GEUREUDONG PASEE, ACEH, MENUNGGU INVESTOR PORANG

ACEH - analisapost.com | Tanaman Porang yang sudah berkembang di beberapa Provinsi sejak 2017 mulai masuk ke Aceh dan diusahakan mandiri oleh petani. Tim penjajakan bakal kawasan Pertanian Porang di Lhokseumawe dan sekitarnya yang terdiri dari Samsul Zaki, Ketua Kelompok Tani Sumber Rejeki Mbang Geureudong Pase, Teuku Nashruddin, Mantan Anggota DPRD Kabupaten Aceh Utara, bersama Saifuddin Saleh Biro Aceh Analisa Post, mengunjungi Desa Suka Damai, Rabu, akhir September lalu. Minggu (10/10/21)

Foto : Saifuddin

Desa yang terkenal kawasan Resetlement Mbang dan ditempatkan transmigran asal Yogya dan Jawa Tengah sejak 1980- an awal, kini jadi kawasan Pertanian Produktif. Hasil utamanya Sawit, Karet, hortikultura lainnya termasuk tanaman tumpang sari Jagung.


Sepanjang jalan dari Cot Matahe Syamtalira Bayu ke arah selatan menuju kaki Gunong Geureudong, lk 20 km, ditemukan angkutan dumptruck pengangkut batu gajah dan koral untuk Proyek di Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseuawe.


Ada juga truck tanki sawit. Kiri kanan jalan sampai sejauh mata memandang terhampar perkebunan sawit rakyat dan ada beberapa kebun karet. Lewat ibukota Kecamatan Geureudong Pase, Mbang, menuju desa sasaran, ditemukan gerbang PT Setya Agung, Bahroeny Group, kebun sawit swasta nasional yang dilengkapi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tersendiri. Dari samping gerbang itulah kawasan Desa Suka Damai, dimana disasar lk.200 Ha untuk bakal Pertanian Porang.

Dipandu Sekretaris Kelompok Tani Sumber Rezeki (KTSR), Sugeng, kami menuju lahan lk 2 ha yang telah dibersihkan, dan lahan bekas tanaman jagung lk 100 ha. "Kami inginkan lahan ini untuk tanaman Porang", kata Sugeng, yang dilanjutkan dengan beberapa keterangan menyangkut tanaman Porang yang telah diketahuinya.


Sugeng, ditemani seorang Anggota lain, melanjutkan bahwa penduduk Desa Suka Damai terutama yang bergabung dalam KTSR telah memahami keunggulan Porang dari keluarganya yang masih di Jawa. Mereka ingin lahan yang dimiliki sekitar 3 ha per kk bernilai ekonomis, "lebih baiklah daripada hasil jagung yang pernah kami tanami", lanjutnya.


KTSR yang semula dibentuk untuk tanaman jagung hasilnya mengecewakan. Menurut Ketua KTSR Samsul Zaki sebelum Covid KTSR dikunjungi tim pertanian dan perkebunan Kabupaten Aceh Utara, " kami telah dibantu bibit jagung dan pemupukan lahan dan Khasinya melimpah. Tetapi harganya jatuh tidak sesuai modal kerja" katanya.


KTSR Suka Damai beranggota 35 petani pemilik lahan dari keluarga transmigran asal Yogya dan Jawa Tengah yang telah menetap sejak awal 1980. Mereka mendapat masing-masing 2 ha lahan usaha pertanian dan satu ha lahan kawasan pemukiman.

Sebagian besar dari mereka telah menanami lahan dengan Sawit, karet, dan coklat. Banyak juga yang telah menambah lahan ekspansi dengan membeli sehingga memiliki lebih dari 3 ha dan menanam sawit, karet, coklat, pinang, jeruk, durian dan palawija lainnya.

Harus dibenah serius

Seorang anggota tim yang ikut meninjau, Teuku Nashruddin, Anggota DPRD Tk II Aceh Utara periode 1999/2004 berpendapat bahwa kawasan Mbang ini perlu dibenahi serius meliputi jalan, jembatan dan sumber air pertanian. Hasil perkebunannya yang melimpah serta pertambangan gol c berupa batu gajah dan koral yang diangkut ke luar kecamatan atau ke kawasan Lhokseumawe dan sekitarnya, memerlukan infrastruktur jalan, jembatan termasuk pengairan dan jalan usaha tani, sehingga para petani atau pemilik kebun lebih makmur dan mudah terakses.Jika ini terpenuhi, investor akan mudah diajak ke kawasan ini untuk pertanian Porang. Disamping itu, "Pemda harus membantu penyuluhan, pembukaan kebun rakyat, dan dukungan pemasaran untuk komoditas yang cocok dan disukai petani" kata T Nash.

Perlu Pemodal Swasta

Dalam kota dan sekitar Lhokseumawe telah ada petani Porang sejak tahun 2018. Menurut Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Pertanian Muhammad Rizal, S.Sos, M.Si, semangat usaha porang kandas karena petani kesulitan menjual hasil usaha jika tidak dikelola secara massal, bukan bergerak sendiri-sendiri.


Jika ada pengusaha pembina yang membuka perkebunan inti dan mendukung logistik ke patani, peminat porang banyak di Lhokseumawe. Rizal menunjuk lahan subur milik penduduk kawasan Blang Pohroh dan Jeulikat yang tidak sulit dibina dan diarahkan. Jika ada investor masuk, Dinas yang dipimpin Rizal siap mendukung dan membangun hubungan kerjasama.


Biro Aceh Analisa Post Saifuddin Saleh menemukan satu kebun porang milik Tgk. Tarmizdi di Blang Crum Kandang Kecamatan Muara Dua, beberapa waktu lalu. Dalam ladang ditemukan setengah ha tanaman porang milik Tgk Tarmizdi yang diurus pekerja Rasyidin.


"Hasil yang kami dapat berupa penjualan biji katak sebesar 175.000 per kg, sementara umbinya pernah kami kumpulkan dan kami tanam kembali karena pembelinya tak kunjung datang" kata pekerja ladang itu. Hal ini sesuai pendapat Kadis M. Rizal, jika hasilnya tidak banyak umbinya sulit dipasarkan di Lhokseumawe.(Saifuddin)

40 tampilan0 komentar