top of page

Sepenggalan Kisah Gadis XX


Foto : Ilustrasi

Menangis bukan jalan satu-satunya Dan bukan juga menandakan berakhirnya suatu masalah. Tapi menangis akan membuat hati lega ketika kita tidak memiliki teman atau seseorang yang bisa mendengarkan jeritan kita.

Hal itulah yang membuatku sangat mencintai pohon-pohon dengan ranting-ranting yang kering. Pohon itu ibarat mewakili kisah hidupku. Dimana pohon itu sudah memberikan kesejukan agar kita tidak kepanasan, mendatangkan angin agar kita tidak gerah, Memberikan buahnya agar semua manusia bisa menikmatinya.


Namun Tak ada yang memperhatikan pohon itu kala dia kekurangan air, tidak ada yang mau peduli ketika daun-daunnya mulai berguguran. Dia sendiri .....dan akhirnya di tinggal. Aku merasa hidupku tak jauh dari pohon itu.

Menangis sendiri dengan hinaan yang datang bertubi-tubi. Dengan fitnahan yang selalu melingkari hidupku. Tak ada seorangpun yang mau memahamiku. Dia orang yang aku cinta, yang aku bela dan rela melakukan apapun, ternyata sama seprti mereka-mereka yang pernah menghinaku.

Awalnya aku sangat percaya dengan kata-katanya yang bagiku bukan rayuan namun sebuah motivasi yang selalu memberikan aku semangat hidup. Tapi kini semua berbalik menjadi 180 derajad. Aku Tak pernah lagi mengenalinya.

Aku Tak pernah lagi bisa memahaminya sejak perselisihan kami yang terus berulang dan berulang lagi hingga aku akhirnya membenci yang namanya Manusia.terutama lelaki. Sejak saat itu, aku lebih senang menyendiri, dan berbicara dengan binatang yang Ku jumpai, berbicara dengan tumbuh-tumbuhan.


Aku membenci orang- orang di sekitarku. Bagiku mereka Tak bisa di percaya. Bertahun- tahun Ku jalani hidup tanpa adanya komunikasi dengan orang di sekitarku. Kemudian tanpa Ku sadari, ada sesesosok manusia laki-laki yang selalu memperhatikan tingkah laku Ku setiap hari.


Suatu hari " hai...hai...kamu " sambil menunjuk kearahku dan melambaikan tangannya agar aku datang kepadanya." hei..kamu ku panggil kenapa. diam? " sapanya lagi.

Aku hanya berdiri di depannya sambil memandang wajahnya yang tampan, polos dan penuh kelembutan ,ahh ku tepis pikiranku lagi sambil berusaha mencari jawaban apa tujuan laki-laki itu memanggilku. " hai...aku Krishna tinggal di sebelah rumahmu.dan kamu siapa?" ku coba kembali melihat wajahnya kemudian aku pergi tanpa berbicara sedikitpun.

Aku berjalan terus dan terus tanpa melihat ke belakang.entah apa yang dia fikirkan tentang aku. Yang jelas aku pergi tanpa pedulikan dia yang berteriak memanggilku.


Bersambung..

113 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua

Comments


bottom of page