Melirik Tradisi Hokkian, Sembayang Tebu

SURABAYA - analisapost.com | Etnis Tionghoa suku Hokkien yang berada di Indonesia, pada hari ke-9 setelah perayaan imlek, mereka masih memandang penting sebuah tradisi peninggalan nenek moyangnya. Ada beberapa tradisi yang masih dilakukan orang Tionghoa selain Tahun Baru Imlek adalah, Cap Go Meh, Festival Duan Wu, Festival Qixi, Festival Kue Bulan, Perayaan Cheng Beng, Sembayang Rebutan (Cioko), Perayaan Bakar Tongkang, dan lain-lain. Minggu (20/02/22)

Sembayang tebu dilaksanakan pada hari ke-9 bulan 1 Imlek. Perayaan ini dilakukan suku Hokkien (Foto: Div)

Perayaan Imlek yang paling dikenal sejak dahulu hingga sekarang berlangsung selama 15 hari dimulai di hari pertama bulan, penanggalan Tioghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh di tanggal ke lima belas (pada saat bulan purnama).


Ditengah-tengah perayaan awal dan akhir, ada ritual yang dinamakan sembayang tebu, ini dilaksanakan pada hari ke-9 bulan 1 Imlek. Perayaan ini dilakukan orang-orang suku Hokkien untuk rasa hormat kepada Thi Kong atas perlindungan terhadap leluhurnya yang selamat dari peperangan dan sembunyi di perkebunan tebu.


Tradisi sembayang Pai Thi Kong ini dilakukan turun temurun secara sederhana atau lengkap yang maknanya adalah ketulusan dan keinginan mengucapkan terima kasih.


Menurut suhu Chan saat di temui awak media dirumahnya jl. Mulyosari Surabaya mengatakan, "Dalam pelaksanaan sembayang tebu, pada meja altar biasanya disediakan persembahan tujuh macam kue seperti, wajik, bakpao, lemper, koci, apem, dan kue khu serta beberapa makanan lain seperti telur, yang diberi warna merah, dan di susun diatas sepiring misua, manisan, sayuran kering atau biasa disebut ce cu."ujarnya


"Selain itu, tebu dipasang disisi kiri dan kanan meja. Tebu yang digunakan biasanya tebu yang masih utuh akar dan daunnya. Selain itu ada Kim cua (kertas emas). Bagi masyarakat Tioghoa kertas tersebut dianggap sebagai kepingan uang emas yang berlaku pada zaman Tiongkok kuno." jelas Suhu Chan yang kerap di sapa Mr.Chan.


Lanjutnya, "Apa yang dilakukan, tentu menimbulkan harapan kearah yang baik. Ini sudah menjadi tradisi, lilin harus dibakar setengah, baru kita bisa membakar uang dari kertas. Jika kita punya rejeki lebih, jumlah uang yang dibakar boleh di tambah." terangnya mengakhiri percakapannya dengan awak media Analisa Post malam itu.

Semua tradisi tentu memiliki makna tersendiri seperti yang biasa dilakukan oleh Suhu Chan

  1. Meletakan meja altar sembayang Pai Thi Kong dengan taplak meja warna merah dan diletakan pada posisi paling tinggi.

  2. Sepasang tebu diikatkan di sebelah kanan dan kiri meja.

  3. Meletakan lilin besar sepasang (2 batang) dipasang di depan meja altar

  4. Tiga tempat Dewa (Shen Wei) yang dibuat dari kertas warna warni yang saling dilekatkan.

  5. Tiga buah cawan kecil berisi teh di depan She Wei diletakan sejajar.

  6. Tiga buah mangkuk berisi misoa dengan ikatan kertas merah.

  7. Wajik yang disajikan berbentuk gunungan, memiliki makna keberuntungan menggunung dan melambangkan kemakmuran.

  8. Kue mangkok yang selalu merekah pada bagian atasnya, memiliki makna agar selalu berkembang dan melambangkan kemakmuran.

  9. Kue keranjang (Nian Gao) memiliki makna kehidupan selalu manis dan lengket, melambangkan kesejahteraan dan keberuntungan untuk tahun-tahun berikutnya.

  10. Kue Khu yang cetaknnya berbentuk mirip kura-kura memiliki makna agar hidup selalu panjang umur seperti kura-kura dan melambangkan kemakmuran.

  11. Lima jenis buah-buahan dan enam macam masakan vegetarian yang di sebut Wu Guo Liu Cai diatur dibagian depan meja altar. Ini paduan dalam penataan sajian upacara sembayang orang Tionghoa.


Uniknya mereka melakukan upacara dimulai pada pukul 00.00 kemudian masyarakat Hokkien mulai melaksanakan sembayang tebu, dilanjutkan dengan puak poi untuk mengetahui apakah dewa Thi Kong telah menerima persembahan tersebut.


Setelah itu kim cua di bakar dan bagian ujung daun tebu di potong diakhiri dengan menyalakan petasan sebagai pertanda kepergian para malaikat dan telah memasuki hari ke 9 Imlek. Itulah tradisi masyarakat Hokkien yang mulai jarang terlihat tetapi masih tetap bertahan.(Dna)

344 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua