top of page

Melukis Gatotkaca Untuk Menumbuhkan Rasa Cinta Pada Wayang

SURABAYA – analisapost.com | Pelukis Taufik Kamajaya atau yang akrab dipanggil Pak Te, pada 30 Novembe menutup acara melukis wayang selama 30 hari. Dalam penutupan tersebut diselenggarakan kegiatan melukis secara on the spot dengan tema Gatot Kaca.

Acara tersebut diadakan di dalam rangkaian acara Wayang Sebulan Suntuk di Cafe Taman Surabaya Suites Hotel, Surabaya Suites Hotel dihadiri oleh beragam kalangan mulai dari murid SD hingga komunitas lukis cat air surabaya.


Seniman lukis mengajak mahasiswa Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) melukis tokoh Gatotkaca bersama saat penutupan pameran tunggal Te Kamajaya dalam rangkaian acara Wayang Sebulan Suntuk di Cafe Taman Surabaya Suites Hotel,


“Ternyata memang terbukti setelah saya menampilkan lukisan wayang, antusias masyarakat itu lebih banyak. Dari sekian banyak lukisan saya, wayang yang laku. karena lukisan wayang itu sangat jarang. bagi saya ini brand, saya membuat brand untuk dikenal publik justru dengan wayang,” katanya.


Uniknya, saat diwawancarai, kanvas yang ia gunakan rupanya kanvas yang bisa dipakai untuk cat air.


“Saya membuat kanvas cat air ini sendiri. Kalau pakai kanvas biasa, catnya hanya sampai di permukaan kanvasnya saja,” paparnya pada Analisa Post.


Dalam acara penutupan itu, yang terlebih dahulu datang adalah anak-anak sekolah dasar. Mereka terlihat antusias saat Pak Te menceritakan tentang pewayangan terutama Gatotkaca.


“Wayang yang pertama adalah wayang beber. Layar, kain putih gitu, kemudian digambari. tokohnya apa, kemudian lakon-lakonnya apa. Setelah itu dipersonifikasi.


Jadi tokohnya itu diwujudkan satu persatu jadi wayang kulit. Pertamanya hanya wayang beber. Wayang beber itu digambar kemudian dipersonifakasi jadi wayang kulit,” jelasnya pada para murid sekolah dasar.


Acara penutupan pada menghadirkan acara melukis bersama dengan model tokoh wayangnya adalah Gatotkaca. Beberapa angggota dari komunitas Kolcai dan mahasiswa-mahasiswa pertukaran pelajar Universitas Dr. Soetomo turut hadir dalam memeriahkan acara itu.


Para mahasiswa yang hadir berasal dari beragam wilayah di Indonesia seperti Medan, Maluku, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Aceh dan wilayah Indonesia lainnya.


Beberapa di antara mereka ada yang memakai atribut adat setempat. Mereka sangat menaruh minat dalam acara melukis wayang.


Para peserta diharapannya mampu membuat lukisan dengan model peraga seorang lelaki yang berpenampilan Gatotkaca. Lalu dengan media cat air, para peserta diharapkan bisa membuat lukisan dengan model yang memperagakan di depan.


Lukisan yang dibuat adalah on the spot. Artinya, para peserta harus menyelesaikan lukisan di tempat dan di hari itu juga.

Tentang mengapa Gatotkaca dipilih sebagai model melukis bersama, Pak Te menjelaskan pada Analisa Post.


“Gatotkaca merupakan tokoh yang bisa dikatakan fenomenal. Kalau sekarang dia seperti angkatan udara. DIa punya saudara dua. Ontorejo seperti Angkatan darat. Dia bisa di dalam Bumi. Yang kedua adalan Ontoseno dia bisa di laut. Menyelam di laut.


Kalau di Indonesia ada pesawat buatan kita yang namanya Tetuko. Itu dari Gatotkaca,” terangnya lagi pada Analisa Post.


Pak Te juga menambahkan bahwa jika seseorang ingin memiliki sifat seperti Gatotkaca, maka ia harus bersikap seperti satria.


Acara kemudian ditutup dengan potong tumpeng dan menurunkan lukisan raksasa yang dipasang secara vertikal. Para mahasiswa dari berbagai daerah turut memeriahkan dengan meyajikan tarian adat dari Sumatera Utara.( Reza )


Dapatkan Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari analisapost.com

20 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page