top of page

Megawati Kritik Kebijakan Lingkungan dan Imperialisme di Rakernas PDIP

Diperbarui: 12 menit yang lalu

JAKARTA - analisapost.com | Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politik dalam peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan sekaligus pembukaan Rakernas I di Beach City International Stadium, Sabtu (10/1/2026).

Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politik dalam peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan
Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan pidato politik dalam peringatan HUT ke-53 PDI Perjuangan

Dalam pidatonya, Megawati menyinggung isu lingkungan, dinamika global, serta peneguhan moralitas politik kader. Megawati menilai bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera tidak bisa dilepaskan dari peran kebijakan negara. Ia menegaskan bahwa sejumlah regulasi justru membuka ruang eksploitasi alam secara masif.


"Kita harus berani jujur. Kerusakan ini juga dilembagakan oleh kebijakan,” ujarnya. Menurutnya, kemudahan konsesi skala besar tanpa kontrol ketat berujung pada degradasi lingkungan.


Pada tataran global, Megawati menyoroti intervensi militer Amerika Serikat di Venezuela yang ia sebut sebagai praktik neokolonialisme dan imperialisme modern. Tindakan tersebut, kata dia, bertentangan dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip dasar hubungan antarnegara.


Ia menegaskan sikap Indonesia yang menolak tatanan internasional berbasis dominasi kekuatan atas kedaulatan bangsa lain.


"Demokrasi sejati tidak lahir dari moncong senjata, keadilan tidak tumbuh dari agresi sepihak, dan peradaban tidak dibangun di atas penghinaan terhadap martabat bangsa,” tutur Megawati.


Ia mengingatkan, sejak Konferensi Asia Afrika yang digagas Presiden pertama RI Soekarno, Indonesia konsisten menentang imperialisme dalam bentuk apa pun. Karena itu, PDI Perjuangan menyerukan penyelesaian konflik internasional melalui dialog, diplomasi, dan mekanisme hukum internasional.


Di bidang politik dalam negeri, Presiden Kelima RI itu menegaskan bahwa politik harus dijalankan sebagai alat pengabdian kepada rakyat, bukan sarana mengejar jabatan atau popularitas.


Ia mengingatkan seluruh kader agar menempatkan politik sebagai tanggung jawab moral dan sejarah. "Seorang pejuang sejati tidak mengejar popularitas, melainkan tanggung jawab; tidak mencari pujian, melainkan pengabdian,” katanya.


Megawati menambahkan, keberhasilan kader tidak diukur dari banyaknya jabatan yang pernah diduduki. Sejarah, menurutnya, akan menilai sikap politik berdasarkan keberpihakan pada kebenaran saat menghadapi ujian.


"Sejarah tidak akan bertanya berapa jabatan yang pernah kalian duduki. Sejarah akan bertanya, di pihak siapa kalian berdiri ketika kebenaran diuji,” ucapnya.


Dengan tema Satyam Eva Jayate merupakan semboyan Sanskerta yang berarti “Kebenaran akan Menang”, sementara subtema Di Sanalah Aku Berdiri, Untuk Selama-lamanya, diambil dari lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya karya W.R. Supratman, merefleksikan keteguhan dan daya tahan kebenaran.


Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus pusat dan daerah, anggota DPR RI dan DPRD Fraksi PDIP, serta kepala dan wakil kepala daerah dari PDIP. Rakernas tersebut menjadi tindak lanjut strategis atas keputusan Kongres VI PDIP yang digelar pada Agustus 2025. (Dna)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya