top of page

Bu Misna Mengajari Kesederhaan Dan Indahnya Toleransi

SURABAYA - analisapost.com | Membangun toleransi itu bisa di lakukan oleh siapa pun tanpa mengenal profesi atau status. Seperti yang di lakukan oleh ibu satu ini meskipun usia sudah tua namun sikapnya wajib di contoh .

(Kiri) Misna wanita tangguh yang hebat foto bersama kerabatnya (Foto: Charles)

Perempuan tersebut biasa di panggil rekan atau tetangga dengan nama Bu Misna. Menariknya beliau bukan dari kalangan pengusaha sukses cuma masyarakat biasa.


Ibu satu ini bisa menjadi teladan bagi kita semua khususnya dalam hal toleransi menghargai perbedaan diera sekarang ini sangat sulit dan dapat di katakan sesuatu yang langka.


Dalam keseharian penampilan bu Misna sangat sederhana dengan karakter dan sifat yang tidak di punyai semua orang. Ia suka memberi dan berbagai kasih, baik berupa uang ataupun makanan kepada siapapun yang membutuhkan tanpa melihat perbedaan.


Bu Misna bercerita kalau tiap hari ada saja orang yang dibantu atau datang ke rumahnya. Meskipun penghasilan Bu Misna sangat pas-pasan terutama saat ia sudah tidak bekerja lagi dan pensiun dari Rumah Sakit Angkatan Laut. Bu Misna tidak pernah takut kala memberi kepada sesama karena keimanannya yang kuat, terbukti selalu ada berkat di dapatnya.


Uniknya waktu natal ibu tersebut sering mengadakan open house di rumahnya. Terbukti yang hadir itu tidak hanya berasal dari Gereja tetapi tamu penuh dari berbagai kalangan.


Rumah yang tidak besar dan berada di pojok gang Daerah Margorejo seakan menjadi sesak karena banyaknya orang. Yang membuat kaget hampir semua tamu berhijab. Mereka datang dan tidak berhenti dari pagi sampai malam.


Sedangkan sajian bukan dari restoran, hanya makanan rumahan seperti mie, ayam goreng dll, tetapi karena di buat dengan ketulusan sehingga rasanya tidak bisa di ungkapkan dengan kata - kata. Bahkan pada moment itu Bu Misna bagi bagi uang buat anak - anak kecil yang hadir.


Dapat di katakan Bu Misna mampu menjaga tradisi toleransi yang mulai luntur seperti moment saling mengucapkan karena di hari keagaman sudah sangat sulit di temui. Sementara disisi lain masih ada juga orang yang memandang seseorang berdasarkan penampilan.

Berdasarkan cerita dari anaknya, "Ibu sering banget dicibir, pernah suatu saat ada kegiatan amal, ibu akan menyumbang tetapi bukan di terima baik tapi malah di maki dengan ucapan kalau amplop yang di berikan itu kosong, padahal jelas - jelas ada uangnya, kalau sudah begitu biasanya curhat ke anaknya."cerita putrinya.


Hal yang sama juga pernah dialami salah satu anaknya yang bernama Monik. Ketika berkunjung ke toko sering di anggap sebagai asisten rumah tangga padahal saya bawa uang, ya kalau sudah begitu di bawa ketawa aja." ujarnya lirih.


Bu Misna sendiri sudah di tinggal suaminya karena sakit, dan mempunyai tujuh anak semua sukses. Di samping itu, dalam keluarga Bu Misna, ketujuh anaknya memeluk berbagai agama tidak semua Katholik tapi ada juga yang Muslim.


Ketujuh anaknya Bu Misna memiliki gelar sarjana mulai dari anak pertama, Muslikan ia seoarang Sarjana Pendidikan (guru), Petrus Sarjana Katekis (Swasta), Yakubos Sarjana Bahasa Jerman (Swasta), Monica (PNS), Paulus (Hukum), Emertiana sarjana farmasi (punya CV sendiri), Dr. Ignatius kepala Puskesmas Semboro Jember.


Bu Misna merupakan bukti nyata yang mampu menjaga marwah dari keragaman tanpa terpengaruh oleh isu apapun dan ini bisa menjadi teladan bagi kita semua tanpa melihat perbedaan.


Pesan yang bisa disampaikan adalah jangan pernah melihat seseorang dari penampilan, Bu Misna yang sederhana ternyata mempunyai kesuksesan dalam mendidik anak dan berbagi kasih terhadap sesama. Banyak orang berpenampilan mewah ternyata itu semua tipuan untuk mencari keuntungan pribadi dan merugikan banyak orang. (Che)


Dapatkan Update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari analisapost.com

#toleransiberagama #kisahsejati

150 tampilan0 komentar