top of page

Menggali Legenda Banyuwangi Lewat Aekanu Hariyono

BANYUWANGI - analisapost.com | Cerita Sri Tanjung bukan hanya tentang percintaan, tetapi ada makna yang terkandung di dalamnya. Menurut Aekanu Haryono seorang pakar dan budayawan saat awak media Analisa Post bertemu di pasar Kampung Osing Kemiren, Aekanu mengajak keliling di kampung Osing. Pertemuan yang sangat singkat namun memiliki sejuta cerita yang tak habis di dengar. Jumat (04/02/22)

Aekanu Haryono seorang pakar dan budayawan, Minggu,27/12/21 (Foto: Div)

Saat kembali berjumpa di tengah kebun kopi mas Imam, yang biasa di sebut Omah Kopi, ia mengatakan, kisah Sri tanjung digambarkan dalam relief candi untuk menekankan soal pembebasan spiritual. Hal ini terbukti dari betapa populernya kisah itu. Tak heran, kisah Sri Tanjung hingga kini sering dibawakan dalam tradisi ruwatan di Jawa. Kisah ini dipercaya menjadi simbol melepas segala bentuk perbuatan jelek, malapetaka, hal kotor yang bersifat duniawi menuju kondisi kembali suci.


Diceritakan oleh pria yang penuh wibawa ini, kisah Sri Tanjung yang sedang menanti Sidapaksa pulang. Suaminya telah sepekan pergi ke surga demi menjalankan perintah Prabu Hadikrama. Namun bukannya berbalas rindu, Sri tanjung justru ketakutan karena suaminya pulang dengan amarah.


Menurut Sidapaksa, Raja Sulakrama telah memergoki Sri Tanjung bermesra dengan laki-laki lain ketika ia bertugas. Sidapaksa tetap tak percaya ketika Sri Tanjung memberitahukan bahwa justru Raja Sulakrama yang hendak memperkosanya.

Lanjut Aekanu bercerita, singkat cerita Sri Tanjung diajak ke hutan Setra Gandamayu. Rambutnya ditarik dari belakang di tangan kanan suaminya, tergenggam sebilah keris.


"Apabila darah saya berbau harum, maka benarlah kalau saya istri yang betul-betul setia kepada suami." ucap Sri Tanjung sebelum keris sang suami membunuhnya.


Darah Sri tanjung ternyata wangi. Sidapaksa langsung menyadari kesalahannya dan menyesal. Ia menjadi gila, memohon kepada dewa agar istrinya dihidupkan kembali.


Jiwa Sri tanjung ketika itu mencapai alam kematian. Ia telah menyebrangi sungai dibantu seekor buaya putih.


Begitulah sepenggal kisah mengenai Sri Tanjung yang di sampaikan Aekanu kepada awak media Analisa Post di Omah Kopi sambil menikmati kopi di tengah gerimisnya hujan siang itu. Tempat pavorite seorang Aekanu yang di segani oleh masyarakat Banyuwangi.


Jika diambil kesimpulan bahwa Pembebasan jiwa adalah topik utama dalam berbagai hal. Jelas dikatakan bahwa kepercayaan itu sangat penting selain kejujuran. Karena norma-norma itu, tata krama, etika sudah mulai pudar di era milenial ini.


Disampaikan bahwa melihat cerita tersebut, merupakan simbol penyucian dimana kisah Sri Tanjung ini bisa sebagai pengantar ketika para wisatawan datang berkunjung ke candi. Terlebih lagi akan memikat para wisatawan sebelum mereka menyelami cerita lainnya yang mempunyai makna spiritual.

"Kisah ini saya temukan dalam sejumlah relief candi seperti Candi Jebung di Probolinggo, Surowono dan Tegowangi, Kediri, Penataran, Blitar, dan Bajangratu, Mojokerto itu untuk yang di Jawa Timur. Sedangkan yang di luar Jawa Timur ada di daerah Sudomolo jawa Tengah. dan sejumlah naskah kuno di temukan di Bali maupun Banyuwangi" ujar Aekanu sambil membenahi udeng batik yang ia kenakan. Minggu (27/12/21)


"Kisah Sri Tanjung saya tulis secara utuh dilengkapi dengan ilustrasi setiap lembarnya setebal 200 halaman dengan enam bahasa mulai dari bahasa Indonesia, Osing, Jawa, agar mudah dibaca oleh berbagai kalangan. Saya juga menuliskan menggunakan bahasa Inggris, Prancis dan Spanyol."terangnya sambil tersemnyum sumringah.


Pria ini berharap kisah legenda Sri Tanjung, masyarakatnya tidak hanya sebatas Banyuwangi saja yang mengetahui tetapi juga berharap bisa diperkenalkan pada dunia. Saat ini Banyuwangi telah berubah dan berkembang pesat seiring perkembangan tekhnologi digital.


Dengan demikian Banyuwangi yang menyimpan sebuah misteri berikut cerita legenda tidak lagi dikenal karena ilmu santetnya bahkan sempat viral gara-gara tulisan mengenai desa penari di mana banyak mahasiswa yang sedang melakukan KKN di sebuah desa hilang tak berbekas. Tetapi kini Banyuwangi bisa dikenal karena wisata dan budayanya.(Che/Dna)


380 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua