Rocky Gerung dan Risma Bahas Demokrasi dan Humanisme Kota Bersama Anak Muda Surabaya
- analisapost

- 1 hari yang lalu
- 3 menit membaca
SURABAYA - analisapost.com | Ribuan anak muda memadati Balai Pemuda Surabaya untuk mengikuti Public Lecture Series. Talkshow bertajuk Spirit of Humanity and Human Solidarity: Kemanusiaan dan Tata Peradaban Kota yang digelar, Sabtu (17/1/2026), menjadi ruang refleksi bersama bagi generasi muda tentang pentingnya nilai kemanusiaan sebagai dasar pembangunan kota.

Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir acara. Ruang Balai Pemuda dipadati ratusan hadirin, bahkan sebagian peserta memilih duduk di lantai demi mengikuti jalannya diskusi.
Kegiatan yang digagas gerakan kepemudaan Pandu Negeri ini menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan lokal, di antaranya pengamat politik Rocky Gerung, Menteri Sosial Tri Rismaharini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, serta akademisi Universitas Airlangga, Airlangga Pribadi Kusman. Diskusi tersebut diikuti ribuan anak muda, sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa.
Forum diskusi dibuka oleh Rocky Gerung yang melontarkan kritik tajam terhadap pertemuan sekitar 1.200 guru besar dengan Presiden Prabowo Subianto. Rocky menilai kaum akademisi gagal menunjukkan sikap kritis, khususnya terkait isu pergeseran anggaran pendidikan. "Tidak satu pun guru besar berani mengangkat tangan untuk bertanya. Apa hasil pertemuan itu? Zonks,” ujar Rocky.
Rocky juga menyinggung sejumlah isu nasional, termasuk kritik terhadap pertemuan guru besar dengan Presiden serta wacana pengembalian pemilihan kepala daerah melalui DPRD.
Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi merusak kualitas kepemimpinan dan menutup ruang dialog publik, terutama bagi generasi muda. "Demokrasi memang mahal, tetapi jangan dibuat murah dengan menjual kepentingan rakyat melalui tebalnya amplop,” tegasnya.
Dalam talkshow Rocky Gerung menilai nilai kemanusiaan tercermin dari keterbukaan dialog antara pemimpin dan masyarakat. Menurutnya, hilangnya sekat komunikasi memungkinkan evaluasi berjalan dua arah dan mendorong kemajuan pembangunan yang lebih bermakna.
"Tugas pemimpin bukan hanya memberi makan siang gratis, tetapi memberi makan pada batin dan pikiran manusia. Surabaya tampaknya telah bergerak ke arah itu,” ujarnya.
Rocky juga menegaskan pentingnya nilai solidaritas kemanusiaan dan prinsip kemanusiaan sebagai fondasi berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menyebut semangat kemanusiaan sebagai kepekaan terhadap sesama yang perlu terus ditanamkan, terutama kepada generasi muda. “Kegiatan seperti ini penting sebagai investasi di bidang kemanusiaan,” ujarnya.
Sementara itu, Tri Rismaharini berbagi pengalamannya selama menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Ia mencontohkan kebijakan memperbanyak ruang terbuka hijau dan taman kota. Menurutnya, keberadaan taman tidak hanya menambah oksigen, tetapi juga berkontribusi menurunkan tingkat emosi masyarakat.
Risma juga menceritakan pengalamannya saat bertugas ke Papua sebagai Menteri Sosial. Dengan pendekatan humanis, ia mengaku diterima dengan baik oleh masyarakat setempat.
"Pendekatan kemanusiaan membuka jalan dialog. Kalau kita baik kepada orang lain, orang lain akan baik kepada kita,” kata Risma. Ia mengajak generasi muda untuk terus berpegang pada Pancasila dan melanjutkan semangat perjuangan para pendahulu.
"Kalau kita jatuh, kita harus bangkit. Kita buktikan bahwa kita adalah anak dan cucu para pejuang yang tidak pernah takut,” pungkasnya.
Dalam sambutannya, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi menegaskan bahwa kemajuan Surabaya tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, kecintaan warga terhadap kota serta keterbukaan pemerintah menjadi kunci utama tumbuhnya kepercayaan publik.
Transparansi, kata Eri, berperan penting dalam pengelolaan lingkungan, relasi antar suku dan ras, hingga membangun kepedulian kolektif dalam pembangunan kota.
"Surabaya dibangun dengan semangat kemanusiaan yang inklusif, sejalan dengan sila kedua Pancasila dan ajaran Bung Karno. Wali kota yang sesungguhnya adalah masyarakat Surabaya," ujar Eri.
Ia menekankan pentingnya menanamkan nilai Pancasila kepada generasi muda agar tidak berhenti sebagai slogan, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata. Eri juga menyatakan komitmennya untuk melibatkan masyarakat secara lebih luas, termasuk menggandeng sektor swasta, dalam pembangunan kota.
Pandangan tersebut diperkuat oleh akademisi Airlangga Pribadi Kusman. Mengutip pemikiran Bung Karno, ia menjelaskan bahwa peradaban hanya dapat berjalan sehat apabila tata kelola politik dan tata kelola kota dijalankan secara manusiawi.

Airlangga mencontohkan kebijakan penanaman mangrove yang dilakukan Tri Rismaharini saat menjabat sebagai Wali Kota Surabaya. Meski tampak sederhana, kebijakan tersebut berdampak luas, mulai dari pencegahan abrasi, peningkatan kualitas udara, hingga perbaikan kondisi psikologis warga.
"Ketika kondisi psikologis masyarakat membaik, angka kriminalitas menurun dan produktivitas meningkat. Di situlah indeks kemanusiaan tumbuh,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan Surabaya tidak lepas dari peran pemerintah sebagai konduktor yang mampu mengorkestrasi kolaborasi lintas kelompok masyarakat sehingga tercipta harmoni pembangunan berkelanjutan.
Ketua Penyelenggara Pandu Negeri, Aryo Seno Bagaskoro, mengatakan forum ini lahir dari kegelisahan anak muda terhadap berbagai ketidakpastian global, mulai dari dinamika geopolitik, krisis lingkungan, hingga persoalan tata kota. Menurutnya, kegiatan ini bukan hasil mobilisasi massa, melainkan inisiatif generasi muda yang mencari jawaban atas persoalan zaman.
“Forum ini bukan diselenggarakan oleh lembaga tertentu, melainkan muncul dari semangat anak-anak muda yang sedang mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mendasar kehidupan hari ini,” ujarnya. Antusiasme peserta pun terbilang tinggi. Dari 750 kursi yang disediakan panitia, seluruhnya terisi penuh hanya dalam dua hari setelah pendaftaran dibuka.(Che)
Dapatkan update berita pilihan serta informasi menarik lainnya setiap hari di analisapost.com





Komentar