Marsinah, Pahlawan Nasional: Kesaksian Keluarga dan Jejak Perjuangan
- analisapost

- 50 menit yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Nama Marsinah kembali mencuat ke ruang publik setelah pemerintah secara resmi menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk pengakuan negara atas konsistensinya memperjuangkan keadilan serta hak dan kesejahteraan buruh di Indonesia.

Marsinah wafat pada 1993 setelah terlibat aktif dalam pengorganisasian aksi protes kenaikan upah minimum di Jawa Timur. Peristiwa kematiannya menjadi salah satu catatan paling kelam dalam sejarah ketenagakerjaan nasional, sekaligus simbol bahwa perjuangan buruh kerap berhadapan dengan risiko kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia.
Perempuan kelahiran Nganjuk ini dikenal sebagai ikon perjuangan buruh. Ia berasal dari keluarga sederhana dan harus menghadapi kerasnya hidup sejak kecil. Marsinah merupakan anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Sumini dan Mastin. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, ia dibesarkan oleh nenek dan bibinya di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, Jawa Timur.
Keterbatasan ekonomi membentuk Marsinah menjadi pribadi mandiri dan tangguh. Selain menempuh pendidikan dasar dan menengah di Nganjuk, ia membantu keluarga dengan berdagang makanan ringan.
Marsinah sempat mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Muhammadiyah, namun terpaksa berhenti karena biaya. Meski demikian, semangat belajarnya tak pernah surut. Ia bahkan memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan tinggi di bidang hukum.
Perjalanan Marsinah di dunia industri dimulai pada 1989. Ia bekerja di pabrik sepatu di Surabaya, lalu berpindah ke pabrik jam tangan, sebelum akhirnya bergabung dengan PT Catur Putra Surya di Porong, Sidoarjo.
Di sinilah namanya dikenal luas sebagai pekerja yang berani bersuara. Marsinah kerap dipercaya menjadi juru bicara rekan-rekannya untuk menyampaikan tuntutan mengenai upah dan kondisi kerja.
Pada awal Mei 1993, Marsinah berada di barisan terdepan aksi mogok buruh di PT CPS. Aksi ini dipicu oleh surat edaran Gubernur Jawa Timur terkait penyesuaian upah minimum. Pemogokan yang berlangsung pada 3-4 Mei itu memicu ketegangan antara pekerja, perusahaan, dan aparat.
Situasi memuncak pada 5 Mei 1993 ketika sejumlah buruh dipanggil ke markas militer dan dipaksa menandatangani surat pengunduran diri. Marsinah mendatangi markas tersebut untuk mencari kejelasan nasib rekan-rekannya.
Sejak malam itu, ia tak pernah kembali. Tiga hari kemudian, pada 8 Mei 1993, jasadnya ditemukan di sebuah gubuk di Wilangan, Nganjuk, dengan luka-luka yang mengindikasikan penyiksaan berat.
Kematian Marsinah menjelma menjadi simbol nasional perlawanan terhadap ketidakadilan struktural dan pelanggaran hak buruh. Hingga kini, kasus tersebut belum sepenuhnya terselesaikan secara hukum, menyisakan duka dan pertanyaan mendalam bagi gerakan buruh Indonesia.
Pengakuan negara atas jasa Marsinah tidak datang secara instan. Selama bertahun-tahun, keluarga, aktivis buruh, dan berbagai organisasi pekerja terus mendorong agar perjuangannya diakui secara resmi.
Dorongan tersebut datang dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah Nganjuk, organisasi buruh seperti Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) dan Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), serta sejumlah lembaga swadaya masyarakat.
Di balik sosoknya yang tegas dan berani di ruang publik, Marsinah dikenang keluarga sebagai pribadi yang hangat dan penuh kasih.
Saat awak media AnalisaPost berkunjung ke rumah keluarganya di Nganjuk, potret besar Marsinah terpajang di dinding rumah sederhana menjadi saksi bisu kenangan yang tak pernah pudar.
Keluarga mengenang kebiasaan Marsinah setiap kali pulang kampung. Ia dikenal sangat menyayangi keponakan-keponakannya, kerap membelikan alat tulis, jajanan, hingga jam tangan.
"Pesannya selalu sama, anak-anak harus disekolahkan dengan baik supaya pintar,” ujar Yunarsih, salah satu anggota keluarga.
Perempuan yang mengasuh Marsinah sejak kecil menuturkan bahwa keberanian itu telah tampak sejak dini. Selain tegas membela kebenaran, Marsinah hidup sederhana dan tak banyak menuntut. Ia bahkan tak pernah memikirkan urusan pribadi seperti berpacaran.
Makanan favoritnya pun sederhana sayur asam, kue cucur, dan bakso. “Kalau masak sayur itu, rasanya seperti dia masih ada,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Kini, Marsinah tak lagi sekadar dikenang sebagai simbol perlawanan buruh, tetapi juga sebagai lambang keberanian perempuan Indonesia. Dari desa kecil Nglundo, suaranya menggema hingga tingkat nasional dan akhirnya diakui negara.
Penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional di bidang sosial dan kemanusiaan menegaskan bahwa perjuangan kelas pekerja memiliki tempat penting dalam sejarah bangsa.
Penghargaan ini bukan hanya penghormatan atas keberaniannya hingga akhir hayat, tetapi juga penegasan komitmen negara terhadap nilai keadilan sosial dan perlindungan buruh. Momentum ini menjadi pengingat bahwa suara yang lahir dari keberanian dan nurani tak pernah benar-benar padam. (Che)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar