Dari AI ke Kopi Arak: Rocky Gerung Tekankan Nalar dan Identitas Lokal
- analisapost

- 7 Jan
- 2 menit membaca
DENPASAR - analisapost.com | Suasana Ruang Auditorium Saraswati, Universitas Mahasaraswati (UNMAS) Denpasar, mendadak riuh oleh tepuk tangan ribuan mahasiswa pada Selasa (6/1/26). Antusiasme memuncak ketika pengamat politik dan akademisi Rocky Gerung menutup kuliah umumnya dengan narasi tak biasa: Kopi Arak Bali.

Hadir sebagai pembicara utama dalam kuliah umum bertajuk “Dialektika & Retorika: Logika dan Nalar di Era Artificial Intelligence (AI)", Rocky menyampaikan gagasannya dengan cara yang segar.
Ia mampu mengaitkan isu kompleks seputar perkembangan kecerdasan buatan dengan nilai-nilai kearifan lokal, sehingga mudah dipahami dan membumi di hadapan audiens muda.
Kegiatan akademik tersebut dipandu langsung oleh Rektor UNMAS, Prof. Dr. Sukawati Lanang Pertama, serta turut dihadiri Gubernur Bali, Wayan Koster.
Dalam pemaparannya, Rocky menegaskan bahwa di tengah laju teknologi AI yang kian cepat, manusia tetap harus menjaga ketajaman berpikir, nalar kritis, dan keaslian sikap.
Momen paling berkesan hadir di penghujung acara. Dengan gaya retorika khasnya, Rocky menyampaikan kalimat penutup yang langsung mengundang gelak tawa sekaligus apresiasi mahasiswa.
"Saya diterima di Saraswati dengan cara semarak. Walaupun hidup tidak pasti, asal ada kopi arak, terima kasih,” ucapnya, disambut tepuk tangan meriah.
Ungkapan tersebut bukan sekadar seloroh. Sehari sebelumnya, Senin (5/1), Rocky diketahui berkunjung ke Jaya Sabha, kediaman resmi Gubernur Bali.
Di sana, ia dan Koster terlibat perbincangan hangat sambil menikmati kopi yang diracik dengan arak Bali. Dalam kesempatan itu, Rocky menyebut Koster sebagai rekan seperjalanan dalam berpikir dan berjuang.
Gubernur Koster pun menjelaskan filosofi di balik jamuan tersebut. Ia menyebut racikan kopi arak sebagai “Irish Coffee” versi Bali. Dari sisi kesehatan, Koster menilai minuman itu aman dikonsumsi selama takarannya tepat dan dapat membantu menjaga stamina tubuh.
Dari sisi ekonomi, langkah tersebut merupakan bentuk keberpihakan pada produk lokal Bali agar semakin dikenal dan bernilai.
"Adik-adik mahasiswa jangan alergi. Di Eropa ada kopi dengan whisky, kita punya kopi arak. Ini upaya mencintai produk sendiri supaya ekonomi rakyat terus bergerak,” ujar Koster.
Pertemuan dua tokoh ini di lingkungan kampus UNMAS bukan hanya menyuguhkan tentang logika dan retorika di era AI, tetapi juga menyiratkan pesan penting tentang menjaga identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi dan globalisasi. (Dwa)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar