Akibat Tergiur Investasi Online, Seorang Pria Mengamuk dan Membakar Kios

Diperbarui: 26 Mar


Foto : Nn

Pangandaran, Analisa Post | Aksi brutal yang di lakukan Karim (52) pelaku pembacokan 5 warga di sertai dengan pembakaran kios di pasar wisata Pangandaran yang di lakukan pada Rabu 30/03 sekitar jam 17.30 itu mendapat kecaman warga.



Akhirnya pihak keluarga pun meminta maaf. "Saya minta maaf kepada para korban dan seluruh masyarakat atas prilaku sadis yang di lakukan saudara kami. Semoga para korban cepat sembuh,” Kata Sukiman, adik ipar Karim, Kamis (1/4/2021).


Dengan didampingi polisi, pihak keluarga mengambil mayat Karim dari kamar mayat RSUD Pandega Pangandaran.


Karim merupakan penjahit di pasar wisata Pangandaran yang kini jenazahnya akan dimakamkan di TPU Dusun Cikuya Desa Langkapsari Kecamatan Banjaranyar Kabupaten Ciamis. Karim ber-KTP Banyumas Jawa Tengah, tapi Kecamatan Banjaranyar Ciamis adalah kampung halamannya.


Yang mana di ketahui saat Karim sedang membabi buta bacok 5 orang warga serta bakar kios, dia di hadiahi timah panas polisi karna sewaktu di beri peringatan Karim tidak menggubrisnya dan akhirnya polisi ambil tindakan lumpuhkan pelaku dengan timah panas dan bersarang di tubuhnya karna aksinya membahayakan warga sekitar.


Sukiman menjelaskan beberapa hari sebelum kejadian, Karim datang dan menginap selama 2 malam di rumahnya. “Saya tak banyak bicara dengan dia. Sejujurnya hubungan Karim dengan kami sudah lama renggang." Ucap sukiman.


"Karim terlihat sedang dirundung masalah. Memang akhir-akhir ini dia terdesak kebutuhan ekonomi, termasuk kebutuhan berobat istrinya yang sakit jiwa. Waktu di rumah dia tak bicara, bahkan perginya pun tak pamit. Dia datang sendiri, istrinya ditinggal di Pangandaran." Sambung Sukiman.

Foto : Nn

Adik kandung Karim Sutarno mengatakan "Kakaknya itu sudah menikah dengan Amirah, kurang lebih 30 tahun. Awalnya kehidupan Karim baik-baik saja. Dia menekuni profesinya sebagai penjahit di Jakarta. Karim bisa membangun rumah di kampungnya."Paparnya.


Masalah mulai datang ke keluarga Karim dan Amirah sekitar 10 tahun lalu. Keduanya tergiur tawaran investasi online. “Dia ikutan investasi yang katanya jalan cepat kaya itu, katanya online, ternyata tertipu. Uangnya habis,” kata Sutarno. Uang yang dihabiskan oleh Karim cukup banyak, sampai dia kehilangan aset-aset berharga.


Akibat jadi korban investasi bodong itu, kehidupan Karim mulai berantakan. Istrinya stres hingga dinyatakan sakit jiwa. Rumahnya dijual, harta benda sisa investasi bodong habis untuk upaya pengobatan istri.


“Dia pindah ke Banyumas, sempat pindah ke Padaherang hingga terakhir pindah ke Pangandaran. Mungkin dia tertekan dengan masalah itu. Ekonomi sulit, istri tak sembuh-sembuh,” Kata Sutarno.


Terkait tindakan polisi yang menembak mati Karim, pihak keluarga merelakannya. “Kami ikhlas, polisi sudah tepat. Karena kalau dibiarkan mungkin korban akan semakin banyak,” kata Sukiman. (Nn)

138 tampilan0 komentar