, maka saya sebut teknik Tahalele dan metode ini saya gunakan untuk semua tumor ganas yang belum menyebar dalam istilah kedokteran belum metastasis atau Isolated tumor ganas. Itu yang berhasil saya tangani dan nama metode ini di resmikan sekitar tahun 2000," ceritanya kepada awak media Analisa Post sambil tertawa.


Pria sederhana dan murah senyum ini meraih penghargaan dari organisasi Ahli Bedah Internasional berkat jiwa sosial dan inovasinya di dunia ilmu bedah. Prof dr Paul juga pernah mendapat penghargaan Satyalancana Karya Sapta dari Presiden RI B.J Habibie pada tahun 1999 dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2010.

Foto bersama usai talkshow (Foto: Div)

"Semua berawal dari Prof Robert Hacker pada tahun 1983 di Erlangen, Jerman saat saya mengambil studi spesialisasi bedah toraks kardiovaskular. Dari pengalaman itu, saya kembangkan. 44 tahun bukan waktu yang sebentar hingga di abadikan lewat buku setebal 500 halaman." ungkapnya.


"Sampai sekarang saya masih menjadi Ketua Umum Himpunan Ahli Bedah Toraks Kardiak dan Vaskular Indonesia (HBTKV) juga Panitia Pengurus Pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia. Saya senang mendokumentasikan foto dan mengkliping semua yang di publikasikan karena menjadi rangkaian perjalanan dalam menangani kasus selama 44 tahun ini," tutur Prof yang pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Bedah di Dr.Soetomo, FK Unair selama 42 tahun dan selama di UKWMS 11 tahun sudah menghasilkan 6 angkatan dokter, kepada awak media Analisa Post mengakhiri perbincangannya.(Dna)


Dapatkan Update berita pilihan dan berita terkini setiap hari dari analisapost.com

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page