top of page

Sanaz Berikan Workshop Membuat Sabun Berbahan Dasar Eco Enzyme

Diperbarui: 7 Sep 2022

Editor: Divna Reporter: Ilham


SURABAYA - analisapost.com | Rumah tangga merupakan salah satu sumber sampah organik yang besar pengaruhnya terhadap timbulnya sampah. Upaya pengurangan sampah di rumah tangga sangat diperlukan melalui inovasi pemanfaatan sampah seperti yang dilakukan oleh siswi kelas 4 SDN Kaliasin Surabaya, Sanaz Aisya Janeeta pada hari Sabtu (3/4/22) sebagai finalis putri lingkungan hidup.

Pemanfaatan sampah seperti yang dilakukan oleh siswi kelas 4 SDN Kaliasin Surabaya, Sanaz Aisya Janeeta (Foto: Ilham)

Diusianya masih muda, ia memberikan workshop Ecopreneur yang dilaksanakan diposko kreatif jl.Jambangan Sawah Surabaya dengan 40 peserta penggiat lingkungan dan warga RW 05 Kel. Jambangan


Eco enzyme ini dihasilkan dari proses fermentasi sampah organik yang masih segar (belum mengalami proses pengolahan), seperti sisa buah dan sayur.


Eco enzyme disebut sebagai solusi untuk berbagai kegunaan seperti pupuk, pembersih rumah tangga termasuk sabun. Selain itu, eco enzyme mengandung probiotik yang dinilai baik untuk kesehatan kulit, tidak berbahaya bagi tubuh manusia dan juga dinilai ramah lingkungan.


Keberhasilan Sanaz menyulap sampah buah dan sayuran menjadi olahan bermanfaat, tidak terlepas dari dukungan orang tua dan gurunya yang selalu memberikan dukungan.

Maka dari itu, perlu dilakukan inovasi dan kreativitas membuat sabun eco enzyme dalam wujud padat dan cair yang berpeluang bernilai ekonomi dan ramah lingkungan.


Gadis kecil ini menjadi sosok inspiratif karena berhasil mengolah limbah rumah tangga seperti kulit buah dan sayuran menjadi eco enzyme yang bermanfaat.


"Saya itu kan mau memanfaatkan kulit buah dan sayuran untuk dijadikan eco enzyme karena banyak manfaatnya. Salah satunya bisa membunuh kuman." katanya.

Sejauh ini ia telah membuat berbagai jenis eco enzyme mulai dari hand sanitizer, sabun cuci tangan, serta pupuk cair dan banyak lagi lainnya.


Meskipun semua buah mempunyai manfaat, namun dalam pengolahan eco enzyme harus teliti memilih buah atau sayuran. Pertama harus fresh tidak boleh busuk. Usahakan hindari yang terlalu berlemak seperti alpukat dan tidak memilki kulit terlalu keras seperti durian, nangka dan salak.


Alat yang dibutuhkan adalah ember besar atau galon bekas yang punya tutup, panci stainleess, kompor, alat pengaduk berbahan kayu dan botol sabun atau botol minuman kemasan yang sudah dibersihkan.


Untuk bahan-bahan dibutuhkan meliputi kulit buah dan sayuran, gula serta air. Setelah komposisi dasar tersedia, maka proses selanjutnya ialah menimbang perbandingan 1, 3, dan 10.


"Satu untuk gula, tiga untuk kulit buah dan sayuran, serta 10 untuk air. Terus kita masukkan ke dalam botol, tutup rapat agar tidak terkontaminasi. Dua minggu pertama kita harus rajin membuka tutup botolnya agar tidak meledak. Setelah tiga bulan, eco enzyme ini sudah bisa kita panen," jelas dia. Selama pembuatan eco enzyme, Sanaz tidak sendiri. Ia dibantu oleh sang ibunda tercinta. Begitu pula para tetangga dan teman-teman sekolah.


Butuh kesabaran ekstra untuk mencapai hasil yang maksimal. Sanaz mengatakan, butuh waktu 3 bulan dalam proses pembuatannya.


Dalam kesempatan ini hadir Presiden Tunas Hijau, Zamroni, Bpk Kepsek SDN Kaliasin 1, Sastro, M.Pd, Bpk RW 05 Kel Jambangan, Bpk Ary Setiawan, Pangeran Lingkungan Hidup SD 2022, Nevan,guru-guru SDN Kaliasin 1. (Dna)


Dapatkan upadate berita pilihan dan breaking news setiap hari dari analisapost.com

#finalislingkunganhidup #DLH#DPRD#tunashijau #walikota#pemkot#SMPN6Surabaya #SDN1KaliasinSurabaya #SDNRungkutMenanggal1Surabaya

61 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua