top of page

Membangun Masyarakat Siaga Gempa dan Tsunami

SURABAYA - analisapost.com | Dalam rangka Hari Santri Nasional dan HUT Propinsi Jawa Timur ke 76, Badan Kemaritiman Nahdlatul Ulama (BKNU) Jawa Timur bekerja sama dengan BMKG, LPBI PWNU Jawa Timur dan Laboratorium Infrastruktur Pantai dan Pelabuhan ITS kembali mengadakan webinar dengan tema “Membangun Masyarakat Siaga Gempa dan Tsunami”.


ree

Webinar diikuti terutama pengurus PC BKNU NU Jawa Timur wilayah pesisir Selatan Jawa Timur hadir secara offline di kantor PC NU masing masing, Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, hingga Banyuwangi, dihadiri oleh pengurus PCNU dan banom serta BPBD Daerah masing-masing. Secara online dihadiri oleh akademisi, peneliti, staff BMKG, dan pengurus PC NU di Kabupaten/ Kota Jawa Timur. Peserta yang hadir di masing-masing kantor PCNU lebih dari 100 orang meliputi semua lembaga dan banom.


Dalam sambutannya, Prof Drs. Mahmud Mustain, MSc, PhD. Ketua PW BKNU Propinsi Jawa Timur menyatakan bahwa memahami masalah bencana merupakan usaha untuk mengurangi dampak bencana terutama korban jiwa yang dapat diakibatkan oleh bencana. Webinar ini merupakan inisiatif dari PC BKNU Kabupaten Pacitan, dimana Pacitan merupakan salah satu daerah di Jawa Timur yang rentan terhadap bencana tektonik dan Tsunami.


Webinar ini merupakan kerjasama PW BKNU dengan BMKG serta LPBI PWNU Jawa Timur, dengan tujuan untuk memberikan pencerahan dan pandampingan pada masyarakat yang berpotensi terhadap bencana sehingga kedepan dapat teciptanya masyarakat siaga gempa dan Tsunami.


ree

Sementara itu Bambang Setiyo Prayitno, Msi. Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG dalam sambutannya menjelaskan bahwa Propinsi Jawa Timur mempunyai potensi alam dan non migas yang sangat melipah, selain itu porpinsi Jatim merupakan salah satu propisni yang rentan terhadap bencana, terutama pesisir Selatan yang rawan terhadap bencana tektonik dan tsunami, beberapa kejadian yang lalu telah membuktikan banyaknya gempa yang menimpa propinsi Jawa Timur.


Penanggulangan bencana alam dalam situasi Covid 19 merupakan usaha extra yang dibutuhkan, sehingga kesadaran akan bencana meruapakan usaha yang patut didukung disosialisaikan untuk menciptakan rasa aman dan kesiagaan masyarakat terhadap bencana.

Keterlibatan semua pihak dalam menanggulangi bencana terutama menciptakan kader yang siaga gempa dan tsunami peru didorong, untuk menciptakan kesiap siagaan daerah terhadap siaga gempa dan tsunami untuk menciptkan rasa aman bagi masyarakat.


KH Abdul Matin Jawahir, Wakil Suriah PWNU Jatim membuka acara Webinar dan memberikan tausiah serta siraman rohani terhadap masalah bencana, dan perlunya kesiap siagaan terhadap bencana dan tsunami. Gempabumi merupakan iradat dari Allah, semua atas kehendak Allah, selain kita semua diwajibkan berusaha untuk menghindari atau mengurangi dampak bencana, juga senantiasa beriman atas kehendak dan ketetapan Allah. “Hidup didunia tidak lepas dari cobaan dan ujian dari Allah, untuk itu senantiasa tetap beriman serta berdoa kepada Allah untuk mendapatkan keselamatan dan pelindungan dari segala marabahaya dan dampak bencana” pungkas KH jawahir.

Materi pertama disampaikan Dr. Daryonno, Koordinator Mitigasi Gempabumi dan Tsunami, BMKG. Indonesia merupakan daerah rawan gempa, rata rata lebih dari 6400 gempa/tahun, dan yang merusak lebih dari 800 kali per tahun. Trend potensi tsunami juga semakin meningkat. Belum ada kemajuan yg significant untuk mengurangi dampak gempa. Sehingga masih diadapat korban jiwa dan material akibat gempa. Bahaya tsunami dan gempa masih menghantui masyarakat Jawa Timur.


Selatan Jawa Timur mempunyai potensi gempa megatrust dan patahan yang berpotensi memicu tsunami besar. Untuk itu diperlukan mitigasi atau kesiap siagaan masyarkat dalam menghadapi bahaya gempa ke depan. Gempa megatrust dimungkinkan dampaknya tidak hanya di Pantai Selatan Jawa Timur tapi juga bisa sampai Surabaya dan Gresik. Selain Megatrust, Jawa Timur juga merupakan potensi sumber berbagai jenis gempa, sehingga Jawa Timur merupakan daerah yang rentan dari gempa.


Kewaspadaan masyarakat terhadap gempa di Jawa Timur merupakan upaya untuk mengurangi potensi dampak gempa sangat diperlukan. Standard bangunan tahan terhadap gempa diperlukan mengingat dampak merusak dari gempa. Selama ini di Jawa Timur belum ada standard bangunan terhadap gempa atau rumah ramah gempa, sehingga damapk merusak gempa masih berdampak significant terhadap korban jiwa dan keruskaan bangunan. Penciptaan rumah tahan gempa dan standard bangunan tahan gempa merupakan solusi terhadap gemnpa yang tidak dapat dielakkan ke depan.


Pemahaman masyarakat untuk penyelamatan diri sangat diperlukan. Kerjasama semua pihak didaerah dalam proses penyelamatan sangat significant untuk mengurangi kemungkinan korban jiwa dan dampak gempa. BMKG telah menyiapkan beberapa sistem early warning system untuk potensi tsunami dalam berbagai aplikasi supaya masyarakat pesisir memahami bahaya dalam menghadapi bahaya tsunami selain juga sudah tersedia peta gempa yang bisa dipakai sebagai acuan dalam menata kawasan untuk tanggap bencana serta menjadi acuan dalam menetapkan jalur evakuasi terhadap potensi tsunami.


BMKG juga menydiakan ToT untuk menyiapkan masyarakat untuk tanggap gempa, antara lain dalam bentuk sekolah tanggap gempa juga pelatihan evakuasi mandiri untuk menyiapkan kesiap siagaan masyarakat terhadap gempa. Wilayah wisata bisa bedampingan dengan daerah gempa, seperti daerah2 lain di luar negeri, tidak perlu ditakutkan. Yang penting adalah menyiapkan kesiap siagaan terhadap bencana dan diperlukan sistem mitigasi gempa serta insan-insan siaga bencana yang bersertifikat.


Gus Saiful Amin SP, Ketua LPBI PWNU Jawa Timur selaku pemateri kedua menyampaikan Materi tentang Peran NU dalam mengurangi potensi bencana di Jawa Timur. LPBI merupakan salah satu lembaga di NU disiapkan untuk senatiasa siap siaga dalam nenanggulangi dampak bencana dengan cara sinergi dengan lembaga dan banom lain di NU serta lembaga-lembaga di luar NU. Hal ini karena bencana alam berdampak secara multi dimensi, sehingga kerjasama dan dampak bencana harus ditanggulangi secara bersama, tanpa melihat golongan dan suku, yang terpenting adalah rasa kemanusiaan untuk turun membantu dampak yang diakibatkan oleh bencana.


LPBI NU di Jawa Timur sudah ada hampir di berbagai kabupaten dan kota yang potensi terhadap bencana, dan telah telibat dalam upaya penanggulangan bencana baik secara lokal maupun nasional. LPBI berusaha menyiapkan program mitigasi bencana dengan mepertimbangkan aspek sosial, budaya dan teknis, sehingga masyarakat bisa menciptakan sistem evakuasi mandiri terhadap bencana.


Hal ini sangat significant untuk mengurangi resiko bencana. Masyarakat Jawa Timur sebagaian besar warga Nahdiyin apalagi masyarakat pesisir, yang tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah, sangat diperlukan adanya sistem peringatan dini dan sosialisai ke masyarakat untuk penanggulangan bencana. Selain juga penataan sarana dan prasarana atau tata ruang yang sesuai dengan ancaman bencana serta standard bangunan yang tahan gempa sangat diperlukan untuk mengurangi resiko bencana.


Pemateri berikutnya, Dr. Ir. Haryo Dwito Armono, M.Eng, IPU. Lab Infrastruktur Pantai dan Pelabuhan, Dept Teknik Kelautan ITS Surabaya. Iamenyampaikan bahwa mitigasi tsunami di kawasan pesisir dapat dilakukan secara struktural dengan bangunan ataupun sistem peringatan dini, juga dapat dilakukan dengan mitigasi non-struktural seperti zonasi, sosialisasi dan jalur evakukasi. Yang sangat penting membentuk masyarakat yang sadar bencana. Faktor-faktor yang membentuk ketangguhan masyarakat terhadap bencana perlu dilakukan, terutama masyarakat pesisir dari tsunami.


Umumnya masyarakat pesisir tinggal didaerah yang cukup padat dan tingkat pendidikan yang rendah, serta kurangnya kesadaran dalam mengantisipasi bencana selain diperparah kerusakan fisik kawasan pesisir menjadikan daerah pesisir sangat rentan akibat bencana.

Menciptakan ketangguhan masyarakat pesisir terhadap dampak bencana tsunami maupun yang lainnya diperlukan ditingkatkan untuk mengurangi resiko bencana.


ree

Tata Pemerintahan yang baik dapat memmpercepat pemulihan masyarakat akibat bencana, seeperti tata ruang maupun peraturan-peraturan daerah yang terkait. Selain itu faktor sosial dan kelestarian sumberdaya alam pesisir juga sangat penting dalam menciptakan ketangguhan masyarakat pesisir menghadapi bencana. Pendampingan dari pemerintah atau pihak terkait dalam membangun bangunan seperti rumah yang sesuai dengan standard rumah tahan gempa diperlukan untuk mengurangi resiko bencana. Faktor penting lainnya adalah kesadaran dan kesiapan masyakarakat terhadap bencana.


Strategi pemulihan masyarakat dari bencana perlu disiapkan sebelum adanya bencana dan setelah bencana, meliputi tata pemerintahan, kerjasama antar lembaga pemerintah maupun non pemerintah dan strategi penyelamatan korban gempa serta upaya penyaluran bantuan. Peran pemerintah dalam memberikan kesadaran masyarakat dari resiko bencana sangat penting untuk mengurangi resiko bencana dan strategi pemulihan masyarakat dari bencana.


“Untuk melihat ketangguhan masyarakat dari bencana, diperlukan pembuatan index ketangguhan masyarakat dari bencana terhadap kesiagaan, kesiapan dan kesadaran masyarakat terhadap bencana.” pungkas Dr. Haryo. Jalannya webinar secara lengkap dan runtut dapat diikuti pada channel youtube berikut: https://www.youtube.com/watch?v=fXx44g6VvIE (Jadid.Red)

Komentar


bottom of page
analisa post 17.50 (0 menit yang lalu) kepada saya