top of page

Kenakalan Remaja


Oleh : Remy Ulina siahaan

Mahasiswa Manajemen Pendidkan Kristen

Institut Agama Kristen Negeri Tarutung


Menurut WHO, remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 sampai 24 tahun. Remaja merupakan pemimpin masa depan bangsa, di samping hal-hal yang menggembirakan dengan segala kegiatan-kegiatan yang dilakukan remaja dengan aktif mengikuti peningkatan prestasi, tetapi kita dapat melihat arus kemerosotan moral yang dilakukan remaja semakin melanda di kalangan sebagian pemuda-pemuda kita yang terkenal dengan kenakalan remaja.


Dalam surat kabar atau majalah lainnya kita sudah sering dengar kenakalan remaja dengan berbagai perilaku kenakalan yang dilakukan dan dapat merugikan dirinya sendiri, hal tersebut sudah menjadi masalah dalam kalangan masyarakat.


Kenalakan remaja ini sungguh sangat meresahkan, banyak remaja yang sekarang sudah tidak mengerti sopan santun dan saling mencela dengan sesama teman sebayanya. Kenakalan remaja ini termasuk dalam tindakan kriminal, adapun tindakan kriminal yang sering dilakukan oleh remaja seperti tawuran, geng motor yang meresahkan masyarakat, merokok, seks bebas, hamil di luar nikah, melawan orang tua, mencuri, narkoba, judi online, kecanduan game, dan lainnya.


Menurut perkembangannya, seorang anak dengan seiring berkembangnya seorang anak, maka kenakalan remaja itu akan semakin timbul dan dapat dilakukan selama kenakalan tersebut masih pada tingkat sewajarnya.


Oleh karena, itu peran orang tua atau kerabat yang ada di sekelilingnya perlu mengawasi setiap tindakan atau perilaku seorang anak remaja dan orang tua harus dapat menanamkan nilai-nilai norma kesopanan terhadap perkembangan tingkah laku anak agar dapat mempengaruhi sikap dan perbuatan mana yang harus dapat dicontoh yang mengarah kepada hal-hal positif yang tidak mengganggu mental seorang anak.


Kenakalan remaja seperti sebuah lingkaran hitam yang tidak pernah putus, sambung menyambung dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari tahun ke tahun dan bahkan dari hari ke hari semakin rumit. Kenakalan remaja adalah sebuah kenakalan yang semakin rumit dan banyak terjadi di lingkungan sekitar kita.


Didukung oleh perkembangan teknologi yang semakin maju ini membuat beragam macam kejahatan serta gaya modernisasi yang semakin membuat remaja ikut-ikutan perkembangan.

Faktor yang menjadi penyebab dari kenakalan remaja yaitu kurangnya pengawasan orang tua terhadap pola asuh yang baik terhadap anaknya, kurangnya pengontrolan diri, rendahnya kesadaran diri remaja terhadap bahanyanya pergaulan bebas, nilai-nilai keagamaan cenderung kurang, gaya hidup yang kurang baik, dan lingkungan sekitar yang terlalu menyeramkan.


Kenakalan remaja dikategorikan sebagai masalah sosial karena terdapat penyimpangan perilaku dan berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai norma dan norma sosial yang berlaku. Menurut sumber Kompas, terdapat dua faktor yang menjadi penyebab terjadinya perilaku yang tidak diinginkan bahkan dapat menyebabkan kerugian terhadap dirinya sendiri maupun orang-orang yang ada di sekelilingnya yaitu:

  1. Faktor eksternal: Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari dalam diri remaja yang meliputi krisis identitas belum adanya pegangan. Kepribadian yang tidak dapat dibentuk dengan baik, akan mengarahkan remaja pada kenakalan atau perilaku menyimpang. Selain itu, status dan peranannya dalam masyarakat. Hal ini ditandai ketika seseorang yang pernah melakukan tindakan kriminal dan dipenjara seringkali saat kembali ke masyarakat, akan mendapat sanksi sosial dari masyarakat seperti dikatai “mantan narapidana.” Sanksi sosial yang sulit dihapuskan itulah membuat seseorang akan kembali pada perbuatan menyimpang karena merasa ditolak atau diasingkan dari masyarakat sekitarnya.

  2. Faktor Internal: Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari luar yang di mana faktor ini meliputi kondisi keluarga. Keluarga yang terlalu sibuk dengan kerjaan sehingga kurang memperhatikan anak-anaknya, dari kesibukan inilah yang mengakibatkan kurangnya proses dialog dan komunikasi yang baik antara orang tua dan anak. Selain itu, kondisi keluarga yang kurang mampu juga menjadi penyebab kenakalan remaja dikarenakan kurangnya perhatian orang tua karena sibuk mencari nafkah, tidak mampu untuk berekreasi dan kondisi ekonomi juga rumah yang tidak mumpuni. Hal ini lah membuat seorang anak atau remaja itu terjerumus dengan hal-hal yang tidak baik seperti merampok, merokok, mabuk-mabukan, dan tawuran. Kontak sosial dari lembaga masyarakat yang kurang baik juga akan memunculkan tindakan menyimpang terhadap nilai dan norma. Sikap kurang tegas dalam menangani tindakan penyimpangan ini kerap kali gagal dilakukan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas tindak penyimpangan di kalangan anak muda.

Kenakalan remaja juga dapat dikatakan atau digambarkan sebagai bentuk perkembangan anak, pada dasarnya remaja banyak sekali yang gagal pada perkembangannya, keberhasilan dalam pemenuhan perkembangan oleh seorang anak remaja menjadikan remaja sadar dan peka terhadap norma maka dari itu remaja mampu menahan dirinya untuk tidak melakukan perilaku-perilaku sifat buruk, remaja juga harus dapat berfikir positif dalam segala hal dan bertindak secara tidak semena-mena itu merupakan hal kecil yang dapat dilakukan remaja dalam bentuk menahan diri tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran tersebut.


Kenakalan remaja saat ini berdampak pada remaja itu sendiri dan lingkungan sekitar, banyak sekali dampak yang ditimbulkan dari kenakalan remaja. Dampak kenakalan remaja pasti akan berimbas pada remaja tersebut bila tidak cepat ditangani, ia akan tumbuh menjadi sosok yang berkepribadian buruk, remaja yang melakukan kenakalan tersebut pasti akan dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang, remaja tersebut akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna.


Akibat dari dikucilkan ia dari pergaulan sekitar, remaja juga dapat mengalami gangguan kejiwaan. Gangguan kejiwaan bukan berarti gila melainkan ia merasa dikucilkan dalam hal sosialitas oleh orang-orang yang ada disekitarnya.


Untuk mencegah keterlibatan remaja dalam kenakalan, sejumlah bentuk pencegahan kenakalan remaja banyak dilakukan seperti kegiatan bermanfaat di waktu luang, penyebaran brosur mengenai kenakalan remaja, penyusunan kurikulum sekolah yang sesuai, summer school, dsb (Chou & Browne, 2010).


Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa kenakalan remaja sudah terjadi dan penanganan yang dibutuhkan tidak cukup dengan melakukan pencegahan saja. Banyak remaja yang terjerumus tindakan menyimpang dan butuh pertolongan untuk mencegah mereka terlibat kembali meskipun telah diberi penangan dari pihak berwajib.


Untuk itu, penanganan kenakalan remaja bagi mereka yang sebelumnya pernah terlibat dalam tindakan kriminal tidak kalah pentingnya dan perlu menjadi pusat perhatian penuh.

Keluarga menjadi awal dari berkembangnya perilaku anti sosial melalui pengasuhan yang buruk, sikap menyia-nyiakan atau penolakan terhadap anak serta kekerasan dalam keluarga (Chpu & Browne, 2010). Untuk itu dalam menanggulangi kenakalan pada remaja, orang tua harus bisa mengajak anak untuk berkomunikasi dengan membuat kesepakatan bersama. Menciptakan rumah untuk pulang yang nyaman bagi anak.


Selain itu, penting bagi orang tua untuk menciptakan peraturan dan hukuman yang tegas jika anak melanggar kesepakatan, namun perlu diingat bahwa aturan dan batasan itu harus jelas dan masuk akal dengan alasan yang mudah diterima.


Membuat aturan bersama penting agar anak belajar bagaimana berkomitmen atas apa yang telah dibuat dan disetujuinya. Orang tua perlu mengajari remaja bahwa mengungkapkan perasaan, baik positif maupun negatif kepada orangtua adalah hal yang tidak dilarang.


Untuk melakukan pendekatan kepada anak orangtua bisa melakukan yaitu, orang tua bisa membuka percakapan dengan mangajak minum kopi atau teh bersama untuk membuat keduanya lebih santai, menemukan kesamaan antara orang tua dan anak, dengarkan penjelasan tanpa dihakimi ketika melakukan suatu kesalahan dan ingatkan anak jika hal itu memang salah.


Usahakan untuk tidak menghakimi, menghina, menginterupsi, atau mengkritisi saat anak tengah berbicara. Beri tanggapan setelah ia selesai mencurahkan masalahnya, anak hanya ingin dimengerti oleh orang tua dan bernilai dihadapan orang tuanya.


Demikian halnya dengan hasil penelitian dalam negeri yang menyebutkan pentingnya hubungan yang hangat dalam keluarga, seperti saling menghargai, pengertian, penuh kasih sayang, dalam mencegah resiko kenakalan remaja (Mulyasari, 2010).


Dapat dipahami bahwa keluarga adalah tolak ukur dari suatu perilaku anak yang tercipta. Pola asuh keluarga yang baik menghasilkan anak yang memiliki kesadaran yang tinggi akan dirinya dan menghargai dirinya sendiri.


Dengan melakukan pencegahan dan penanggulan ini, seorang remaja akan mengerti dan mengenal dirinya bahwa masa depan bangsa ada di tangannya dan diharapkan kenakalan remaja tidak lagi menjadi suatu keresahan di keluarga, lingkungan sekitar, dan juga sekolah.


Referensi

Kartono, Kartini. (1988). Psikologi Remaja.Bandung: PT. Rosda Karya

Kartono, Kartini. (1992). Patologi Sosial 2: Kenakalan Remaja. Jakarta: Rajawali Press


65 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua