Film Kangaroo Buka FSAI 2026, Angkat Kisah Nyata Mengharukan di Pedalaman Australia
- analisapost

- 3 hari yang lalu
- 2 menit membaca
Diperbarui: 45 menit yang lalu
SURABAYA - analisapost.com | Film Kangaroo menjadi pembuka Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026 di Surabaya, Jumat, 15 Mei 2026. Film yang terinspirasi dari kisah nyata ini menghadirkan cerita emosional tentang perjalanan seorang pria yang menemukan makna baru dalam hidupnya setelah terdampar di pedalaman Australia.

Film tersebut mengisahkan seorang pria yang berada di Alice Springs, kawasan pedalaman Australia, dan kemudian terlibat dalam upaya merawat anak-anak kanguru atau joey yang kehilangan induknya. Pertemuannya dengan seorang gadis muda yang memiliki kepedulian terhadap satwa liar menjadi titik balik dalam perjalanan hidup tokoh utama.
Melalui proses merawat anak kanguru, Kangaroo tidak hanya menampilkan kisah yang hangat, tetapi juga menggambarkan perjuangan, kehilangan, harapan, serta hubungan manusia dengan alam. Alur cerita dibangun secara natural, tanpa kesan berlebihan, sehingga pesan emosional dalam film dapat tersampaikan dengan kuat kepada penonton.
Latar alam liar Australia juga menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Hamparan lanskap gurun yang luas dan keras tidak hanya menjadi latar visual, tetapi turut memperkuat perjalanan batin para tokohnya dalam menemukan kedamaian dan arti baru dalam hidup.
Konsulat Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, mengatakan antusiasme masyarakat Surabaya terhadap Festival Sinema Australia Indonesia terus meningkat. Menurutnya, festival yang telah berjalan selama 11 tahun tersebut menjadi salah satu jembatan diplomasi budaya antara Australia dan Indonesia.
Dalam pemutaran film tahun ini, Glen menyebut Kangaroo menjadi salah satu film yang menarik untuk disaksikan, terutama karena memiliki pesan yang dekat dengan keluarga.
“Film ini cocok untuk keluarga. Sinematografinya juga bagus sekali karena mengambil latar alam Australia di tengah padang pasir,” ujar Glen saat ditemui awak media AnalisaPost.
Glen menjelaskan, FSAI 2026 menghadirkan lebih banyak genre film dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Film yang diputar tidak hanya bergenre keluarga, tetapi juga mencakup horor dan dokumenter. Selama dua hari penyelenggaraan di Surabaya, sebanyak tiga film diputar setiap harinya," terangnya.
Selain pemutaran film, Konsulat Australia di Surabaya juga menghadirkan kompetisi kostum bertema Australia. Kegiatan tersebut digelar untuk menambah pengalaman penonton sekaligus menghadirkan suasana festival yang lebih interaktif.

Menurut Glen, pendekatan seperti itu menjadi bagian dari diplomasi budaya yang lebih dekat dengan masyarakat. Ia menilai festival film tidak hanya dapat dinikmati kalangan pejabat atau komunitas tertentu, tetapi juga masyarakat umum.
"Saya senang bukan hanya pejabat, tapi masyarakat biasa juga bisa menikmati budaya Australia lewat film,” katanya.
Ia menambahkan, festival film menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan budaya, seni, dan kehidupan masyarakat Australia kepada publik Indonesia. Melalui film, hubungan kedua negara dapat diperkuat melalui pengalaman budaya yang lebih mudah diterima dan dinikmati masyarakat luas.
Film Kangaroo juga dijadwalkan diputar di berbagai kota di Indonesia dalam rangkaian FSAI 2026. Pemutaran tersebut diharapkan memberi kesempatan lebih luas bagi penonton untuk menikmati kisah yang mengangkat nilai empati, kepedulian terhadap satwa liar, serta hubungan manusia dengan alam.(Dna)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar