top of page

Kisah Seorang Ksatria Bali Yang Memiliki Dedikasi Tinggi Menjaga Negara dan Presiden

SURABAYA - analisapost.com | Putra Bali yang sederhana itulah kesan pertama terlihat dari seorang Laksamana Pertama TNI (Purn) dr.I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara,Sp.B.,Sp.BTKV (K) lahir di Bali pada tanggal 16 Agustus 1963 di mana tanggal yang mudah di ingat karena selisih 1 hari dengan tanggal Hari Kemerdekaan Indonesia.

Laksamana Pertama TNI (Purn) dr.I Dewa Gede Nalendra Djaya Iswara,Sp.B.,Sp.BTKV (K) (Foto: Div)

Tak heran tanggal itu juga yang menyiratkan sikap seorang kesatria di mana Putra dari Bali ini ternyata masih keturunan keluarga seorang pelaku sejarah dari Peltu (Purn) I Dewa made pegeg, salah satu saksi hidup di pertempuran Laut Arafuru sebagai ABK RI Macan Kumbang ia bertugas sebagai juru mesin dan senjata pada saat itu.


Masa kecil Nalendra nama akrabnya ia lalui dengan penuh perjuangan. Hidup di jaman itu tidaklah mudah. Meskipun ia tergolong anak cerdas dengan latar belakang keluarga seorang anak dari Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, tidak sedikitpun menjadi sombong bahkan terhadap orang-orang yang meminta bantuannya.


Nalendra kecil lalui hidupnya dengan mandiri dan penuh inspiratif. Ia di didik untuk hidup mandiri dengan berjualan pisang goreng. Setelah TK, orang tuanya menitipkan ke pamannya yang tinggal di Banyuwangi. Ia menempuh Sekolah Dasar di bumi Blambangan dan dengan hasil predikat baik, akhirnya bisa melanjutkan sekolahnya melalui jalur beasiswa.


Hampir tidak ada waktu luang yang terbuang dari Nalendra Remaja. Meskipun ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ia rajin membantu pamannya seorang dokter. Ia juga membantu budenya jualan di toko. Nalendra hampir tidak pernah pergi bermain seperti layaknya anak-anak remaja pada umumnya.


Lulus SMA, Nalendra di terima di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya dengan beasiswa Supersemar. Kemudian ia melanjutkan sekolah Perwira Militer Angakatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) yang sekarang lebih dikenal dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI). Meskipun ia di militer, Nalendra tetap memperdalam ilmu kedokterannya dengan masuk di Spesial bedah Umum Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.

Cita-citanya menjadi dokter bermula dari sang ayah. Menurut dia, dokter adalah profesi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Misalnya saat ia di tugaskan di beberapa lokasi konflik di Timor Leste, Ambon, Somalia dan juga saat operasi penanggulangan bencana se Indonesia.


Sosok idialis yang susah-susah gampang di temui ini juga menceritakan kepada awak media Analisa Post saat di temui di kediamannya pada tanggal (05/05/22) hari ke empat setelah lebaran, bagaimana saat ia dipilih menjadi Tim Ahli Dokter Kepresidenan Jokowi.


Hampir setiap minggu dia pulang pergi Istana Negara dan Surabaya karena jabatan yang diembannya tidak saja anggota ahli dokter kepresidenan Jokowi, tetapi dia juga sebagai kepala RSAL dr Ramelan.


Dengan mengenakan kemeja bergaris Biru-Putih tidak jauh dari warna-warna TNI, pria yang selalu tersenyum dengan gayanya yang khas Nalendra kembali menceritakan bagaimana saat ia harus menjaga kesehatan Presiden. Baginya menjaga kesehatan Presiden sama dengan menjaga negara. Pengabdiannya dengan dedikasinya yang tinggi, Nalendra tidak pernah gentar meskipun banyak orang yang tidak menyukainya. Menurut dia, menjadi dokter ahli presiden tidak mudah.


Semua berawal dari saat ketua keprisidenan mencari tim baru. Nalendra dipercaya tergabung dalam tim karena memiliki sertifikasi keahlian dan berasal dari militer. Nalendra mengungkapkan sangat bangga bisa mengemban tugas yang di berikan.


"Saya tentu sangat bangga dan saya anggap sebagai ibadah. Tidak semua orang mempunyai kesempatan seperti ini. Berat itu pasti, karena menjaga kesehatan dan keselamatannya. Kalau terjadi apa-apa, itu sama artinya negara di serang." ujar dokter pria yang di karuniai 2 orang anak dan seorang istri


dr.Nalendra mengatakan sudah banyak tempat ia datangi bersama presiden saat mendampingi Jokowi. "Masyarakat sangat senang kalau ketemu presiden. Jarang ada pemimpin yang mau datang ke daerah terpencil." ujarnya. Sebagai dokter presiden, dirinya cukup dekat dengan Jokowi. Baginya Jokowi memberikan teladan kepadanya."Bapak itu ngak suka yang aneh-aneh. Sukanya minum air putih, tirakatnya kuat. Untuk makannnya dia Solo banget." terang Nalendra sambil tertawa sumringah.


Dokter yang dikenal murah hati ini mengabdi di RSAL selama bertugas, tidak jarang dia mengoperasi pasien tidak mampu secara gratis. Dengan menggunakan dana sendiri, ia juga bekerjasama dengan beberapa media untuk biaya operasi.

Nalendra berusaha untuk selalu meningkatkan mutu layanan RSAL dr Ramelan. Dia juga membangun trauma centre tujuannya menurunkan angka penderita cacat akibat kecelakaan. Ia juga di kenal berhasil dalam menangani dan penyembuhan pasien Covid-19 ketika bertugas di Rumah Sakit Lapangan Indrapura Surabaya. Selama setahun bertugas dengan jabatan Penanggung Jawab RSLI dan Pati Sahli Kasal Bid.Ekojemen di mabes TNI AL.


dr.Nalendra selalu berupaya memberikan dan menyampaikan kondisi sesuai dengan fakta dan data yang ada selama menjadi penanggung jawab RSLI. Dia membeberkan kondisi sesuai data agar penyampaian kebenaran dan kewaspadaan masyarakat dapat terwujud dengan acuan data.


Menurutnya dengan keterbukaan dan transparasi yang dikedepankan, semuanya bisa ditangani dengan baik. Dia juga berpesan kepada awak media Analisa Post sebelum mengakhiri pembicaraannya. "Urip itu urup. Harapan saya bisa bermanfaat untuk Nusantara. itu saja. Kita kibarkan bendera pengabdian untuk bangsa dan negara." tutupnya.(Dna)

1.185 tampilan0 komentar