Umar Patek Hadir di Aksi Kamisan Surabaya Membawa Pesan Damai
- analisapost

- 5 Sep 2025
- 2 menit membaca
Diperbarui: 6 Sep 2025
SURABAYA - analisapost.com | Aksi Kamisan yang rutin digelar di berbagai kota sebagai ruang mengenang korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), Kamis sore di Taman Apsari Surabaya mendadak menjadi sorotan.

Bukan semata karena barisan payung hitam yang terbentang, atau seragam kemeja hitam melainkan hadirnya sosok yang namanya lekat dengan sejarah kelam yakni Umar Patek.
Mantan terpidana kasus terorisme itu datang bersama seorang sahabatnya, drg. David. Kehadirannya sontak mencuri perhatian massa aksi yang terdiri dari elemen kampus, masyarakat sipil, hingga aktivis KontraS.
Di tengah lingkaran demonstran yang menuntut penyelesaian kasus-kasus HAM berat, Umar menyampaikan pernyataan yang ia sebut sebagai bentuk dukungan terhadap aksi damai.
"Saya mendukung sekali demonstrasi damai dan tidak disusupi provokator. Itu murni menyampaikan aspirasi dan dilindungi undang-undang,” ujarnya kepada awak media AnalisaPost, Kamis (4/9/25).
Ia menegaskan tidak setuju dengan praktik kekerasan dalam aksi jalanan. "Saya sangat tidak setuju dengan cara-cara vandalisme, pembakaran, hingga penjarahan. Itu bukan etika bangsa kita yang penuh gotong royong. Silakan menyampaikan aspirasi, tapi jangan sampai anarkis," katanya.
"Kehadiran saya di acara Kamisan ini rencananya mau membuat konten. Konten saya sebelumnya mendapat apresiasi, bahkan ada yang ditayangkan di TV nasional,” terangnya.
Di satu sisi, dukungan Umar terhadap aksi damai bisa dipandang sebagai narasi baru yakni seorang mantan pelaku kekerasan kini bersuara menolak kekerasan. Namun di sisi lain, publik juga berhak mengajukan kritik. Apakah kehadiran figur dengan rekam jejak terorisme dalam ruang perjuangan korban HAM tidak justru mereduksi makna Kamisan itu sendiri?
KontraS dan elemen mahasiswa yang hadir memilih tetap fokus pada agenda utama yakni menagih janji negara atas kasus pelanggaran HAM yang mangkrak, dari tragedi 1965 hingga penembakan misterius.
"Kami tidak ingin isu bergeser. Kehadiran siapa pun tak boleh mengaburkan pesan Kamisan. negara harus bertanggung jawab," seru salah satu aktivis yang enggan disebut namanya.
Aksi Kamisan, sejak pertama kali digelar 2007 di Jakarta, memang dimaksudkan sebagai simbol perlawanan tanpa kekerasan. Para keluarga korban berdiri diam dengan payung hitam, menuntut negara tak lupa.
Di Surabaya, tradisi itu berlanjut, meski kini wajah baru seperti Umar Patek ikut hadir.
Apakah publik siap menerima narasi rekonsiliasi dari seorang mantan terpidana terorisme? Ataukah justru ini menjadi pengingat bahwa perjuangan korban HAM tak boleh dipertontonkan sebagai latar konten pribadi?
Seperti payung hitam yang terbuka tiap Kamis sore, pertanyaan itu pun tetap menggantung di udara. (Che/Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar