Lonjakan Harga Emas Jadi Sinyal Kecemasan Investor Global
- analisapost

- 22 jam yang lalu
- 2 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Harga emas Antam (Logam Mulia) mencatatkan tren kenaikan signifikan sepanjang tahun 2025 hingga akhir Januari 2026. Pada 29 Januari 2026, harga emas bahkan sempat menembus angka di atas Rp 3.100.000 per gram. Dalam kurun waktu satu tahun, kenaikannya diperkirakan mencapai 50-60 persen.

Lonjakan harga tersebut dinilai bukan sekadar fluktuasi pasar biasa, melainkan mencerminkan kecemasan mendalam investor terhadap ketidakpastian ekonomi global yang semakin sulit diprediksi.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, pergerakan harga emas mulai menunjukkan koreksi. Pakar ekonomi dari Universitas Kristen Petra, Dr. Dra. Nanik Linawati, MM., menjelaskan bahwa dinamika harga emas perlu dilihat dari dua perspektif, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
"Dalam jangka pendek, penurunan harga emas adalah hal yang wajar. Sebagian investor mulai melakukan profit taking, seiring inflasi yang mulai terkendali dan sentimen pasar yang perlahan membaik," ujar dosen Program Studi Manajemen, Program Finance and Investment, School of Business and Management (SBM) UK Petra tersebut.
Menurut Dr. Nanik, penyebab naik-turunnya harga emas saat ini sangat kompleks. Mulai dari eskalasi konflik geopolitik di berbagai kawasan, kebijakan tarif tinggi oleh sejumlah negara besar, hingga dinamika politik global, termasuk retorika politik Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump, turut menciptakan iklim investasi yang tidak stabil.
Sementara itu, untuk jangka panjang, Dr. Nanik memprediksi harga emas masih akan cenderung meningkat. Ketegangan politik global, perlambatan ekonomi dunia, hingga persoalan demografi menjadi faktor utama yang mendorong emas tetap diminati sebagai aset lindung nilai.
Ia juga menyoroti adanya anomali dalam pasar keuangan global. Menurutnya, dunia saat ini berada dalam fase ekonomi yang "tidak normal", sehingga mekanisme pergerakan harga emas pun tidak lagi mengikuti pola lama.
"Emas adalah instrumen investasi yang langka dan tidak bisa dimanipulasi oleh kebijakan otoritas mana pun. Berbeda dengan saham atau kripto yang suplai dan nilainya bisa diciptakanā atau diatur," terangnya.

Dr. Nanik menegaskan bahwa emas tidak dapat muncul secara instan. Proses eksplorasi dan penambangan membutuhkan waktu panjang dan biaya besar, sehingga penambahan pasokan emas baru memerlukan waktu bertahun-tahun. Kelangkaan alami inilah yang menjadikan emas sebagai tempat berlindung relatif aman ketika instrumen investasi lain kehilangan arah.
Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa lonjakan harga emas yang terlalu tajam justru menjadi sinyal peringatan bagi perekonomian global. Kenaikan tersebut tidak lagi dipicu oleh permintaan perhiasan, melainkan oleh krisis kepercayaan investor yang mulai meninggalkan aset produktif seperti saham, kripto, dan deposito demi mengamankan kekayaan.
"Lonjakan yang tidak wajar ini menjadi indikator kuat bahwa dunia sedang bergerak mendekati ambang resesi. Selama ketegangan geopolitik dan ego kekuasaan antarnegara masih bergejolak, harga emas akan terus mencari level tertinggi sebagai tempat berlindung para pemilik modal," ungkapnya.
Dr. Nanik menyebut kondisi ekonomi global saat ini sebagai ābenang kusutā yang sulit diurai. Meski emas menjadi sandaran nyata di tengah ketidakpastian, ia mengingatkan bahwa stabilitas sejati tetap bergantung pada kebijaksanaan manusia dalam mengelola sumber daya.
"Investor harus tetap tenang dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Dengan ketenangan, kita bisa menjaga kewajaran harga sekaligus melindungi nilai kekayaan di tengah badai ketidakpastian," tutup dosen yang juga mengampu Mata Kuliah Keuangan Personal tersebut.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar