Menanti Rezeki di Malam Tahun Baru: Kisah Penjual Terompet
- analisapost

- 6 hari yang lalu
- 2 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Menjelang malam pergantian tahun, suasana kota kian padat. Masyarakat disibukkan dengan berbagai aktivitas, mulai dari berkumpul bersama keluarga hingga mendatangi lokasi-lokasi favorit untuk menyambut datangnya tahun baru. Di tengah euforia itu, terompet menjadi benda yang nyaris selalu hadir sebagai penanda pergantian waktu.

Di sejumlah ruas jalan pusat kota, para penjual terompet tampak berjejer. Sebagian besar berusaha menarik perhatian dengan meniup terompet keras-keras agar dagangan mereka dilirik pembeli. Namun pemandangan berbeda terlihat di salah satu sudut jalan, tak jauh dari kawasan Kota Lama. Seorang bapak penjual terompet tampak duduk sendiri, memilih diam sambil menunggu pembeli datang.
Awak media AnalisaPost mencoba mendekat dan berbincang. Bapak tersebut mengaku berasal dari Desa Sukodadi, Kabupaten Lamongan. Ia telah menekuni usaha musiman ini sejak puluhan tahun lalu. āPersiapan jualan sudah saya lakukan sejak seminggu lalu. Saya mulai jual terompet dari tahun 1985,ā ujar pak Saib.
Keinginan untuk mengikuti tren terompet plastik yang kini lebih diminati bukan tidak ada. Namun keterbatasan modal membuatnya bertahan menjual terompet kertas.
āKalau mau beralih ke yang modern, saya tidak punya modal,ā katanya. Saat ini, ia tinggal di indekos kawasan Pesapen, Surabaya, dan sehari-hari berjualan mainan anak-anak.
Pada malam itu, ia membawa sekitar 100 terompet kertas. Hingga ditemui, baru 40 terjual. Ketika ditanya alasan tidak menjual terompet plastik seperti pedagang lain, ia menjawab sederhana.
"Modal saya tidak cukup. Kalau terompet ini tidak habis, saya bawa pulang dan saya bungkus rapi pakai plastik,ā tuturnya.
Selama empat hari terakhir, ia berkeliling Surabaya menawarkan dagangan serupa. Hasil penjualan pun belum banyak berubah. āCuma laku sekitar 40 biji,ā katanya sambil tersenyum kecil. Di balik tawanya, terlihat jelas gurat usia di wajahnya, seakan menyimpan lelah dan keprihatinan yang ia pendam.
"Bisa laku saja sudah bersyukur," ujarnya menutup cerita.
Di tengah kemeriahan malam tahun baru, kisah penjual terompet ini menjadi potret lain kehidupan kota. Saat sebagian orang merayakan dengan sukacita, ada pula mereka yang berjuang dalam senyap, menggantungkan harapan pada setiap terompet yang terjual.(Che)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar