top of page

Tak Jago Coding, Mahasiswi DKV STTS Ini Justru Terpilih Jadi Google Student Ambassador

Diperbarui: 8 jam yang lalu

SURABAYA - analisapost.com | Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan, seorang mahasiswi Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (ISTTS), justru berhasil menembus program bergengsi tingkat global. Alexia Valerie Wibisono, yang akrab disapa Lexi, terpilih sebagai Google Student Ambassador meski tidak memiliki latar belakang pemrograman.

Alexia Valerie Wibisono, mahasiswi semester empat Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV)  terpilih sebagai Google Student Ambassador 
Alexia Valerie Wibisono, mahasiswi semester empat Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) terpilih sebagai Google Student Ambassador (Foto: Div)

Mahasiswi semester empat tersebut direkrut bukan karena kemampuan coding, melainkan berkat kompetensinya di bidang desain konten kreatif dan pemasaran digital. Keterlibatannya dalam program ini berawal dari rekomendasi dosen yang menilai minat serta pengalamannya dalam mengelola konten kampus.


Selain aktif sebagai mahasiswa DKV, Lexi juga menjalankan peran sebagai asisten digital marketing di lingkungan kampus. Ia mengaku dihubungi pihak penyelenggara karena fokusnya pada desain dan produksi konten, yang dinilai selaras dengan kebutuhan program.


"Saya dihubungi bukan karena coding, tetapi karena konsisten di bidang desain dan konten. Kebetulan tugas-tugas dalam program ini juga banyak berkaitan dengan pembuatan konten,” ujar Lexi.


Program Google Student Ambassador merupakan wadah bagi mahasiswa terpilih untuk menjadi perpanjangan tangan Google di lingkungan kampus. Para ambassador bertugas mengedukasi mahasiswa mengenai produk, teknologi, dan inovasi Google, khususnya yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI).


Setelah melalui proses pendaftaran dan seleksi secara daring, Lexi berkesempatan menghadiri pertemuan perdana secara langsung dalam acara inaugurasi di Kantor Google Jakarta. Seluruh biaya perjalanan dan akomodasi ditanggung penuh oleh Google, termasuk uang saku selama kegiatan berlangsung.


"Di sana kami bertemu banyak ambassador lain. Ada sesi pelatihan, diskusi, dan pembicara dari berbagai latar belakang,” tuturnya.


Dalam menjalankan perannya, Lexi memiliki tanggung jawab membuat konten mingguan bertema AI. Materi yang disusun disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa Generasi Z dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu topik yang ia angkat adalah pemanfaatan Gemini untuk membantu pengaturan jadwal secara lebih efisien.


Sebagai mahasiswa, Lexi juga berprofesi sebagai asisten pengajar piano dan biola, di samping menjalankan aktivitas dalam program Google. Ia memanfaatkan AI untuk membantu manajemen waktu agar seluruh kegiatannya tetap terorganisasi dengan baik.


Di bidang desain, Lexi turut mengangkat pemanfaatan AI visual seperti fitur Nano Banana dalam proses kreatif. Di Institut STTS, ia menempuh mata kuliah AI for Design yang mengajarkan penggunaan AI sebagai asisten kreatif, misalnya untuk menghapus objek yang mengganggu dalam foto.


"Dengan Nano Banana, cukup blok area tertentu lalu beri prompt. Prosesnya jauh lebih efisien dibandingkan mengedit manual di Photoshop,” katanya saat diwawancarai, Sabtu (21/2/26).


Meski demikian, Lexi menekankan bahwa penggunaan AI tetap memerlukan keterampilan manusia, terutama dalam menyusun prompt yang tepat. Menurutnya, AI bukan pengganti kreativitas, melainkan alat bantu untuk memperluas kemungkinan.


"Ide dan kreativitas tetap berasal dari kita. AI hanya membantu mengembangkan kemungkinan tersebut,” ucapnya.


Terpilih sebagai Google Student Ambassador menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus menantang bagi Lexi. Selain membawa nama Institut STTS, ia merasa memiliki tanggung jawab untuk terus memperdalam pengetahuan agar tidak tertinggal oleh perkembangan teknologi.


"Ada rasa bangga, tetapi juga tantangan untuk terus belajar,” ungkapnya.


Peran tersebut juga menjadi pengalaman pertamanya tampil sebagai pembicara di depan publik. Ia mengaku sempat gugup, terutama ketika harus berbicara di hadapan audiens yang sebagian besar berlatar belakang teknologi.


"Takut salah bicara pasti ada, tetapi itu justru menjadi motivasi untuk belajar lebih dalam dan mengeksplorasi lebih luas,” tuturnya.


Sebagai Google Student Ambassador, Lexi berharap dapat menjadi jembatan antara perkembangan teknologi AI dan mahasiswa, khususnya dari bidang non-teknologi, agar mampu memanfaatkan inovasi digital secara relevan, kreatif, dan bertanggung jawab. (Dna)


Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com

bottom of page