Inilah Sosok Sultan Perancang Lambang Garuda Pancasila

Diperbarui: 1 Jun

SURABAYA - analisapost.com | Lambang Negara Indonesia adalah Garuda Pancasila, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Lambang negara Indonesia ini berbentuk burung garuda yang kepalanya menoleh ke sebelah kanan. Lambang ini dirancang oleh Sultan Hamid II dari kesultanan Qadriyah Pontianak, yang kemudian disempurnakan oleh presiden Soeakrno dan diresmikan pemakainannya sebagai lambing negara pertama kali pada sidang kabinet Republik Indonesia tanggal 11 Februari 1950.

Pertanyaannya adalah dari manakah asal muasal lambang burung garuda yang diserahkan oleh Sultan Hamid II kepada presiden Soekarno pada masa itu?


Lambang burung garuda muncul dalam berbagai kisah, terutama di Jawa dan Bali. Dalam banyak kisah, garuda melambangkan kebajikan, pengetahuan, kekuatan, keberanian, kesetiaan, dan kedisiplinan.


Misalnya saja pada arca Anumrtha, dikisahkan bahwa Airlangga yang digambarkan sebagai dewa Wisnu, sedang mengendarai garuda. Kini arca ini disimpan di museum Trowulan.


Sebagai kendaraan dewa Wisnu, garuda juga memiliki sifat Wisnu yaitu sebagai pemelihara dan penjaga tatanan alam semesta. Dalam tradisi Bali, garuda dimuliakan sebagia tuan segala makhluk yang dapat terbang dan raja agung para burung.


Di Bali, garuda biasanya digambarkan sebagai makhluk yang memiliki kepala, paruh, sayap dan cakar Elang. Akan tetapi, memiliki tubuh dan lengan manusia. Biasanya digambarkan dalam ukiran yang halus dan cukup rumit dengan warna cerah keemasan. Lalu kemudian digambarkan juga dalam posisi sebagai kendaraan dewa Wisnu dalam adegan pertempuran melawan naga.

Posisi muliakan dalam tradisi Indonesia sejak jaman kuno, menjadikan Garuda sebagai simbol Nasional Indonesia, sebagai perujudan ideologi Pancasila.


Berdasarkan dari berbagai sumber literatur bahwa lambang burung Garuda yang diusulkan oleh Sultan Hamid II kepada presiden Republik Pertama secara jelas dan gamblang ternyata berasal dari lambang kesutanan Sintang.


Sultan Hamid II yang menjadi kesultanan Qadriyah Pontianak saat itu, diduga mendapat inspirasi dari lambang burung Garuda yang saat ini masih utuh tersimpan di istana. Yang mana kesultanan Sintang ini sudah berdiri sejak abad ke 13 atau sekitar tahun 1262 Masehi.


Berdasarkan dari catatan sejarah, bahwa lambang burung Garuda yang ada di kesultanan Sintang dahulunya adalah pemberian dari patih Logender dari Kerajaan Majapahit untuk mempersunting seorang putri dari kerajaan Sintang.


Dalam Kisah singkat pertemuan antara Dara Juati dan patih Logender dari kerajaan Majapahit saat itu sekitar 1400 Masehi, patih Logender bertemu dengan putri Dara Juati yang pergi ketanah Jawa untuk mencari kakaknya yang ditahan Majapahit.


Putri Dara Juati dapat membebaskan kakaknya dengan syarat akan dinikahkan oleh patih Logender dan Putri Dara Juati menyetujuinya dengan syarat memberikan seserahan pinangan salah satunya berupa keris kelok tujuh berkepala naga, tiang penyangga gong besar, seperangkat gamelan, dan 40 kepala keluarga dari tanah Jawa.


Patih Logender memenuhi syaratnya dengan tiang penyangga gong berkepala garuda. Tiang berkepala garuda itulah yang dijadikan lambang kesultanan Sintang hingga Indonesia Merdeka.

Setelah Indonesia merdeka, presiden Soekarno, sebagai pemimpin Negara sedang mencari lambang Negara. Saat itu Sultan Pontianak, mengusulkan agar presiden menggunakan burung garuda sebagai lambang Negara yang dikagumi oleh Sultan Hamid II, ketika itu ia mengunjungi kesultanan Sintang.


Selanjutnya ada dua rancangan yang terpilih yaitu karya Sultan Hamid II dan karya M Yamin. Pada proses selanjutnya yang di terima MPR dan DPR adalah rancangan Sultan Hamid II. Sedangkan karya M Yamin ditolak karena menyertakan sinar-sinar matahari yang menyerupai pengaruh dari Jepang.


Rancangan Lambang Negara tersebut mendapatkan masukan dari partai Masumi untuk dipertimbangkan kembali. Partai Masumi keberatan karena lambang burung Garuda dengan tangan dan bahu manusia yang memegang prisai dan di anggap terlalu bersifat mitologis.


Kemudian Sultan Hamid II kembali mengajukan rancangan Lambang Dasar Negara yang disempurnakan berdasarkan masukan yang berkembang, sehingga tercipta bentuk Rajawali Garuda Pancasila.


Presiden Soekarno kemudian menyerahkan rancangan tersebut pada kabinet Republik Indonesia Serikat melalui Mohamad Hatta sebagai perdana mentri.


AG Pringgodikto dalam bukunya sekitar Pancasila terbitan Dephamkam, pada saat itu pusat sejarah ABRI menyebutkan rancangan lambang negara karya Sultan Hamid II, akhirnya diresmikan pemakaiannya dalam sidang kabinet Republik Indonesia Serikat pada tanggal 11 Februari 1950.


Ketika itu Gambar Rajawali Garuda masih gundul dan tidak berjambul seperti bentuk sekarang ini. Presiden Soekarno kemudian memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang negara ini kepada halayak ramai di hotel Des In Dest Jakarta pada tahun 15 Februari 1950.


Kemudian Soekarno terus memperbaiki bentuk Garuda Pancasila pada tanggal 20 Maret 1950 Soekarno memerintahkan pelukis istana yang bernama Dullah. Kemudian Dullah melukis rancangan tersebut, setelah sebelumnya memperbaiki antara lain: penambahan jambul pada garuda pancasila, serta mengubah posisi cakar kaki yang mencengkram pita. Semula dibelakang pita menjadi di depan pita.


Atas masukan presiden Soekarno dipercaya bahwa alasan presiden menambahkan jambul karena kepala garuda gundul diartikan terlalu mirip dengan lambang Amerika Serikat.


Untuk terakhir kalinya, Sultan Hamid II menyelesaikan penyempurnaan bentuk final gambar lambang negara yaitu dengan menambahkan sekala ukuran, dan tata warna. Gambar lambang negara rancangan Garuda Pancasila terakhir ini, dibuatkan patung besar dari bahan perunggu berlapis emas dan dismpan dalam ruang kemerdekaan Monumen Nasional sebagai acuan, kemudian di tetapkan sebagai lambang Negara Republik Indonesia dan disainnya tidak berubah hingga saat ini (Dna)


#lambanggaruda #perancanggarudapancasila #sejarahindonesia #jejaksejarah

190 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua